Mengenal Pranata Mangsa, Ketentuan Musim Bercocok Tanam Menurut Penanggalan Jawa

Bagan Pranata Mangsa karya Susuhunan Pakubuwana VII yang digunakan sebagai ketentuan musim bertanam bagi petani Jawa
Bagan Pranata Mangsa karya Susuhunan Pakubuwana VII yang digunakan sebagai ketentuan musim bertanam bagi petani Jawa

Apa kabar kawan blogger Jombang? Tahukah Anda bahwa masyarakat Jawa sejak dulu telah memiliki ketentuan musim bercocok tanah yang disebut Pranata Mangsa. Menurut aturan pranata mangsa, mengerjakan tanah untuk keperluan pertanian tidak dapat hanya dilakukan dengan semaunya. Kegiatan bertani tidak cukup dengan tenaga dan kemauan saja. Petani harus tahu bagaimana keadaan tanah yang baik. Petani juga harus mengetahui dengan tepat waktu yang sebaik-baiknya untuk bertanam. Demikian juga jenis tanah yang bisa ditanami, jenis tanaman, dan begitu seterusnya.

Apabila segala sesuatu tidak dipilih secara tepat, tak akan mungkin diperoleh hasil panen yang memuaskan. Pada umumnya, para petani mengerjakan tanahnya secara rutin. Baik menurut jenis tanah, jenis tanaman maupun keadaan musim. Misalnya, petani menanam kacang-kacangan dan palawija pada tanah berpasir. Sedang waktu menanam mereka pilih permulaan atau akhir musim hujan.

Lain lagi untuk jenis tanah liat, petani dapat menanaminya dengan padi. Waktu tanam juga tak perlu dipilih benar asal air selalu cukup. Memang benar, hasil panen itu akan baik bila dikerjakan dengan tekun dan teliti. Tetapi, jika bertani itu dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang tepat, akan meringankan biaya dan tenaga, serta dapat diperoleh hasil yang lebih memuaskan.

Waktu untuk mengerjakan tanah, banyak kaitannya dengan musim bertanam. Dalam hal ini, para petani kita telah memiliki perhitungan musim bertanam, yaitu yang dikenal dengan sebutan pranata mangsa. Pranata Mangsa diciptakan oleh Susuhunan Pakubuwana VII. Menurut perhitungan pranata mangsa ini, masa bercocok tanam terdiri dari dua belas musim atau mangsa. Yaitu: mangsa kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, kesebelas, hingga keduabelas.

Tetapi pada waktu ini, para petani banyak yang telah menggunakan perhitungan berdasarkan tahun kalender daripada pranata mangsa. Para petani di pedesaan, sudah sejak dahulu mengenal dan menggunakan perhitungan berdasar pranata mangsa. Oleh karena itu, bagi telinga petani tradisional, kata-kata seperti musim ketiga, musim labuh, musim rendeng (musim penghujan) atau musim kemareng itu lebih mantap untuk digunakan sebagai patokan atau ancar-ancar waktu bertanam.

Perhitungan pranata mangsa merupakan warisan dari nenek-moyang kita, jadi benar-benar penemuan perhitungan asli Indonesia. Oleh karena itu, pranata mangsa ini telah mendasari semua kegiatan serta kehidupan rakyat pedesaan. Disamping sebagai dasar perhitungan musim tanam, pranata mangsa juga dapat dipakai sebagai pedoman kehidupan rumah tangga serta tujuan hidup. Misalnya, boyongan atau berpindah rumah pada waktu musim ketiga adalah tidak baik, bahkan sering dianggap tabu.

Pranata Mangsa Lan Candrane

Pranata mangsa juga berguna untuk mengetahui candrane awak. Terdapat mitos bahwa seorang bayi yang dilahirkan pada musim kesepuluh, dianggap mempunyai pembawaan picik dan tidak jujur. Oleh karena itu, bayi tersebut memerlukan asuhan yang baik dan hati-hati. Membangun rumah dan menaikkan atap rumah dalam musim kedelapan juga tidak baik karena penghuninya akan mudah bersengketa sesamanya, bahkan akan dapat menimbulkan perceraian.

Pranata mangsa lan candrane awak berhubungan erat dengan nada dina, naga sasi dan naga taun. Bagi masyarakat Jawa yang memahami pitungan dina, mereka tidak akan melakukan kegiatan penting pada waktu-waktu yang dilarang. Memang, sepintas lalu, semua itu berbau tahayul namun dalam kenyataannya mendekati kebenaran. Nasehat nenek moyang mengenai pranata mangsa telah diteliti oleh para ilmuwan dari Jerman dan diakui kebenarannya.

Menurut beberapa orang sarjana, pranata mangsa ini masih memiliki unsur-unsur yang positif untuk bahan penelitian secara ilmiah. Sebab, jika ditelusuri secara mendalam, dengan menggunakan dasar-dasar ilmu klimatologi, akan lebih banyak manfaat yang dapat dipetik bagi kehidupan masyarakat di pedesaan. Terutama sekali untuk memilih jenis tanaman pada musim-musim tertentu.

Walaupun kita mengenal dua macam perhitungan waktu bertanam, tetapi perbedaannya tidak seberapa. Dengan memperhitungkan keadaan musim tersebut di atas, misalnya untuk tanah kering, waktu bertanam dapat dijatuhkan pada musim hujan sehingga tanah sudah dapat mulai dikerjakan pada waktu hujan-hujan yang pertama mulai jatuh.

Untuk tanah basah, misalnya tanah yang mendapatkan air dari irigasi, dapat dipilih waktu yang terbaik untuk bertanam. Dengan memperhitungkan waktu bertanam, petani masih perlu merencanakan tanaman jenis apa untuk musim tersebut. Setelah itu, tanah yang akan dikerjakan terlebih dahulu disiapkan. Menanam yang sembarangan tidak akan memberikan hasil, malah menghabiskan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.

Masyarakat Jawa terbiasa menyiapkan segala sesuatu dengan cermat. Sisa-sisa tanaman panen yang telah dikerjakan dipotong dan dibakar. Rumput-rumputan juga dibersihkan. Pohon-pohon di pematang dipangkas ranting-rantingnya. Pohon-pohon ini tak perlu ditebang. Kayunya sangat diperlukan sebagai penahan angin atau pagar. Ada juga yang memang berguna untuk pupuk hijau, misalnya pohon turi.

Demikian ulasan The Jombang Taste mengenai pranata mangsa musim bertanam yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Jawa. Semoga artikel pertanian ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Pratignyo, S.J. 1984. Tumbuh Pada Tanah Dan Tumbuh Tanpa Tanah. Jakarta: CV. Karya Indah.

Bagikan artikel ini melalui:

5 Replies to “Mengenal Pranata Mangsa, Ketentuan Musim Bercocok Tanam Menurut Penanggalan Jawa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *