Terjemahan Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam Berbagai Bahasa

Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara: Dongeng Persahabatan Kera dan Ayam
Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara: Dongeng Persahabatan Kera dan Ayam

Apa kabar kawan-kawan blogger Jombang? Blog The Jombang Taste kembali mengupas salah satu prosa lama yang terkenal, yaitu Hikayat Kalilah dan Dimnah. Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah awalnya diterjemahkan ke bahasa Tibet. Namun telah banyak ahli sejarah yang mencari keberadaan buku tersebut namun gagal menemukannya.

Sekarang tidak ada lagi buku yang cukup berisi semua cerita itu. Hanya sebagian saja dari cerita-cerita itu masih ditemui sekarang dalamm bahasa asing. Kemudian, keras dugaan orang bahwa hikayat itu tentu sudah diterjemahkan ke lain bahasa. Tapi karena sudah lama masanya hilanglah kitab-kitab itu hingga tidak tersisa.

Saya menemukan buku cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah di perpustakaan sekolah tempat mengajar. Kondisi bukunya sudah tidak utuh. Terdapat sobekan disana-sini. Meski demikian masih lengkap muatan informasi bagian sampul buku cerita rakyat Melayu yang diterbitkan oleh Balai Pustaka ini.

Hikayat Kalilah dan Dimnah diterjemahkan dalam bahasa asing apa saja?

Terjemahan Ke Bahasa Parsi Tua

Pada abad keenam sesudah Masehi, di negeri Parsi (ada juga yang menyebut dengan negeri Persia) memerintah Raja Kisra Anu Syirwan, termasyhur karena suka kepada ilmu pengetahuan. Beliau merupakan raja yang memperhatikan pendidikan rakyatnya. Pada masa pemerintahannya, banyak ilmuwan dikumpulkan untuk membahas berbagai bidang kajian ilmu.

Ketika baginda mendengar di negeri Hindia ada sebuah kitab yang dijaga keras oleh rajanya, timbullah keinginan baginda hendak mengetahui isi kitab itu. Lalu diutus baginda orang yang dapat menyalin kitab ke tersebut dalam bahasa Parsi, sebagai nanti akan diceritakan dalam artikel berikutnya. Demikianlah mulanya cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah diterjemahkan ke bahasa Parsi.

Terjemahan Ke Bahasa Suryani

Pada awalnya orang mengira salinan Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam bahasa Parsi itu pertama kali diterjemahkan dari bahasa Arab. Akan tetapi kemudian ternyata dugaan itu salah. Salinan itu diterjemahkan ke bahasa Suryani oleh seorang pendeta agama Kristen, kedua orang tuanya merupakan bangsa Hindi dan Parsi, kira-kira tahun 570 Masehi. Penyalin itu menamai Hikayat Kalilah dan Dimnah dengan nama Qalilaj dan Damnaj.

Boleh jadi karena nama demikianlah maka hikayat ini dinamai oleh penerjemah ke bahasa Parsi, dan penyalin ke bahasa Arab yang mengubahnya jadi Kalilah dan Dimnah. Para ahli sejarahwan dan sastrawan Barat telah memperoleh naskah salinan Hikayat Kalilah dan Dimnah berbahasa Suryani itu, dan telah diterjemahkan ke bahasa Jerman di Leipzig pada tahun 1876. Isinya hanya sepuluh bab saja.

Terjemahan Ke Bahasa Arab

Terjemahan Hikayat Kalilah dan Dimnah ke bahasa Arab menjadi pokok bagi terjemahan ke segala bahasa. Penyalin ke bahasa Arab bernama Abdullah bin Muqaffa, juru tulis Abu Jafar Mansur, khalifah dari keturunan Bani Abbas. Ibnul Muqaffa, begitu ia dikenal, ahli dalam bahasa Parsi, karena ibu-bapaknya orang Parsi. Dia juga ahli dalam bahasa Arab. la lahir di Basrah pada permulaan abad kedua Hijrah, yaitu ketika Basrah sedang termasyhur sebagai pusat ilmu pengetahuan Arab.

Ibnu Muqaffa menulis pula kata pengantar Hikayat Kalilah dan Dimnah. Diterangkannya ketinggian harga hikayat itu dengan beberapa contoh cerita. Diperlihatkannya kelebihan akal dan pengetahuan dari cerita ini. Ketika terjemahan Hikayat Kalilah dan Dimnah disiarkan, takjublah bangsa Arab membacanya. Seketika itu masyhurlah karangannya dibaca dan dipelajari orang di mana-mana. Ahli bahasa Parsi yang lainnya seolah-olah iri kepada Ibnul Muqaffa karena kemenangannya itu.

Beberapa orang terbangun menerjemahkan hikayat itu sekali lagi. Abdullah bin Hilal menerjemahkannya untuk Yahya bin Khalid, perdana menteri khalifah Mahdi, pada tahun 165 H. Sahal bin Naubah menyusunnya menjadi syair, supaya mudah dihafal. Syair itu dikarangnya untuk Yahya juga dan oleh Yahya dibayar seribu dinar. Ada pula yang mencoba menandingi Baidaba. Sahal bin Harun mengarang sebuah kitab untuk khalifah Ma’mun yang sama jalan ceritanya dengan hikayat Kalilah dan Dimnah.

Tetapi tidak satu pun karangan-karangan itu yang masih terpelihara dan bisa ditemukan saat ini, berbeda dengan karangan Ibnul Muqaffa. Ceritanya sudah banyak bertambah hingga menjadi sembilan belas bab. Dua bab permulaan dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah adalah tambahan penyalin ke bahasa Parsi, yaitu pendahuluan yang ditulis wazir Buzurjumihir dan Barzawaih diutus ke Hindustan.

Kemudian terdapat lima bab dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah yang belum diketahui orang sebelum terjemah Ibnul Muqaffa. Yaitu kata pendahuluan karangan Bahnud bin Sahwan, kata pengantar Ibnul Muqaffa, memeriksa perkara Dimnah, cerita orang saleh dengan jamunya dan cerita burung dara dengan rubah dan burung bangau.

Salinan Ibnul Muqaffa pertama kali disiarkan seorang cendekiawan bangsa Belanda bernama Scholtens pada tahun 1786. Yang mula-mula menerbitkannya sampai tamat ialah Baron De Sacy dan dicetak di Paris pada tahun 1816. Kemudian salinan itu berulang-ulang dicetak di Mesir. Cetakan Hikayat Kalilah dan Dimnah pertama kali pada tahun 1249 H.

Terjemahan ke Bahasa Asing Lain

Terjemahan hikayat Kalilah dan Dimnah ke bahasa Parsi telah lama hilang, sedangkan versi aslinya dalam bahasa Sansekerta sudah lama tidak ditemukan lagi. Demikian pula salinan Hikayat Kalilah dan Dimnah ke bahasa Suryani dan Tibet sudah tidak ada. Hanya terjemahan ke bahasa Arab yang masih ada. Maka ketika kemajuan Islam sedang semarak, dan segala bangsa berebut menyalin ilmu pengetahuan Arab ke bahasa masing-masing, hikayat Kalilah dan Dimnah pun mereka terjemahkan pula.

Salinan Ibnul Muqaffa mengenai cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah diterjemahkan orang ke dalarn sepuluh bahasa yaitu Bahasa Suryani baru (kira-kira abad kesepuluh), Bahasa Yunani (180 Masehi), Bahasa Parsi baru (1120), Bahasa Abrani tua, bahasa Abrani baru (abad ketiga belas), Bahasa Latin (abad ketiga belas), Bahasa Asbani 1251), Bahasa Inggris (1819), dan Bahasa Rusia (1889).

Dari sebagian terjemahan itu disusun orang pula terjemahan Hikayat Kalilah dan Dimnah ke Bahasa Prancis, Italia, Slovenia, Turki, Jerman, Inggris, Denmark, dan Belanda, hingga jumlah semua terjemahan itu sampai dua puluh bahasa banyaknya. Kesemuanya berasal dari terjemahan Hikayat Kalilah dan Dimnah yang asli dari Bahasa Arab.

Bahkan sejarah mencatat terjemahan Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam Bahasa Inggris saja ada dua terjemahan. Terjemahan bahasa Inggris hikayat Kalilah dan Dimnah yang pertama berasal dari bahasa Arab. Dan terjemahan hikayat Kalilah dan Dimnah dalam bahasa Inggris yang satu lagi berasal dari bahasa Suryani.

Maka nyatalah betapa tingginya nilai hikayat Kalilah dan Dimnah, dan betapa besarnya dunia berutang kepada karangan Ibnul Muqaffa. Kalau bukan karena karangan bahasa Arab itu, mungkin hikayat itu tidak diketahut lagi versi lengkapnya.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia dan Melayu

Demikianlah sejarah hikayat Kalilah dan Dimnah menurut informasi yang tertera dalam kitab yang diterjemahkan itu. Dalam uraian itu tidak disebut sedikit juga tentang terjemahan hikayat itu ke Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu ataupun bahasa daerah yang lain. Untuk mencukupkan kekurangan itu di bawah ini diuraikan apa yang diketahui tentang itu.

Cerita-cerita Pancatantra datang di Nusantara bersama-sama dengan bagian kesusastraan Hindu yang lain. Dalam bahasa Jawa kuno, dalam bahasa Jawa menengah dan bahasa Bali, hikayat itu dinamai Tantri. Dalam bahasa Indonesia cerita-cerita Pancatantra dinamai Hikayat Kattiah (Galilah) dan Daminah.

Salah satu naskah Melayu karangan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi bernama Pania Tanderan, yang diterjemahkannya dari bahasa Tamil. Karangan itu telah disalin ke bahasa Jawa dan Madura isinya hanya lima cerita saja. Naskah bahasa Indonesia yang lebih lengkap diterbitkan oleh J.R.P.R Gonggrijp pada tahun 1876, yang dinamainya Hikayat Kalilah dan Daminah.

Gonggrijp menerbitkan pula salinan bahasa Indonesia dari cerita-cerita Pancatantra ke dalam bahasa Belanda. Buku bahasa Belanda itu adalah salinan dari bahasa Perancis, dan hikayat yang dalam bahasa Perancis itu diterjemahkan dari bahasa Turki. Selain itu dalam bahasa Indonesia ada dua cerita lagi yang hampir serupa jalan ceritanya dengan Hikayat Kalilah dan Dimnah, yaitu Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Baktiar.

Tampaknya ketiga hikayat itu sama petik-memetik. Hikayat-hikayat yang dalam bahasa Indonesia itu tidak sama isinya, kecuali dalam hal asal ceritanya belaka. Selain itu belum tentu juga semua cerita yang disebut dalam hikayat-hikayat berbahasa Indonesia masuk bilangan Hikayat Kalilah dan Dimnah.

Oleh sebab itu Balai Pustaka memandang baik karangan Ibnul Muqaffa itu diterjemahkan, dan hal ini menjadi terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang pertama. Mudah-mudahan cerita hikayat asli ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi juru nasihat yang mengajak kepada kebajikan dunia dan akhirat.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Terjemahan Cerita Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam Berbagai Bahasa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *