Perkembangan Kesenian Tradisional Ludruk Dari Masa Ke Masa

Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung

Hai sobat blogger pembaca setia blog The Jombang Taste! Pada artikel sebelumnya kita telah membahas asal usul kesenian Ludruk Jawa Timur yang berasal dari kesenian Lerok. Ludruk merupakan kesenian asli Jawa Timur yang berupa seni teater dengan pesan moral yang mendalam. Artikel seni budaya kali ini akan membahas sejarah perkembangan seni tradisional Jawa Timur ini dari waktu ke waktu.

Kesenian Lerok terus berkembang seiring dengan perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Menurut perkembangannya, kesenian Ludruk yang disebut Lerok dapat dibagi menjadi beberapa periode, yaitu:

  1. Periode Lerok Ngamen (1907-1915)

Pada masa awal ini, ludruk dirintis oleh Pak Santik, seorang petani kecil yang humoris dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Pada tahun 1907, Pak Santik mulai beralih profesi dari petani menjadi seniman pengamen yang diiringi musik lisan atau musik mulut.

Bersama kawannya, Pak Santik sepanjang tahun 1907-1915 ngamen dengan penampilan wajah yang dirias lucu dengan model coretan atau lorek-lorek. Kata lorek inilah yang mengalami perubahan cara mengucap menjadi lerok.

Sebuah parikan, pantuan bahasa Jawa, yang terkenal dari para pengamen Lerok ngamen waktu itu adalah: “keyong nyemplung blumbang, tinimbang nyolong aluwung mbarang”. Artinya: kerang masuk ke dalam kolam, daripada mencuri lebih baik mengamen.

  1. Periode Lerok Besut (1915-1920)

Kesenian Lerok yang berasal dari ngamen tersebut mendapat sambutan meriah dari penonton. Dalam perkembangannya, jenis kesenian ini sering diundang oleh masyarakat untuk mengisi acara pesta pernikahan dan pesta rakyat lainnya.

Pertunjukan kesenian Lerok kemudian terdapat perubahan terutama pada acara yang disuguhkan. Pada awal acara diadakan upacara persembahan. Persembahan tersebut berupa penghormatan ke empat arah penjuru angin atau empat kiblat. Setelah penghormatan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan utama.

Pemain utama memakai topi merah khas Turki, tanpa atau memakai baju putih lengan panjang, dan memakai celana setelan warna hitam. Dari sinilah berkembang akronim “mbeto maksud” artinya membawa maksud, yang akhirnya mengubah sebutan Lerok menjadi Lerok Besutan.

  1. Periode Ludruk (1920-1930)

Periode Lerok Besutan berkembang sangat baik sampai dengan tahun 1930. Setelah itu banyak bermunculan kelompok seniman ludruk di Jawa Timur. Istilah ludruk sendiri lebih banyak ditentukan oleh masyarakat yang telah memecah istilah lama, Lerok. Nama Lerok dan Ludruk terus berdampingan sejak kemunculannya sampai tahun 1955 para seniman memilih nama ludruk untuk pertunjukan mereka.

Pada tahun 1933 Cak Durasim, seniman yang berasal dari Jombang, mendirikan Ludruk Organization (LO). Ludruk inilah yang merintis pementasan ludruk berlakon dan bersikap berani dalam mengkritik Pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang di Indonesia. Sebuah tindakan yang berani untuk ukuran waktu itu.

Ludruk pada masa Cak Durasim berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada masyarakat. Kesenian ludruk digunakan oleh para seniman untuk menyampaikan pesan-pesan persiapan kemerdekaan Republik Indonesia. Nasionalisme berbudaya berkembang ke arah nasionalisme perjuangan mencapai kemerdekaan.

Puncak peristiwa perjuangan pelaku kesenian ludruk adalah ketika muncul kidungan jula-juli yang menjadi legenda, yaitu: “Pagupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro”. Artinya: Pagupon rumah burung dara, ikut Nipon (Jepang) tambah sengsara. Akibat propaganda persiapan kemerdekaan RI ini, maka Cak Durasim dan kawan-kawan seniman Ludruk lainnya ditangkap dan dipenjara oleh Pemerintah kolonial Jepang.

Itulah sejarah perkembangan kesenian ludruk dari Jawa Timur. Setiap daerah di Jawa Timur mungkin memiliki cerita yang berbeda dan unik dalam hal ini. Ayo berbagi pengalaman Anda ketika menyaksikan seni pertunjukan Ludruk!

Referensi: Medali MGMP Kabupaten Jombang

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *