Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Sejarah Religi dan Kesusasteraan Kerajaan Majapahit

Apa kabar blogger Jombang? Tahukah kalian bahwa kehidupan religius pada masa Majapahit telah memberikan andil yang besar dalam perkembangan peradaban manusia Majapahit. Semuanya itu setidaknya terekam dan tersurat dalam karya-karya sastra yang sangat indah dan bermutu, di antaranya seperti Kakawin Negarakertagama, Arjunawijaya, Sutasoma, Lubdhaka, Writasancaya dan Kunjarakarna.

Bahkan dalam Kitab Negarakertagama, Empu Prapanca menuliskan bahwa terdapat 3 oang pejabat pemerintahan yang mengurusi agama yaitu Dharmadhyaksa Kasewan untuk agama Siwa, Dharmashyaksa Kasogatan untuk agama Budha dan Menteri Herhaji untuk aliran Karsyan. Pejabat-pejabat ini dibantu oleh Dharma-Upapatti yang mengurusi sekte-sekte seperti Sivasiddhanta dan Bhairawapaksa. Kita bisa membuat kesimpulan sementara bahwa Nusantara sudah religius sejak dulu.

Menurut buku Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan yang ditulis oleh tiga sejarahwan Drs. I Made Kusumajaya, S.Si., Drs. Aris Soviyani, M. Hum., dan Wicaksono Dwi Nugroho, M. Hum, kehidupan religius Kerajaan Majapahit mencapai tahap perkembangan yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya, yaitu adanya penyatuan antara agama Siwa-Budha. Toleransi perbedaan keyakinan ini merupakan cikal-bakal keharmonisan kehidupan masyarakat Majapahit dan sekitarnya.

Pertemuan lintas agama tersebut terjadi pada tataran kebenaran tertinggi, tetapi dalam praktek ritual ibadah keduanya tetap terpisah. Paham raja sebagai titisan dewa yang dianut kerajaan dimanifestasikan dalam pembuatan arca perwujudan dari raja-raja yang telah wafat yang didharmakan dalam sebuah percandian. Misalnya Tribhuwana Tunggadewi diwujudkan dalam arca Batari Durga dan Raja Airlangga diwujudkan sebagai Dewa Wisnu.

Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi
Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi

Di Kerajaan Majapahit juga berkembang agama Karesian yang dikembangkan dalam sekolah yang dipimpin para pendeta (rsi). Dasar ajarannya adalah sekte Sivasiddhanta, di mana meditasi dipandang sebagai cara untuk mencapai realitas yang absolut. Ajarannya berkembang dalam masyarakat dan bercampur dengan kepercayaan tradisional yang asli, yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme. Menurut pantauan The Jombang Taste, kelompok tersebut masih tetap eksis di wilayah Mojokerto, salah satunya dibuktikan dengan keberadaan Mahavihara Majapahit.

Perilaku ritual tersebut diwujudkan sebagai perjalanan menuju tingkat-tingkat kesempurnaan hidup. Mereka mengisolasi diri di gunung-gunung dan tempat sunyi sebagai rangkaian pengajaran. Meditasi dilakukan di berbagai pertapaan antara lain Gunung Penanggungan, Gunung Arjuna dan Gunung Sukuh. Maka tidak mengherankan jika di daerah-daerah tersebut banyak ditemukan bekas tempat semedi yang dikeramatkan hingga sekarang.

Kehadiran Islam mewarnai ragam agama yang berkembang di Kerajaan Majapahit melalui dakwah sembilan orang wali (Wali Songo). Tidak kurang dari 30 nisan ditemukan di kompleks kuburan Troloyo dan sekitarnya. Sebagian besar nisan memuat tanggal antara rentang waktu tahun 1356 sampai 1475 Masehi. Dengan demikian, kita dapat mengartikan bahwa agama Islam telah ada ketika Majapahit berada di puncak kejayaaan pada masa Hayam Wuruk.

Majapahit telah menunjukkan diri sebagai negara yang terbuka, multikultur dan masyarakat hidup dengan berbagai aliran keagamaan secara berdampingan. Kondisi tersebut seharusnya dapat kita pertahankan di era kekinian dalam menyikapi dinamika masyarakat. Jika masyarakat Majapaphit saja mampu melakukan, tentunya kita yang merasa sebagai manusia modern dapat melaksanakan pula. Mari lestarikan kekayaan budaya Nusantara!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

3 thoughts on “Sejarah Religi dan Kesusasteraan Kerajaan Majapahit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *