Merawat Tradisi Weweh di Tengah Wabah Virus Corona

Kuliner nasi kuning dan ayam bumbu bali.
Kuliner nasi kuning dan ayam bumbu bali.

Seorang anak membawa rantang dan memasuki ruang tamu rumah penulis. Dia memberi salam dengan semangat. Kemudian diberikan tumpukan rantang dalam genggaman  kepada penulis. Ternyata isi rantang itu adalah nasi kuning dan lauk khas Jawa. Makanan itu diberikan sebagai bagian dari kegiatan weweh atau ater-ater. Makanan Khas Jawa Untuk Kenduren kadang dihadirkan di bulan puasa ini. Weweh adalah tradisi berkirim makanan oleh masyarakat muslim Jawa yang dilakukan pada salah satu hari dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Usai memindahkan makanan dari rantang ke piring di dapur, penulis pun mengembalikan rantang itu kepada anak kecil pembawanya. Tak lupa, selembar uang sepuluh ribu penulis berikan kepada anak itu. Dia menyambut dengan hati riang gembira. Itulah salah satu acara yang paling ditunggu oleh anak-anak ketika datang bulan Ramadhan. Penulis pun semasa kecil selalu berebut berkirim weweh dengan kakak. Harapannya tak lain adalah supaya mendapat uang saku. Lumayan untuk tambahan uang jajan.

Tradisi weweh umumnya dilakukan oleh keluarga muda dengan cara mengirimkan makanan atau paket sembako kepada keluarga yang lebih tua. Misalnya, seorang anak yang telah berumah tangga dan memiliki rumah sendiri maka akan melaksanakan weweh dengan cara mengirim makanan ke rumah orang tuanya yang berbeda tempat tinggal. Jika anak dan orang tua tinggal di rumah yang sama maka tidak perlu berkirim weweh. Tradisi ini juga disebut ater-ater dan telah berlangsung secara turun temurun di kalangan masyarakat muslim Jawa, tak terkecuali di wilayah kabupaten Jombang. 

Contoh Perbuatan Berbakti Kepada Orang Tua dan Guru
Mencium Tangan Contoh Perbuatan Berbakti Kepada Orang Tua dan Guru

Kendati saat ini telah berlangsung pandemi virus Corona di wilayah Kabupaten Jombang, masih saja tradisi weweh ini masih berlangsung dan dilestarikan oleh masyarakat muslim. Tradisi weweh bertujuan untuk melakukan sedekah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Penerapan tradisi weweh berbeda di masing-masing desa di wilayah Kabupaten Jombang, misalnya Pemerintah Desa Jatipelem Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang secara terang-terangan mengumumkan pelarangan untuk warga melakukan tradisi weweh dan silaturahmi tatap muka di hari raya Idul Fitri. Kebijakan ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan penularan virus Corona yang lebih luas. 

Tradisi weweh berlangsung di tempat tinggal penulis yang berada di wilayah Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Selama sepekan terakhir ini jalan-jalan desa dipenuhi oleh anak-anak kecil yang membawa rantang ataupun kotak putih yang berisi makanan. Tak jarang, anak-anak itu ditemani oleh orang tua mereka untuk membagikan puluhan nasi nasi kotak kepada kerabat yang berada di lingkungan tempat tinggal yang berada di satu kelurahan atau desa yang sama. Tradisi weweh hanya berlaku untuk keluarga yang tinggal di desa yang sama. Sementara itu, untuk anggota keluarga atau kerabat yang berada di luar desa, umumnya mereka tidak melakukan weweh dengan alasan keamanan.

Jombang Ubah Gedung Sekolah Dasar Jadi Posko Pencegahan Wabah Virus Corona.  Keberadaan Posko Tanggap Corona di berbagai desa di wilayah Kabupaten Jombang cukup efektif dalam memantau mobilisasi masyarakat yang masuk dan keluar ke desa-desa itu. Kewajiban melapor ke posko ini berlaku pula bagi warga yang melaksanakan tradisi ater-ater atau weweh ke desa tetangga. Setiap warga pendatang yang masuk ke sebuah desa harus lapor ke Posko tanggap Corona sebagai upaya melakukan perlindungan terhadap warga dari kemungkinan terpapar virus Corona.

Cara rapid test corona secara online dengan aplikasi Halodoc (1)
Halaman depan Halodoc. Cara rapid test corona secara online dengan aplikasi Halodoc.

Mengapa warga masih menunjukkan antusiasme tinggi untuk melakukan tradisi weweh sementara pandemi Covid-19 masih berlangsung? Alasan utama adalag tidak ada yang bisa melarang warga kampung untuk melaksanakan weweh atau ater-ater ke rumah keluarga mereka mengingat kebiasaan ini telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun. Tradisi weweh dianggap masyarakat sebagai kearifan lokal yang berguna dalam menjalin silaturrahim dan kerukunan warga. Selain itu, ada anggapan bahwa tradisi weweh merupakan salah satu bentuk bakti anak kepada orang tua atau bentuk kerukunan saudara muda kepada saudara yang lebih tua. Keluarga yang tidak menjalankan tradisi weweh umumnya dilatarbelakangi karena keterbatasan ekonomi dan hal ini jarang sekali terjadi mengingat masyarakat muslim Jawa selalu mengutamakan memberi kepada orang lain. 

Alasan lain mengapa warga masih mau melestarikan tradisi weweh adalah karena mereka menjalankan protokol kesehatan dalam kegiatan weweh. Mereka rajin mencuci tangan, memakai masker, menghindari kontak fisik, dan melakukan social-distancing. Selain itu, masyarakat juga sudah paham cara mendeteksi kemungkinan terpapar virus corona sejak dini. Misalnya Rapid Test Corona Bisa Dilakukan Secara Online, Caranya Mudah Kok! Wawasan ini telah mereka lakukan dan cukup membantu masyarakat memutus rantai pandemi.

Terlepas dari protokol kesehatan yang berlaku selama pandemi Covid-19 di Kabupaten Jombang, tradisi weweh akan terus berlangsung selama masyarakat masih memiliki kesadaran untuk merawat nilai-nilai moral dari aktivitas saling berkirim makanan kepada kerabat dan sanak saudara. Hanya saja prakteknya dapat bervariasi di desa-desa yang berbeda. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi kita semua untuk tetap berperilaku taat kepada protokol kesehatan selama menjalankan silaturahim di bulan Ramadhan dan bulan Syawal mendatang.

Bagaimana dengan pengalaman Anda mengikuti tradisi weweh ataupun tradisi berkirim makanan di desa Anda? Apakah saat ini masih berlangsung tradisi weweh di lingkungan tempat tinggal Anda?  Silakan berbagi cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Merawat Tradisi Weweh di Tengah Wabah Virus Corona”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *