Riyaya Kupat, Kearifan Lokal Jawa yang Tak Tergusur Wabah Virus Corona

Halal Bihalal Keluarga Besar Sekolah Dasar Kecamatan Mojowarno Tahun 2018
Ketupat Lebaran dan Halal Bihalal Keluarga Besar Sekolah Dasar Kecamatan Mojowarno Tahun

Riyaya Kupat merupakan tradisi masyarakat muslim Jawa yang dilaksanakan beriringan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Pada umumnya Riyaya Kupat dilaksanakan tanggal 5 Syawal oleh penduduk yang tinggal di pedesaan. Namun untuk umat Islam yang bermukim diwilayah perkotaan, Riyaya Kupat berlangsung sejak tanggal 1 Syawal bersamaan dengan pelaksanaan sholat Id. Kearifan lokal masyarakat muslim Jawa ini menunjukkan besarnya sikap welas asih terhadap sesama. Pemilihan waktu pelaksanaan Riyaya Kupat biasanya ditentukan oleh waktu yang tepat bagi setiap anggota keluarga untuk kumpul bersama.

Perayaan Idul Fitri tahun ini berlangsung dalam suasana prihatin akibat pandemi Corona. Tidak ada semarak halal bihalal antar keluarga besar. Bahkan, anjangsana antar tetangga pun ditiadakan dengan alasan pemberlakukan social-distancing dan physical-distancing. Akibatnya, kue-kue lebaran banyak yang tidak tersentuh tamu di rumah-rumah penduduk. Kendati demikian, tradisi Riyaya Kupat di tempat tinggal penulis tetap berlangsung dengan sederhana.

Tradisi Riyaya Kupat diawali dengan kegiatan membuat ketupat, lontong, dan lepet. Proses memasak beras menjadi ketupat, lontong, dan lepet membutuhkan waktu berjam-jam. Tak jarang, kegiatan memasak ketupat melibatkan seluruh anggota keluarga. Biasanya emak-emak membagi tugas kepada anak-anaknya. Tugas itu dibagi mulai dari pekerjaan membuat klontongan ketupat, mengisi beras, menjaga perapian, membuat bumbu opor ayam, memasak sayur lodeh, hingga membagi-bagikan hasil masakan ke rumah saudara dan tetangga di sekitar rumah.

Penulis bersyukur tinggal di lingkungan masyarakat desa yang masih memegang erat kerukunan hidup. Meskipun wabah virus corona terus mengintai warga, kami semua dapat hidup dengan saling percaya dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pintu masuk dan keluar desa hanya ada satu. Jalur masuk desa lain telah ditutup oleh pemerintah desa demi alasan keamanan dari tamu kota, pendatang yang tidak diinginkan, serta mencegah terjadinya tindak kriminal.

Para pedagang sayur pun tak luput dari pengawasan petugas Posko Tanggap Corona yang terletak di gapura desa sisi timur. Penjual janur hilir-mudik melapor ke posko. Sesama warga desa saling berkirim sayur ketupat ke rumah. Sebagian warga berkirim sayur ketupat ke rumah saudara yang terletak di luar dusun. Tak ayal lagi, pintu masuk desa menjadi sangat ramai di setiap pagi dan sore hari. Wabah corona yang melanda seluruh dunia tidak menghalangi umat muslim di Kabupaten Jombang untuk merayakan tradisi Riyaya Kupat.

Hikmah dari pelaksanaan Riyaya Kupat di tengah pandemi corona ini adalah kita semua harus selalu bersyukur terhadap kondisi hari ini. Walaupun pendapatan para kepala keluarga telah menurun drastis selama pandemi berlangsung, namun kita semua semestinya selalu mengucap terima kasih karena masih diberikan kerukunan hidup dengan keluarga dan dalam keadaan sehat wal afiat.  Bagaimana dengan pelaksanaan tradisi Riyaya Kupat di lingkungan tempat tinggal Anda? Apakah Anda sekeluarga masih bisa menikmati sayur ketupat di tengah pandemi corona ini? Silakan berbagi cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Riyaya Kupat, Kearifan Lokal Jawa yang Tak Tergusur Wabah Virus Corona”

  1. Kupat artinya ngaku lepat.
    Mengakui kesalah diri sendiri.
    Baik kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *