Sejarah Kesenian Tradisional Coke’an Dari Kabupaten Jombang

Cerita Rakyat Kalimantan Timur: Legenda Asal-usul Danau Lipan dan Putri Aji Berdarah Putih
Cerita Rakyat Kalimantan Timur: Legenda Asal-usul Danau Lipan dan Putri Aji Berdarah Putih

Apa kabar blogger Jombang? Mulai pekan ini saya akan mengulas kembali beberapa jenis kesenian daerah dari Jombang yang mulai punah. Salah satu kesenian asli Jombang yang makin langka kita jumpai saat ini adalah seni tradisional coke’an. Coke’an menjadi ikon seni tradisional asal Kabupaten Jombang selain kesenian ludruk dan besutan.

Sejarah lahirnya kesenian Coke’an tidak bisa dilepaskan dari fungsi kesenian sebagai media penyampaian informasi Pemerintah, kepala negara, dan kepala daerah kepada masyarakat. Tugas seorang negarawan adalah mengemban tugas tanpa pamrih serta tidak boleh mengeluh untuk mengembangkan nilai-nilai budaya bangsa. Slogan yang digunakan adalah “Kuncaraning Bongso Gumantung Kumandanging Budoyo”.

Dengan slogan tersebut, kesenian tradisional asli Indonesia harus dikembangkan dan dilestarikan oleh Pemerintah setempat, termasuk juga Pemkab Jombang. Salah satu kesenian daerah dari Jombang adalah coke’an. Bagaimana sejarah seni coke’an di Jombang dan perkembangannya hingga sekarang? Siapakah seniman yang memperkenalkan seni coke’an pertama kali?

Sejarah perkembangan seni coke’an tidak bisa dilepaskan dari penelitian yang dilakukan oleh Ki Anom Suroto. Ki Anom Suroto adalah dalang kondang dari Surakarta atau Solo. Beliau berpendapat bahwa tradisi yang berkembang pada jaman Pemerintahan raja-raja di Jawa dulu sering dimainkan hiburan musik untuk kerabat kerajaan. Hiburan tersebut berupa permainan alat musik sederhana yang terdiri dari kendang, siter dan gong. Alat-alat musik tersebut mudah dijumpai di masyarakat suku Jawa.

Manfaat Musik Sebagai Alat Perjuangan Bangsa

Masih menurut Ki Anom Suroto, pertunjukan seni musik Jawa tersebut dibantu oleh beberapa orang waranggono untuk melantunkan sastra-sastra Jawa dengan diiringi peralatan musik sederhana dan pendek (dalam bahasa Jawa disebut cekak). Karena proses morfologi kata yang berkembang di masyarakat Jawa, maka kata cekak berubah menjadi coke’an. Sastra Jawa memang unik. Setiap kata bisa dibolak-balik susunannya sehingga menghasilkan sebuah kata baru yang berarti mirip.

Dengan peralatan yang sederhana dan bisa dibawa kemana-mana, raja-raja di Jawa memanfaatkan seni pertunjukan coke’an untuk menyelidiki gerak-gerik musuh, khususnya penjajah asing. Kelompok seniman coke’an tersebut menyelidiki kekuatan musuh dengan cara berkeliling ke daerah-daerah yang ada di Pulau Jawa. Para seniman coke’an mendapat sebutan sebagai kelompok ‘Barang Jantur’ atau ‘Amen’. Mereka mengirimkan informasi penting terkait proses investigasi kekuatan lawan.

Demikian sejarah singkat awal mula berdirinya kesenian tradisional coke’an dari Jombang. Mungkin di daerah lain di Pulau Jawa memiliki kesenian yang sejenis namun dengan nama yang berbeda. Kita dapat memaklumi perbedaan nama tersebut namun fungsi dasarnya sama, yaitu hiburan rakyat yang memiliki manfaat multidimensi. Semoga artikel sejarah budaya Jawa ini bisa menambah wawasan Anda dalam mempelajari kebudayaan di Nusantara. Mari cintai kebudayaan Indonesia!

Referensi: Medali MGMP Kesenian SMP Se-kabupaten Jombang

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Sejarah Kesenian Tradisional Coke’an Dari Kabupaten Jombang”

  1. Jombang yang saya kenal bukan hanya pondok pesantren dan santrinya yang patuh pada kyai. Jombang pun kaya seni tradisi yang menjadi media dakwah bagi kyai. Saya suka Cokekan karena cara dakwah demikian demikian natural dan tidak memaksa. Keep posting!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *