Sejarah dan Asal-usul Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

Hikayat adalah salah satu jenis prosa lama yang berisi cerita-cerita nasehat kepada pembaca. Saya menemukan buku ini di salah satu sudut rak perpustakaan sekolah tempat saya mengajar. Buku cetak itu ditutupi debu dan sobek pada beberapa bagian. Saya tidak menemukan bagian akhir buku cerita hikayat ini. Entah dibawa siapa. Mungkin saja ada murid yang iseng menyobek separuh buku ini untuk dijadikan bahan mainannya.

Untungnya, bagian sampul depan buku ini masih utuh. Masih terbaca dengan jelas buku cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1942.  Sedangkan buku yang saya baca merupakan cetakan kesepuluh yang diterbitkan pada tahun 1996. Kondisi buku sudah sangat lusuh. Hikayat Kalilah dan Dimnah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Mulyadi.

Tertulis dalam kata pengantar oleh Penerbit Balai Pustaka bahwa Hikayat Kalilah dan Dimnah telah lama dikenal di negeri kita, sebagaimana cerita berbingkai Seribu Satu Malam dari negeri yang sama. Cerita ini berasal dari India dan sekeluarga dengan cerita-cerita seperti Sukasaptati dan Pancatantra yang juga dikenal di Indonesia. Setelah disalin ke dalam bahasa Arab oleh Ibnu Muqaffa barulah cerita ini tersebar luas mengikuti penyebaran agama Islam.

Dilihat dari isinya jelas cerita ini akan tetap menarik hingga saat sekarang. Di dalam cerita ini kita temui banyak kandungan nilai, terutama nilai moral dan pendidikan. Sindiran-sindiran atau kritik-kritik sosial yang terdapat dalam kitab ini disampaikan secara halus dan cukup segar. Paling tidak, apa yang terkandung di dalamnya bisa dijadikan bahan renungan. Ia bisa menjadi bahan bacaan anak-anak dan remaja, di samping tetap menyenangkan bagi pembaca dewasa.

Selain itu, buku ini dapat menghubungkan kita kembali dengan khazanah sastra lama kita yang banyak dipengaruhi sastra Arab, India, dan Persia. Sedang kepada pengarang modern bisa memberikan ilham karena cerita ini kaya dengan fantasi dan Imajinasi. Para pembaca buku cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah diajak berimajinasi melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam setiap penggalan cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah.

Nama dan Judul-judul Cerita Hikayat

Secara umum buku cetak Hikayat Kalilah dan Dimnah sangat kaya ilmu pengetahuan. Pada bagian awal buku ini menceritakan sejarah penulisan Hikayat Kalilah dan Dimnah. Asal-usul penulisan cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah dimulai dengan menceritakan sosok Ibnul Muqaffa. Kemudian dilanjutkan dengan alasan apa sebabnya hikayat ini dikarang, kisah menarik Barzawaih diutus ke negeri Hindi dan riwayat kehidupan Barzawaih.

Terdapat 22 judul cerita hikayat di dalam buku Hikayat Kalilah dan Dimnah, masing-masing judul cerita tersebut menggambarkan sebagian atau seluruh peristiwa yang berhubungan dengan kisah tertentu. Tokoh-tokoh dalam judul-judul cerita tersebut banyak yang menggunakan nama-nama hewan. Secara sekilas memang mirip dengan cerita fabel. Masing-masing cerita dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah membawa pesan berbeda kepada pembaca. Berikut ini judul-judul cerita dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah:

  1. Hikayat Singa dengan Lembu
  2. Dimnah Hendak Menghadap Raja Singa
  3. Dimnah di Hadapan Raja Singa
  4. Dimnah Mengajak Syatrabah menghadap Raja Singa
  5. Dimnah Menjadi Dengki kepada Syatrabah
  6. Dimnah Mempetenahi Raja Singa
  7. Dimnah Mempetenahi Syatrabah
  8. Syatrabah Dibunuh Raja Singa
  9. Memeriksa Perkara Dimnah
  10. Hikayat Burung Dara
  11. Hikayat Gagak Dengan Burung Hantu
  12. Hikayat Kera dengan Kura-kura
  13. Hikayat Pertapa dengan Cerpelai
  14. Hikayat Tikus dengan Kucing Hutan
  15. Hikayat Raja dengan Burung Kakaktua
  16. Hikayat Singa dengan Serigala yang Saleh
  17. Hikayat Raja Balad dengan Permaisuri Irah
  18. Hikayat Singa Betina dengan Pemburu
  19. Hikayat Orang Alim dengan Jamunya
  20. Hikayat Musafir dengan Tukang Mas
  21. Hikayat Anak Raja dengan Teman-temannya
  22. Hikayat Burung Dara dengan Rubah dan Bangau

Hikayat Kalilah dan Dimnah secara keseluruhan mengandung amanat yang bagus dan patut kita renungkan bersama. Sindiran dan nasehat yang tertuang dalam setiap penggalan cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah secara tidak langsung telah mengenai kepada setiap manusia yang merasa berada di posisi yang sama.

Sejarah Hikayat Kalilah Dan Dimnah

Dikatakan oleh penulis buku bahwa tiap sesuatu ada sejarahnya. Makam-rnakam tua, candi-candi besar dan indah-indah mempunyai sejarahnya masing-masing. Di antaranya ada yang sudah diketahui orang riwayatnya dan ada pula yang belum dan sedang diselidiki. Kalau bekas perbuatan tangan manusia diselidiki sejarahnya dengan seksama, maka tentulah buah pikiran yang dipusakakannya pencari jalan keselamatan dunia dan akhirat dan riwayatnya lebih berguna untuk dipelajari. Buah pikiran yang indah ibarat bukit batu dan kekal selamanya.

Sedangkan nafsu dan tabiat manusia tidak berubah sejak dulu, jalan keselamatannya pun tidak pernah beralih. Perilaku manusia cenderung tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu, yaitu ingin menguasai harta, tahta dan kejayaan hidup. Oleh karena itu kata-kata yang berisi hikmat dipelihara orang sebaik-baiknya dan disiarkan dalam pergaulan. Ada di antara kata-kata itu yang berumur puluhan abad dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Ada banyak nasehat yang dipertahankan dari waktu ke waktu karena nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya tak lekang dimakan jaman.

Sesungguhnya zaman berkisar, kemajuan manusia senantiasa bertambah tinggi dan keadaan di muka bumi selalu berubah-ubah saja, tetapi kata hikmat kekal dan abadi. Ia tak lapuk kena hujan tak lekang kena panas. Kemudian di antara cerita-cerita yang penuh dengan kata-kata hikmat, hikayat Kalilah dan Dimnahlah yang amat luas tersiar dan diceritakan dalam berbagai bahasa. Oleh karena itu, tentulah ada juga perlunya hikayat itu diuraikan barang sekadarnya, agar bertambah nyata betapa tinggi darajatnya dan bagaimana mahal harganya di mata arif bijaksana.

Beberapa ahli pengetahuan Dunia Barat telah menyelidiki riwayat cerita itu. Di antaranya Baron de Sacy, Noldeke dan Keith Falconer. Hasil penyelidikan para ahli tersebut menyatakan bahwa Hikayat Kalilah dan Dimnah dikarang seorang seorang alim bangsa Hindu, bernama Baidaba, atas titah raja yang memerintah pada masa itu yaitu Maharaja Dabsyalim. Umurnya sudah lebih dua puluh abad.

Maharaja Dabsyalim memerintah di Hindustan setelah negeri itu ditaklukkan dan ditinggalkan pula oleh Sultan Iskandar Akbar. Oleh karena besar kekuasaannya, baginda telah berbuat lalim atas rakyatnya hingga rusaklah kemakmuran dalam negeri. Meskipun demikian seorang pun tidak berani mempersembahkan kata nasihat kepada baginda karena takut akan dimurkainya. Hati Baidaba sangat sedih melihat kelakuan baginda. Maka diberanikannya dirinya menghadap dan untuk menasihati baginda dikarangnya hikayat ini.

Cerita-cerita di dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah terjadi dalam dunia binatang, karena menurut kepercayaan pemeluk agama Brahma, binatang asalnya manusia juga. Cerita-cerita binatang seperti ini, kata orang pandai-pandai berasal dari tanah Hindustan dan Baidaba yang mula-mula mengarangnya. Banyak pengarang yang meniru karangannya. Adapun ceritanya semua berisi nasihat yang indah-indah. Ada yang melarang mempercayai kata tukang petenah, ada yang melarang berbuat jahat, menyuruh mencari sahabat yang setia, hati-hati menghadapi musuh, jangan lalai dan sia-sia, melarang tergesa-gesa, menyuruh hemat dan cermat, dan lain sebagainya.

Amanat Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah

Hikayat Kalilah dan Dimnah berisi nasihat yang bermanfaat untuk mencapai keselamatan hidup di dunia maupun mendapat bahagia akhirat. Hikayatnya berpokok dan beranting, dalam hikayat berhikayat pula. Walaupun begitu isinya dapat dibagi menjadi dua belas bab, yaitu:

  1. Hikayat singa dan lembu,
  2. Hikayat burung dara dengan tikus,
  3. Hikayat burung hantu dengan gagak,
  4. Hikayat kera dengan kura-kura,
  5. Hikayat orang saleh dengan cerpelai,
  6. Hikayat tikus dengan kucing,
  7. Hikayat raja dengan kakaktua,
  8. Hikayat singa dengan serigala yang saleh,
  9. Hikayat singa betina dengan tukang pemanah,
  10. Hikayat raja Balad dengan per-maisuri Irah,
  11. Hikayat musafir dengan pandai emas, dan
  12. Hikayat anak raja dengan kawan-kawannya.

Hanya dua belas cerita itulah isi Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam bahasa Sanskerta. Kemudian setelah diterjemahkan ke lain bahasa maka bertambah ceritanya. Buku asli Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam bahasa Sanskerta sudah lama dicari orang, namun belum juga bertemu. Rupanya tak sebuah kitab pun dalam bahasa Sanskerta yang berisi hikayat-hikayat itu berhasil ditemukan. Cerita-cerita itu justru ditemui dalam beberapa buah kitab-kitab tua, terutama dalam Mahabarata, Pancatantra dan Hitopadesa.

Dalam Pancatantra ditemukan lima cerita awal Hikayat Kalilah dan Dimnah. Kemudian tiga cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah ditemukan dalam kitab Mahabarata, dan yang dua lagi dalam Hitopadesa. Oleh karena itu ada orang yang menyangka, boleh jadi waktu penerjemah Hikayat Kalilah dan Dimnah menterjemahkannya ke bahasa Persi dulu, cerita-cerita itu mungkin belum terkumpul dalam sebuah buku. Dan jika benar pengarangnya seorang, mungkin sepeninggalnya karangannya dipisah-pisahkan orang lain kemudian dimasukkan ke dalam beberapa buah kitab. Kemudian  atas usaha penerjemah yang pertama kali maka cerita-cerita itu tersusun menjadi sebuah hikayat.

Itulah sejarah dan asal-usul Hikayat Kalilah dan Dimnah yang saya dapatkan dari buku cetaknya langsung. Setiap kelompok budaya masyarakat mungkin memiliki perbedaan dalam meyakini asal muasal cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah yang melegenda itu. Oleh karena itu, segala perbedaan itu mungkin saja terjadi. Jika Anda memiliki versi yang berbeda terkait dengan sejarah dan asal-usul Hikayat Kalilah dan Dimnah, silakan berbagi pikiran di kolom komentar. Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan Anda dalam mempelajari prosa lama.

3 Replies to “Sejarah dan Asal-usul Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *