Tradisi Sedekah Barikan Menjelang Tanggal 17 Agustus di Dusun Guwo

Masyarakat Dusun Guwo memiliki tradisi barikan yang dilakukan menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Malam ini (16/08/2018) umat muslim yang melaksanakan sholat maghrib di Masjid Baitussalam tidak beranjak pulang usai membaca tahlil hari Kamis. Tahlilan adalah rutinitas doa bersama yang dilakukan warga muslim dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU) setiap malam Jumat. Acara berdoa kali ini terasa istimewa karena dilakukan jelang tanggal 17 Agustus 2018. Mereka berkumpul di serambi masjid dengan menghadap puluhan nampan berisi jajan pasar. Jajan pasar adalah sebutan untuk kue, kerupuk, dan aneka makanan tradisional Jawa yang dijual di pasar.

Beberapa anak kecil tampak sedang menunggu doa bersama dengan tidak sabar. Mereka berulangkali membuka kain taplak yang menutupi nampan-nampan yang berisi makanan. Ketua takmir masjid lantas memimpin doa bersama. Sekitar 80 orang jamaah masjid yang hadir pun lantas mengamini doa tokoh agama tersebut. Setelah doa selesai, anak-anak segera menyerbu makanan yang tersaji. Mereka berebut jajan kesukaannya dengan bersemangat. Satu per satu bungkusan jajan terkumpul di pangkuan masing-masing anak. Begitu selesai terkumpul, mereka kebingungan cara membungkusnya. Akhirnya sarung mereka jadi alas makanan hasil sedekah barikan malam ini.

Anak-anak kecil merupakan kelompok yang paling berbahagia atas pelaksanaan tradisi barikan. Mereka menyambut dengan antusias sambil berkumpul menunggu doa bersama sampai akhirnya makan jajan bersama teman-temannya. Kebanggan mereka bertambah lagi manakala mampu membawa beberapa bungkus makanan ke rumah untuk dibagikan kepada keluarga di rumah. Ini seperti seorang pekerja yang baru saja pulang membawa hasil pekerjaan mereka.

Kegiatan sedekah barikan menjelang malam peringatan HUT Kemerdekaan RI bukan hanya dipusatkan di masjid. Sebagian warga memilih berkumpul di perempatan jalan raya Guwo. Mereka berjongkok di pinggir jalan sesuai jalur pembuangan air. Masyarakat yang memilih sedekah barikan kesini umumnya berasal dari kelompok Islam Abangan. Mereka hampir tidak pernah menginjakkan kaki di masjid sehingga enggan berkumpul dengan warga jamaah sholat maghrib. Ini soal pilihanĀ  saja. Apapun pilihan mereka sah-sah saja. Niat sedekah untuk berbagi makanan itu baik dan jangan dipersulit. Tradisi barikan ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi budaya warga Guwo. Melestarikan kebudayaan bersedekah adalah tugas kita semua.

Bagikan artikel ini melalui:

22 Replies to “Tradisi Sedekah Barikan Menjelang Tanggal 17 Agustus di Dusun Guwo”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *