Seribu Penari Remo Boletan Ramaikan Hardiknas di Alun-alun Jombang

Pagi-pagi benar saya dan dua orang murid SDN Latsari beranjak naik sepeda motor ke rumah penata rias di Mojoroto. Rabu, 2 Mei 2018 kami sedang berkejaran dengan waktu untuk mengikuti Gebyar Seribu Penari Remo Boletan di Alun-alun Kabupaten Jombang. Sapuan bedak, goresan pensil alis dan pewarna bayangan mata tergambar jelas di wajah Alva dan Zalfa sejak pukul lima pagi.

Mereka berdua tampak serius mengikuti arahan penata rias sambil menahan kantuk yang mendera sejak subuh. Pakaian tari mereka berdua pun tak luput dari penataan. Memasang stagen adalah bagian yang paling menyusahkan dan butuh waktu lebih lama. Kain yang membungkus perut penari ini harus dilekatkan dengan sempurna ke badan supaya tidak muncul kecelakaan tari saat pentas. Konsep pakaian mereka hampir serupa dengan pemain Tari Jaranan dan berbeda dengan busana penari patrol modern Jombangan.

Usai menyelesaikan tata rias wajah dan memakai stagen dalam, mereka berdua kami bawa ke kantor UPTD Pendidikan Mojowarno. Disana sudah menunggu beberapa orang panitia yang membagikan aksesoris pakaian penari remo. Saya pun harus turun tangan memakaikan beberapa aksesoris ke tubuh Zalfa dan Alfa. Kali ini saya berkenalan dengan aksesoris tari remo dari atas sampai bawah masing-masing bernama iket, kare, pangkat, sampur atas, sampur bawah, jarik, stagen dalam, stagen luar, sabuk, boro-boro, deker, dan gongseng.

Penari Cilik Seni Tari Remo Boletan Gagrak Anyar Khas Jombangan
Penari Cilik Seni Tari Remo Boletan Gagrak Anyar Khas Jombangan

Bukan hanya mengenal, saya pun harus bisa memasang benda-benda tersebut pada tubuh penari karena keadaan yang tidak memungkinkan guru pendamping lainnya hadir bersama kami. Ah, pengalaman tidak terduga yang menyenangkan. Seumur-umur hidup baru kali ini saya menata rias dan kostum tari remo.

Jam setengah delapan pagi kami sudah menyelesaikan semua jenis persiapan penari. Selanjutnya, 68 penari dibawa panitia menuju Alun-alun dengan memakai enam buah mobil elf. Seluruh penari dari kalangan siswa sekolah dasar itu pun bersiap sejenak di belakang barisan peserta upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018. Sebanyak 1.073 penari remo boletan telah berbaris rapi di sisi timur Alun-alun Jombang.

Ribuan penari remo gagrak anyar itu memakai seragam warna-warni khas penari remo. Ada penari remo berbaju putih dan berbaju merah. Ada pula jarik hitam, jarik biru, jarik pink, dan warna-warna lainnya. Meski berbeda warna, semuanya memiliki kesamaan dalam konsep model pakaian penari remo. Keragaman warna batik penari remo adalah simbol kekayaan budaya Jombangan yang beraneka jenis agama namun mereka dapat hidup dengan saling menghormati.

Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna
Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna – Gerak langkah mereka menginspirasi penari untuk bergerak dengan langkah tegas dan dinamis.

Tari Tradisional Jombang

Tak lama kemudian musik langgam Jawa “Jago Kluruk” terdengar. Para penari bersiap mengatur posisi. Mereka berjalan perlahan mendekati podium kehormatan. Ini adalah musik pemanasan sebelum memasuki gerakan tari yang utama. Satu menit kemudian ruang pendengaran pun berganti dengan iringan tari remo boletan yang rancak. Ribuan penari cilik itu bergerak dinamis mengikuti gerak tari sesuai arahan penata tari.

Mereka telah berlatih dengan tekun selama seminggu terakhir ini. Saya sebagai guru pendamping yang selama ini bolak-balik mengantar dan menjemput mereka latihan pun ikut senang atas penampilan bagus para siswa. Rasa lelah seminggu ini seolah terbayar lunas oleh sajian tari tradisional dari Jombang ini. Meski saya tidak ikut menari, namun saya ikut merasakan aura kesuksesan yang mereka dapatkan.

Beragam respons ditunjukkan oleh para penari setelah mereka menunjukkan kemampuan terbaiknya. Zalfa, siswi kelas IV SDN Latsari, tak henti-hentinya menyunggingkan senyum manis pertanda ia senang dan bisa menikmati pagelaran tari di Alun-alun Jombang ini. Sementara itu Alva, siswa kelas III SDN Latsari, mengaku bersemangat bisa menari di hadapan Pak Bupati. Keduanya bangga bisa mewakili sekolahnya dalam kegiatan seni tari massal di tingkat kabupaten. Saya sendiri pun cukup bahagia melihat antusiasme keduanya dalam belajar tari.

Mereka memiliki kawan-kawan baru dan pengalaman baru yang berbeda dibanding kawan mereka lain di sekolah. Itulah nilai positif dari pagelaran budaya seribu penari remo Jombangan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018. Semoga momen hardiknas tahun ini bisa menyadarkan kita semua pentingnya memiliki rasa bangga terhadap kebudayaan daerah. Anak-anak harus kita kenalkan beragam tari daerah agar mereka mencintai budaya Nusantara.

Bagikan artikel ini melalui:

14 Replies to “Seribu Penari Remo Boletan Ramaikan Hardiknas di Alun-alun Jombang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *