Keunikan Bahasa dan Cerita Ludruk Dari Jawa Timur

Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan
Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan

Halo kawan blogger pembaca blog The Jombang Taste! Artikel kemarin sudah membahas asal-usul kesenian Ludruk dari Jombang. Namun, tahukah Anda bahwa pertunjukan ludruk mempunyai ciri khusus? Yaitu pemain ludruk semuanya terdiri dari laki-laki, baik untuk peran laki-laki sendiri maupun untuk peran wanita. Pertimbangan awalnya adalah wanita tidak boleh bergaul dengan lelaki yang bukan muhrimnya sesuai ajaran agama Islam. Kabupaten Jombang adalah salah satu pusat persebaran agama Islam di Jawa Timur.

Dalam perkembangan pelaku seni ludruk, para seniman ludruk pria yang berperan wanita biasanya akan membentuk kelompok tersendiri sesuatu kecenderungan tingkah laku mereka. Sebagian dari mereka mampu bersikap profesional dan tidak terbawa sifat feminim. Namun sebagian seniman lainnya membawa karakter kewanita-wanitaan dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita kesenian Ludruk dibedakan menjadi dua macam, yaitu cerita pakem dan cerita fantasi. Cerita pakem adalah cerita pertunjukan drama ludruk di atas panggung mengenai tokoh-tokoh terkemuka dari wilayah Jawa Timur. Contoh cerita pakem adalah kisah Cak Sakera dan Sarip Tambak Oso, Sogol Sumur Gemuling, Joko Sambang, Sawunggaling, dan lain-lain.

Sedangkan cerita fantasi adalah cerita karangan individu tertentu yang biasanya berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Untuk menarik minat penonton pertunjukan ludruk, cerita fantasi dikembangkan sesuai dengan tema terkini yang sedang berkembang di masyarakat.

Bahasa Suroboyoan Lugas dan Tegas

Lakon yang dipentaskan dalam kesenian tradisional ludruk terdiri dari dua macam, yaitu lakon pakem dan lakon fantasi. Lakon pakem diambil dari watak tokoh bersejarah dalam seni budaya Jawa. Sedangkan lakon fantasi meliputi lakon horor dan drama rumah tangga. Jenis lakon fantasi lebih disukai penonton karena variasi cerita yang lebih menarik. Cerita dalam pertunjukan ludruk biasanya diselingi dengan adegan tragedi dan humor.

Percakapan dalam ludruk dapat berupa dialog beberapa orang maupun monolog (percakapan sendiri). Dialog ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. Bahasa yang digunakan dalam ludruk adalah bahasa khas Surabaya, meski terkadang menampilkan bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madiun, dan Madura yang memiliki logat berbeda.

Bahasa ludruk adalah bahasa lugas dan menjadikan kesenian ini sangat disukai oleh masyarakat berbagai kalangan, mulai dari tukang becak, sopir angkutan umum, ibu rumah tangga, dan lain-lain. Penggunaan bahasa intelek hanya sedikit sekali, itupun hanya sebagai pelengkap kegiatan melawak.

Pertunjukan kesenian ludruk biasanya dilakukan pada malan hari di tanah lapang. Masyarakat setempat akan berbondong-bondong menonton pertunjukan bersama keluarga dengan menggelar tikar. Kegiatan pagelaran seni ludruk secara tidak langsung turut membantu proses sosialisasi warga. Semoga artikel ini bisa memberi tambahan wawasan Anda dalam mengenal kebudayaan Jombang dan Jawa Timur.

Referensi: Medali MGMP Kabupaten Jombang

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

5 thoughts on “Keunikan Bahasa dan Cerita Ludruk Dari Jawa Timur”

  1. Walaupun bahasa Jombangan agak kasar, saya suka sifat keterbukaannya. Berbicara sesuai dengan kenyataan sekarang sungguh langka terjadi. Tetap posting mas. Saya suka blog ini. Simpel dan bernas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *