Tradisi Bancakan Gerhana Matahari untuk Wanita Hamil di Kalangan Masyarakat Jawa

Indahnya menikmati paket honeymoon di Bali
Indahnya menikmati matahari terbenam di Pulau Bali.

Selama dua pekan ini masyarakat Jawa dihadapkan pada dua peristiwa alam yang sangat fenomenal, yaitu gerhana bulan dan gerhana matahari. Dua fenomena alam itu terjadi secara berurutan pada dua pekan ini sehingga masyarakat Jawa dipenuhi oleh aktivitas Tradisi Bancakan Grahono. Suasana semarak menyelimuti rumah penduduk yang memiliki anggota keluarga hamil. Tradisi Bancakan Grahono adalah kegiatan berbagi makanan yang diiringi dengan doa bersama serta mengundang tetangga disekitar rumah untuk mendoakan orang hamil atau sedang mengandung janin.

Pada pekan lalu berlangsung gerhana bulan pada malam hari. Kemudian hari ini Minggu, 21 Juni 2020 berlangsung gerhana matahari sebagian. Fenomena alam gerhana matahari sebagian terjadi di seluruh wilayah Indonesia dengan tenggang dengan waktu yang berbeda-beda mulai pukul 14.50 hingga pukul 15.20 WIB. Bisa dipastikan setiap terjadi gerhana maka masyarakat Jawa melakukan Tradisi Bancakan untuk wanita hamil. Canda-tawa mengiringi acara makan bersama dengan tetangga. Tak ketinggalan, sharing foto bancakan di sosial media jadi kebanggan tersendiri. 

Keunikan tradisi Bancakan Grahono untuk wanita hamil pada waktu gerhana adalah menu makanan yang terbilang sederhana namun enak dan menyenangkan. Tradisi Bancakan Grahono pada waktu gerhana dilaksanakan oleh keluarga wanita yang sedang hamil dengan menyediakan nasi liwet, telur ayam direbus, ayam penyet, sambel tomat, serta beberapa makanan dan lauk sederhana lainnya. Bagi keluarga yang berkecukupan dapat menghidangkan nasi kuning atau sego kabuli untuk mewakili sedekah hajat keluarga mereka supaya terkabul. 

Proses pemasakan makanan-makanan tersebut terbilang relatif cepat mengingat waktu gerhana matahari hari ini berlangsung hanya beberapa menit saja. Meski demikian, keluarga wanita yang sedang hamil biasanya telah mempersiapkan bancakan grahono sejak beberapa hari sebelumnya mengingat informasi terjadinya gerhana bisa dipantau dari sosial media. Teman dan keluarga saling mengingatkan wanita hamil untuk bersiap bancakan sego liwet dan endog penyet. 

Kuliner Nasi Ayam Geprek dan Lalapan Sambel Pencit Khas Jombang
Kuliner Nasi Ayam Geprek dan Lalapan Sambel Pencit Khas Jombang

Makna Bancakan Grahono

Mengapa masyarakat Jawa melakukan tradisi Bancakan Grahono pada waktu terjadi gerhana bulan maupun gerhana matahari? Nilai kearifan lokal yang terdapat dalam tradisi ini adalah kesediaan kita berbagi dengan sesama manusia. Terlebih lagi di masa pandemi ini semua orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan tidak menghiraukan keberadaan orang lain. Sangat tepat sekali jika momen tradisi Bancakan Grahono hari ini menyadarkan kita untuk selalu bersedia berbagi kepada orang yang membutuhkan, terutama tetangga di sekitar rumah kita.

Adapun mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa adalah setiap bayi yang dikandung oleh wanita yang hamil harus diberikan bancakan grahono sebagai wujud sedekah kepada sesama. Apabila wanita hamil tidak mau melaksanakan tradisi bancakan saat terjadi gerhana maka dikhawatirkan janin yang dikandungnya nanti akan terlahir sebagai bayi yang cacat karena dimakan buto. Buto adalah tokoh mitos raksasa yang dianggap memakan bulan atau matahari sehingga terjadi gerhana. Masyarakat Jawa mengusir buto dengan cara membunyikan alat-alat rumah tangga, misalnya lesung dan alu.

Belum ada penelitian yang mengkaji kearifan lokal bancakan gerhana matahari di kalangan masyarakat Jawa. Sukmawan Wisnu Pradanta (2016) menulis Bancakan Weton sebagai salah satu tradisi ritual kejawen masyarakat Jawa yang sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Kota Surakarta. Kalaupun tradisi ini dijalankan tetapi sudah semakin jauh dari pakem. Kontrol lingkungan mengenai benar salah pelaksanaan tradisi bancakan weton sudah longgar. Pelaksanaan tradisi ini hanya dicuplik sesuai dengan yang diinginkan saja. Yang ada tinggal konsep yang bisa menyebabkan pemahaman makna dari simbol-simbol tradisi bancakan weton ini hilang.

Sebagian besar masyarakat Jawa percaya bahwa setiap kali kita berbuat baik dan bersedekah kepada sesama maka segala urusan dan hajat hidup kita akan dipermudah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Masyarakat Jawa yang beragama Islam maupun non-muslim selalu menggunakan tradisi bancakan maupun selamatan sebagai acara bersedekah kepada sesama manusia. Meskipun setiap keluarga memiliki kondisi ekonomi yang berbeda-beda dan kemampuan bersedekah yang berbeda pula, hal itu tidak mengurangi semangat mereka untuk gemar bersedekah sebagai rangkaian ibadah terhadap sesama manusia. Tradisi seperti ini harus terus kita lestarikan sebagai usaha memperkuat kerukunan antar umat beragama.

Bagaimana dengan kegiatan masyarakat Jawa di sekitar tempat tinggal Anda saat terjadi peristiwa alam gerhana matahari pada tadi siang? Apakah masyarakat Jawa di sekitar tempat tinggal Anda juga melakukan tradisi Bancakan Grahono untuk anggota keluarga mereka yang sedang hamil? Silakan berbagi pengalaman anda ketika hidup bertetangga dengan masyarakat Jawa pada kolom komentar di bawah ini.

Bagikan tulisan ini:

6 Replies to “Tradisi Bancakan Gerhana Matahari untuk Wanita Hamil di Kalangan Masyarakat Jawa”

  1. Nggak heran knp orang Jawa bnyk yg bertubuh gemuk. Tiap hari adaaaa aja bancakan dan makan2 bersama. Baik sih utk kerukunan. Tp kurang baik utk kesehatan.

  2. sayang sekali aku lagi merantau di tanah orang jadi nggak bisa mencicipi nasi liwet graono. semoga pandemi ini segera berlalu dan saya bisa pulang ke kampung halaman. I miss you, my homeland.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *