Tradisi Pawai Jenggi Keraton Surakarta dalam Perayaan Pesta Lebaran

Senyum santri TPQ Mojowarno Jombang
Senyum santri TPQ Mojowarno Jombang

Bagaimana kabar sobat blogger hari ini? Semoga kesuksesan selalu menyertai aktifitas Anda. The Jombang Taste kembali menyapa Anda melalui artikel obyek wisata budaya di Surakarta yang bernama Pawai Jenggi. Acara pawai budaya Jawa di Surakarta ini menjadi salah satu event budaya yang ditunggu-tunggu oleh banyak wisatawan. Pawai Jenggi menawarkan beragam keunikan dan kemeriahan yang menjadi daya tarik wisata Kota Solo.

Apabila bulan Ramadan berakhir, umat muslim merayakan berakhirnya bulan tersebut dengan berhari Lebaran atau Bakdan. Pada saat itu dileburlah dosa yang telah diperbuat selama setahun yang lalu. Berakhirnya bulan suci itu disambut dengan sangat meriah, karena merasa telah berhasil mengatasi segala percobaan atau godaan selama bulan Ramadan. Masyarakat Kota Solo memiliki tradisi unik untuk memeriahkan Lebaran Idul Fitri.

Tradisi Unik Menjelang Lebaran

Sekarang perayaan atau upacara menyambut lebaran tradisi keraton sudah banyak yang dihilangkan. Bagi orang-orang tua yang pernah mengalami hidup pada jaman pemerintahan raja tentu masih memiliki kenangan indah tentang upacara keraton menjelang hari Lebaran. Meskipun tidak hilang sama sekali, namun upacara yang ada sekarang tinggallah sebagian saja, disesuaikan dengan keadaan jamannya.

Kita dapat mengungkap cerita waktu raja beserta rakyat berpesta pora merayakan hari tersebut dengan berbagai upacara khas Keraton Surakarta. Apabila orang telah memasuki bulan Ramadan untuk hari yang kedua puluh satu, atau biasa disebut malem selikur dan maIem isi yang Iain, orang beranggapan bahwa mulai turunlah rahmat Tuhan, dan arwah-arwah orang yang telah mati meninggalkan kuburnya untuk mengunjungi ahli warisnya. Saat itulah umat muslim berlomba-lomba mengeluarkan sedekah, baik berupa uang, makanan maupun barang-barang berharga lainnya.

Pada hari setelah malem selikur itu orang diperbolehkan pergi berziarah ke makam ahli waris. Dan pada malem selikur itu orang membuat apem untuk sesaji. Juga pada malam-malam isi, yaitu setiap malam tanggal ganjil, anak-anak diperbolehkan untuk bermain-main tong-tong-hik. Permainan tradisional tong-tong-hik adalah salah satu cara bagi anak-anak Solo bersosialisasi dengan kawan-kawan baru lainnya.

Puncak dari keramaian malem isi biasa jatuh pada malem selawe atau malam kedua puluh lima. Pada hari itu berlangsunglah pesta besar, dan pada hari itu rakyat diperbolehkan masuk ke halaman Keraton. Pembukaan akses keraton untuk rakyat jelata merupakan salah satu bagian dari proses pendekatan diri dan pengayoman raja kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Semarak Pawai Jenggi

Pesta besar Keraton Surakarta dimulai dari Alun-alun Utara dan arak-arakan yang disebut Jenggi, semacam karnaval budaya Jawa yang diikuti oleh segenap lapisan masyarakat dalam kelompok-kelompok sendiri. Jenggi menurut kata orang berasal dari kata Jenghis Khan, raja bangsa Mongol yang telah berhasil menaklukkan beberapa negara, dan sangat diakui serta disegani oleh lawannya. Sebagai rasa hormat dan kagum terhadap Jenghis Khan maka dibuat arak-arakan pawai budaya pada hari-hari besar Tionghoa, yang menggambarkan kebesaran Jenghis Khan tersebut.

Memang semula Jenggi hanya diadakan pada hari-hari besar Tionghoa saja, tetapi lama-kelamaan tradisi tersebut berasimilasi dengan tradisi daerah. Maka pesta Jenggi dipakai juga dalam upacara tradisi pesta Lebaran. Karenanya pesta Jenggi menjelang Lebaran diikuti pula oleh kelompok orang Tionghoa. Kerukunan masyarakat Solo tampak dalam perayaan Pawai Jenggi yang menampilkan ragam budaya Surakarta dengan beraneka jenis etnis masyarakatnya.

Kasunanan Surakarta melaksanakan Pawai Jenggi dimulai dari Alun-alun Utara, kemudian masuk Keraton serta dengan melalui pintu tengah yang disebut Kori Kamandungan. Sementara itu Sri Susuhunan berada di Pendopo Keraton, didampingi oleh kerabat Keraton, putri-putri Keraton serta bedaya-bedaya. Sri Susuhunan menerima arak-arakan pawai Jenggi tersebut dengan gembira.

Para putri dan Bedaya tersebut semuanya memakai pakaian khas Keraton, hanya kembenan saja, yaitu kainnya dipakai sampai menutup dadanya, sedang baju tidak dipakainya. Bedaya adalah wanita cantik calon selir raya. Bedaya adalah wanita yang masih harus ditingkatkan kualitasnya dan kalau sudah menjadi baik maka dijadikan garwa ampiI raja.

Tuah Kori Magangan

Setelah arak-arakan memasuki Keraton dan sekedar memamerkan ketangkasan masing-masing, kemudian pawai tersebut meninggalkan tempat tersebut dengan melalui pintu belakang yang disebut Kori Magangan. Kori Magangan merupakan tempat markas para Prajurit Keraton. Dari Kori Magangan arak-arakan bergerak menuju ke barat dan keluar melalui pintu gapuro bagian barat. Setelah berada di luar, rombongan menuju Taman Sriwedari melalui Ngadijayan, Nonongan. Taman Sriwedari waktu itu masih bernama Kebun Raja, yang berarti kebunnya sang Raja.

Dengan adanya pesta rakyat dengan raja yang dimeriahkan dengan Pawau Jenggi tersebut, maka pada waktu itu orang-orang bebas memasuki halaman Keraton yang pada hari-hari biasa tidak sembarang orang diperbolehkan masuk. Di samping itu orang-orang senang mengikuti Jenggi dengan alasan agar dapat pula melihat putri-putri Keraton serta bedaya-bedaya yang cantik-cantik, yang tidak setiap saat dapat dilihatnya berhubung dengan ketatnya peraturan Keraton yang membatasi gerak bebas dari para putri tersebut.

Untuk memberi semangat kepada masyarakat peserta arak-arakan itu biasanya oleh raja juga disediakan hadiah-hadiah yang menarik kepada rombongan-rombongan Jenggi yang terbaik. Biasanya rombongan yang memegang kejuaraan itu berasal dari Laweyan atau Kauman. Kegiatan ini menjadi obyek wisata budaya unik di Surakarta dan mampu menarik kehadiran ribuan pengunjung dari berbagai kota di Pulau Jawa.

Keramaian di Taman Sriwedari

Kemeriahan Pawai Jenggi tidak berakhir disana. Pesta besar Pawai Jenggi yang bersifat kerakyatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pesta kembang api dan pertunjukan-pertunjukan lainnya, dan bertempat di taman Sriwedari. Pesta kembang api tidak akan dimulai sebelum Susuhunan beserta rombongan tiba di tempat tersebut.

Setelah Susuhunan yang disertai oleh Putri-putri serta sedaya-bedaya tiba, maka keramaian kembang api dimulai. Demikian pula pertunjukan-pertunjukan lainnya. Keramaian semacam itu berjalan sampai jauh malam. Keramaian di Taman Sriwedari menjelang hari Lebaran semacam itu lama-kelamaan menjadi tradisi setiap tahun.

Keramaian semalam itu oleh masyarakat Solo kemudian disebutnya Maleman Sriwedari dan diselenggarakan setiap menjelang hari lebaran. Pada malam hari setelah malem selikur dan kebetulan malam isi, maka tembok-tembok Keraton Solo dihias dengan ribuan lampu ting. Lampu ting terbuat dari gelas berisi lilin dan ditempelkan pada dinding tembok Keraton Solo sehingga menghasilkan pemandangan malam yang luar biasa indahnya.

Keraton Surakarta Bermandikan Cahaya

Lampu-lampu ting yang menempel di dinding Keraton Surakarta dibentuk sedemikian rupa, sehingga pada malam hari memancarkan sinar yang indah dan membentuk gambar tertentu. Maka pada malam-malam hari isi Keraton Solo tampak dari jauh sangat indah dengan ribuan pancaran lampu ting yang beraneka warna tersebut.

Pada malam seperti itu kelompok yang sangat bergembira adalah anak-anak kecil. Dengan perlengkapan sebuah pelita yang dibuat sendiri maka pelita tersebut dapat memancarkan sinar ke segala arah dengan teratur dan baik. Di sela-sela pancaran cahaya malam, anak-anak secara bergerombol berjalan bersama, dengan melagukan sebuah lagu dengan syair yang seragam. Adapun syairnya berbunyi: Tong-tong-jik jadah jenang wajik, ja lali tinge kobong, ja kobong-kobong tinge, kobonga cuplakane.

Nyanyian tersebut dibawakan secara beramai-ramai dan sambil berjalan di tempat-tempat yang gelap. Pancaran cahaya lilin di sepanjang tembok keraton berbaur dengan keceriaan anak-anak yang bernyanyi sambil memainan permainan tradisional Jawa. Akhir dari segala keramaian pada hari Lebaran ialah tepat pada hari Bakda atau hari Lebaran. Hari Lebaran ditandai dengan adanya upacara selamatan di Masjid Besar.

Sepasang Gunungan Tumpeng Raksasa

Adapun upacara selamatan Keraton Surakarta didahului oleh upacara sesaji gunungan. Gunungan adalah upacara mengarak tumpeng-tumpeng besar dari keraton dibawa ke Masjid Besar untuk dilaksanakan doa bersama dan selamatan di sana. Tujuan dari kegiatan ini adalah bersyukur atas nikmat di hari Lebaran dan memohon berkah Tuhan supaya masyarakat Surakarta selalu sehat, memiliki rejeki melimpah dan bertambah tingkat keimanan dan ketakwaannya.

Sesaji inilah yang menjadi Hajad Dalem atau selamatan Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono. Upacara sesaji Gunungan semacam itu tidak hanya dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri saja, namun juga pada Hari Raya Idul Adha dan pada bulan Maulud atau Rabiul Awal. Selamatan ini berfungsi layaknya sedekah seorang pemimpin kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Gunungan selamatan terdiri dari tumpeng raksasa yang dibuat daripada nasi lengkap dengan lauk-pauk. Bentuk dan macam gunungan yang dibuat berbeda-beda. Gunungan Putra berbentuk runcing sedangkan Gunungan Putri berbentuk papak atau berujung tumpul. Keduanya merupakan satu pasang gunungan tumpeng. Demikian budaya Jawa memiliki kekayaan falsafah hidup dan simbol-simbol yang menyertainya menjadi daya tarik kunjungan wisatawan.

Adapun jumlah pasang tumpeng raksasa tersebut tergantung kedudukan raja yang mempunyai hajad. Misalnya pada waktu Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X mempunyai hajad dengan membuat gunungan sebanyak 10 pasang atau 20 buah tumpeng. Jadi banyak gunungan itu disesuaikan dengan kedudukan Raja Surakarta yang bertahta. Semua tumpeng tersebut disiapkan di Sekul Langgi.

Baru setelah Sri Susuhunan memerintahkan kepada Nyai Tumenggung, Sekul Langgi itu dibawa ke Masjid Besar, maka perintah raja tersebut oleh Nyai Tumenggung diteruskan kepada Patih Dalem. Kemudian oleh Patih Dalem hajad dalem itu diperintahkan agar dibawa ke Masjid Besar untuk diberi doa oleh penghulu. Doa tersebut berisi ucapan syukur atas keberhasilan tahun ini dan harapan untuk mencapai kesuksesan masyarakat Solo di masa depan.

Kemeriahan di Masjid Besar Solo

Saat prosesi pengarakan gunungan berlangsung, rakyat telah berjejal-jejal di Alun-alun Utara untuk melihat arak-arakan Gunungan. Masyarakat bersemangat menanti gemuruh suara meriam sebagai penutup arak-arakan gunungan. Setelah Kanjeng Sinuwun tedhak siniwoko atau telah bersiap berada di Sitihinggil, maka keluarlah gunungan dari keraton.

Para petugas gunungan ialah abdi dalem Gedhong Kiwa, Gedhong Tengen dan Kalang Kemasan. Sedangkan sebagai pengusungnya abdi dalem keratin. Dari Sitihinggil, arak-arakan tersebut kemudian melalui Pagelaran, Alun-alun Utara dan selanjutnya menuju Masjid Besar Solo. Arak-arakan gunungan menuju ke Masjid Besar dikelilingi masyarakat dan suasananya sangat ramai.

Iring-iringan upacara ini didahului oleh Prajurit Tamtama kemudian diikuti barisan Abdi Dalem Keparak yang bersenjatakan tombak dan aneka senjata lainnya. Sebelum gunungan didahului oleh canthang balung, yaitu dua orang badut yang menari-nari dan melakukan gerak-gerik yang menarik perhatian orang karena lucu. Semua jenis hiburan rakyat ini mampu memberikan dampak bagi kemajuan masyarakat setempat. Pawai budaya Keraton Solo ini telah membuka kesempatan bagi warga Solo untuk berdagang aneka wisata kuliner Solo, kerajinan tangan khas Solo, maupun aneka industri kreatif lainnya.

Demikianlah kemeriahan upacara gunungan di Kota Solo yang berupa arak-arakan dari depan Sitihinggil sampai pintu gerbang Masjid Besar Surakarta. Setelah masuk pintu gerbang masjid, maka langsung dibawa masuk ke masjid untuk kemudian diberi doa oleh Pengulu. Setelah hajad dalem serta doa dilaksanakan, kemudian nasi tumpeng dibagi-bagikan kepada masyarakat untuk makan bersama-sama. Acara makan bersama yang dilakukan oleh warga Solo ini mampu mengakrabkan warga setempat dengan para wisatawan yang hadir disana.

Selesainya hajad dalem itu ditandai dengan dentuman meriam oleh Prajurit Keraton yang disebut Prajurit Setabelan, yaitu prajurit yang biasa membunyikan meriam. Maka dilanjutkan defile para prajurit untuk kembali menuju ke dalam keraton lagi. Meski arak-arakan prajurit sudah kembali ke keraton, masyarakat yang menyaksikan Pawai Jenggi belum beranjak pulang. Mereka masih ingin menikmati keramaian yang tercipta di pusat Kota Solo tersebut.

Demikian artikel seni budaya dan obyek wisata budaya di Kota Solo bersama The Jombang Taste. Mari kita gali kekayaan budaya Nusantara agar semakin dikenal oleh anak-cucu kita. Semoga tulisan ini bisa menambah kecintaan Anda terhadap upaya pelestarian budaya Indonesia.

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

6 Replies to “Tradisi Pawai Jenggi Keraton Surakarta dalam Perayaan Pesta Lebaran”

  1. mau tidak mau, inilah fakta budaya tionghoa turut membangun budaya nusantara. jangan keburu menyalahkan warga etnis cina karena mereka juga bagian dari indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *