Sejarah Seni Tari Tradisional Remo dari Jombang, Jawa Timur

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Apa kabar kawan blogger Jombang? Salah satu seni daerah yang membanggakan Kabupaten Jombang adalah tari Remo. Masyarakat Jombang biasa menyebutnya sebagai Tari Ngremo. The Jombang Taste kembali mengulas asal-usul Tari Remo versi Jombangan. Tari Ngremo merupakan bagian utama dan menjadi daya tarik pertama dalam sebuah pementasan drama ludruk. Tari remo atau ngremo dijadikan sebagai pembuka dalam pementasan seni drama ludruk.

Saya masih ingat saat kecil saya dulu suka sekali menonton tari Remo sebelum ludruk mulai. Meski harus berdesak-desakan dengan ratusan warga desa, saya mau saja menunggu jam tayang Ngremo dari jam tujuh malam sampai jam sebelas malam. Rangkaian acara Ludruk makin seru lagi karena ada petasan yang sengaja diledakkan saat penari Remo tampil di panggung. Kesannya wah sekali. Tidak kalah dibanding opera Hollywood.

Menurut MGMP Seni Budaya Kabupaten Jombang, Tari remo dapat ditarikan dengan gaya wanita atau gaya pria baik ditampilkan secara bersama-sama atau bergantian. Penarinya menggunakan beberapa jenis kostum. Kostum tari Remo antara lain Sawunggalingan. Kostum Ngremo Sawunggaling bergaya Surabaya yang terdiri dari bagian atas hitam dengan pakaian tradisional Jawa dari abad 18. Celana bludru hitam dengan hiasan keris dan batik di pinggang menambah kesan gagah penari.

Ada juga variasi tampilan penari berupa sebuah sabuk dan keris, lalu di paha kanan terdapat selendang menggantung sampai ke mata kaki. Penari Remo paling terkenal di kawasan Jombang Selatan jaman dulu adalah Darwati. Darwati merupakan sosok transgender. Nama aslinya adalah Kandar. Pria ini sehari-hari berprofesi sebagai petani yang berkecimpung dengan cangkul dan tanah sawah. Namun saat berada di atas panggung, gayanya anggun tak kalah dibanding wanita tulen.

Membahas tari Ngremo mengingatkan saya pada acara sambutan seremonial di sekolah tempo dulu. Beberapa kawan putri menari di pintu gerbang sekolah saat Pak Bupati mengunjungi sekolah saya. Tari remo merupakan tarian sambutan selamat datang khas Jawa Timur yarg menggambarkan karakter dinamis masyarakat Jawa Timur. Tari Remo merefleksikan sebagai gambaran keberanian seorang Pangeran.

Tarian Remo diiringi dengan musik gamelan dalam suatu gending yang rancak. Instrumen musik yang digunakan adalah seperangkat gamelan yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, slentem, siter, seruling, ketuk, kenong, kempul, dan gong dengan irama slendro. Jaman dulu belum ada kontaminasi drum pada permainan musik tari Ngremo. Originalitas musik Jawa terdengar begitu kuat di telinga. Sedangkan penampilan tari Ngremo saat ini cenderung memadukan instrumen musik tradisional dan modern sehingga saya kurang mampu menikmatinya.

Keunikan Seni Tari Remo

Tari Remo biasanya menggunakan irama gending jula-juli Suroboyo tropongan. Kadang-kadang diteruskan dengan penampilan penari dengan lagu walang kekek, gedong rancak, krucilan atau kreasi baru lainnya. Jika penonton menghendaki penari menyanyikan lagi tertentu, penonton bisa request lagu dengan cara nyawer. Tarian Ngremo dipercaya berawal dari tahun 1930-an saat kesenian ludruk berkembang pesat di Kabupaten Jombang. Tari Remo berkembang seiring dengan dinamika masyarakat Jombang yang cepat berubah.

Seni tari Remo identik dengan Beskalan. Konon kata Beskalan berasal dari kata Bakalan yang pada masa lalu dipertunjukkan di jalanan seperti pengamen. Pada mulanya kesenian ini ditarikan oleh laki-laki yang memakai baju perempuan, namun kini sudah banyak perempuan yang menarikan tarian ini. Tarian Beskalan sebenarnya hampir serupa dengan Tari Ngremo, dan jenis ngremo putripun banyak dikenal di berbagai wilayah di Jawa Timur.

Secara umum gerakan tari, baik tarian tunggal maupun tarian berpasangan di setiap daerah hampir sama, tetapi terdapat beberapa gerakan khusus yang mencerminkan keunikan masing-masing daerah. Salah satu contoh kekhususan tarian daerah adalah Tari Remo dari Jombang. Tari Remo adalah seni tari penyambutan yang dilakukan oleh penari tunggal ataupun penari kelompok. Tarian ini memiliki dua gaya, yaitu feminim dan gagah. Tak jarang muncul istilah Tari Remo Wedokan dan Tari Remo Lanangan untuk membedakan keduanya.

Tari Remo pada awalnya ditampilkan di pembukaan pertunjukan ludruk, tetapi kemudian tari ini berkembang menjadi tarian lepas yang dipentaskan pada berbagai festival rakyat atau pada peringatan liburan nasional. Tari Remo diciptakan sebagai tarian untuk menyambut tamu sehingga disebut tarian penyambutan. Setiap kali diadakan kunjungan dinas Pemerintahan maka tari Remo hadir di acara paling awal dalam jadwal kegiatan hari itu.

Karakteristik gerakan tari Remo adalah hentakan kaki atau gedrug. Gongseng atau semacam bel berdering yang diikat di pergelangan kaki kanan akan terdengar gemerincing ketika penari berjalan atau menghentak lantai dengan kaki kanannya. Disamping hentakan kaki, gerak kepala, permainan manipulatif dari selendang atau sampur, guratan ekspresi, dan gerakan penari ketika mengikuti irama musik membuat tarian ini unik. Perpaduan beragam aksesoris penari menghasilkan suara rancak dan menarik.

Keunikan tari Remo berikutnya yaitu kostum penari Remo mempunyai berbagai gaya antara lain, Sawunggalaing, Suroboyoan, Malangan dan Jombangan. Masing-masing aliran kostum memiliki ciri khas tertentu. Kostum Ngremo Jombangan umumnya menggunakan kain berwarna hijau dan merah. Alat musik yang digunakan mengiringi tari Remo terdiri dari bonang, bonang penerus, saron, gambang, slenthem duduk, seruling, ketuk, kenong, kempul dan gong. Berbagai musik yang menemani tarian dapat berupa gamelan laras slendro atau pelog.

Itulah sekilas sejarah dan asal-usul tari remo yang dapat saya bagikan. Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi kepada Anda untuk lebih mencintai kebudayaan daerah. Mari lestarikan budaya lokal di Nusantara!

2 Replies to “Sejarah Seni Tari Tradisional Remo dari Jombang, Jawa Timur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *