Perkembangan Seni Tradisional Coke’an di Jombang Dari Masa Ke Masa

Halo blogger Jombang! Semoga hari ini Anda membaca artikel seni budaya ini dalam keadaan baik-baik saja. Pada artikel sebelumnya saya telah membahas sejarah kesenian coke’an yang berkembang di Jombang. Bagaimanakah perkembangan seni tradisional coke’an sampai hari ini? Apakah masih ada anak muda Jombang yang mengenal seni coke’an di tengah serbuan budaya modern?

Seiring dengan perkembangan waktu, masyarakat pecinta seni coke’an menyadari bahwa peralatan yang digunakan dalam pertunjukan coke’an masih kurang sempurna. Oleh karena itu, mereka menambahkan satu alat musik lagi, yaitu gender. Perubahan lain adalah alat musik gong logam diganti dengan alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul layaknya gong dari logam.

Pemakaian alat musik dari bambu dipilih karena tidak semua masyarakat Jawa mampu membuat alat musik gong yang terbuat dari logam. Dengan demikian, sebuah pertunjukan kesenian tradisional coke’an memiliki peralatan musik lengkap yang meliputi: kendang, siter, gender, gong dari bumbung atau bambu, dan seorang pesinden. Alat-alat musik Jawa tersebut mudah dibuat karena bahan yang digunakan bisa ditemukan dengan mudah di sekitar rumah.

Pertunjukan Rutin Seni Tradisional Coke’an

Lagu-lagu daerah (gending) yang dimainkan oleh seniman coke’an pada awalnya merupakan tembang tradisional Jawa. Antara lain: mijil, sinom, asmorodono, dandang gula, megatruh, pucung, dan lain-lain. Tembang-tembang Jawa tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi. Seiring dengan perkembangan gending-gending Jawa modern, kesenian tradisional coke’an mulai memainkan beberapa tembang Jawa yang populer di kalangan masyarakat.

Perkembangan seni tradisional coke’an di Jombang pada era modern terjadi pada tahun 2003 lalu. Pada tanggal 21 Juni 2003 berdiri sebuah kelompok seniman coke’an yang bernama ‘Renggo Wiromo’ di Jombang. Para penggiat seni tradisional coke’an ini dipimpin oleh Bapak Sony, suami Dokter Agata yang bertugas di RSUD Jombang. Kesenian Grup musik tradisional Renggo Wiromo juga dipercaya menjadi pengisi acara selama tiga tahun di Radio Suara Jombang setiap hari Jumat pukul 20.00 sampai 22.00 WIB.

Dengan berkembangnya jaman, kesenian tradisional coke’an mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern. Merebaknya kebudayaan modern sedikit demi sedikit mengubah cara pikir masyarakat dalam usaha mencari hiburan yang mendidik moral generasi muda. Padahal kesenian tradisional coke’an memuat pitutur-pitutur yang luhur yang seharusnya dilestarikan oleh masyarakat dengan dukungan Pemerintah Daerah.

Mari kita lestarikan kesenian tradisional Indonesia sehingga tidak punah dari peredaran masyarakat!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

2 thoughts on “Perkembangan Seni Tradisional Coke’an di Jombang Dari Masa Ke Masa”

  1. Lagi-lagi saya harus banyak berharap semoga cokekan bisa terus ada di kota Jombang. Semakin kesini, semakin jarang anak muda yang mengenal cokekan. Bahkan mendengar namanya pun mungkin baru kali ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *