5 Alasan Tidak Perlu Memprioritaskan Pembangunan Gedung TPQ

Kegiatan Belajar Santri Marhalah TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang
Kegiatan Belajar Santri Marhalah TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang

Isu pembangunan gedung baru untuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) menjadi perbincangan menarik bagi warga desa tempat tinggal penulis. Gedung TPQ akan dibangun di atas tanah milik sekolah dasar. Antar warga saling beradu pendapat mengenai perlu tidaknya pembangunan gedung TPQ tersendiri, terpisah dari musholla. Usul pembangunan gedung TPQ tersebut berasal dari salah satu tokoh agama setempat. Beliau adalah pensiunan guru Pendidikan Agama Islam yang baru saja menunaikan ibadah haji.Alasan yang dikemukakan cukup logis, yaitu agar para santri memiliki tempat belajar tersendiri yang terpisah dari musholla. Niat itu sangat bagus. Hanya saja, pembangunan gedung TPQ membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan harus diperhatikan tingkat kemaslahatannya.

Pembangunan gedung TPQ mampu menjadi tempat pendidikan yang representatif bagi anak-anak di desa. Terlebih kemajuan internet telah menggembosi akhlaq generasi muslim masa kini, maka dibutuhkan pendidikan agama yang menyeluruh dimulai dari keluarga, sekolah hingga lingkungan tempat tinggal. Namun ada kalanya pembangunan gedung TPQ tidak perlu diprioritaskan oleh masyarakat dengan memperhatikan lima hal berikut:

Pertama, tanah yang diusulkan untuk pembangunan gedung baru TPQ harus milik yayasan atau milik desa, bukan milik Pemerintah Daerah.

Lahan yang diajukan masyarakat untuk pembangunan gedung baru saat ini adalah milik Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang dan telah bersertifikat. Ketentuan yang berlaku di Indonesia saat ini adalah tanah milik Pemda hanya dapat dibangun dengan dana dari Pemda juga, tanpa campur tangan dana masyarakat. Mengapa? Hal ini berkaitan dengan hak dan kewajiban penggunaan aset daerah.

Kedua, serambi musholla masih mampu menampung jumlah santri yang belajar mengaji baca-tulis kitab suci Al-Quran.

Jika luas serambi masjid atau musholla yang menjadi lokasi KBM TPQ selama ini masih cukup luas untuk belajar dan masih leluasa untuk gerak santri maka tidak diperlukan pembangunan gedung baru. Berdasarkan pengalaman penulis mengajar santri TPQ, ruangan yang luas bukan faktor penentu penyerapan materi TPQ. Untuk santri paket dasar malah lebih baik menggunakan ruangan terbatas agar mereka bisa lebih fokus belajar.

Ketiga, dana infaq, sedekah dan wakaf dapat digunakan untuk kebutuhan umat muslim dan dakwah sosial kemasyarakatan.

Prioritas pembangunan umat Islam tidak dapat diletakkan pada pembangunan sarana dan prasarans saja. Masih banyak orang Islam dan anak yatim hidup di bawah garis kemiskinan dan mereka tinggal tidak jauh dari musholla usulan tempat yang akan dibangun gedung baru tersebut. Fakir miskin dan anak yatim dhuafa itulah kelompok yang paling berhak menerima dana zakat, infaq, sedekah dan wakaf dari masyarakat.

Keempat, pemanfaatan gedung sekolah yang kosong untuk tempat belajar santri di sore hari.

Saat ini sekolah yang berbatasan dengan musholla memiliki rumah dinas yang tidak terpakai. Jika memang masyarakat menginginkan memiliki gedung TPQ tersendiri, maka rumah dinas tersebut bisa digunakan. Biaya perbaikan rumah dinas tentu lebih sedikit daripada pembangunan gedung baru. Pemanfaatan aset daerah untuk kegiatan belajar masyarakat diperbolehkan sepanjang melalui prosedur yang tepat dan penggunaan yang tepat pula. Sekolah mana yang tidak mendukung pendidikan agama di masyarakat? Tentu semua guru juga berharap murid-muridnya terampil melaksanakan ibadah di masyarakat.

Kelima, gedung baru bukanlah jaminan kemajuan sebuah TPQ.

Penulis telah aktif dalam pendidikan TPQ sejak 2012 hingga saat ini, baik sebagai pengajar, administrator maupun kepala. Dalam kurun waktu enam tahun ini penulis sudah mengalami pasang-surut problematika TPQ. Masalah krusial pengembangan TPQ adalah pada kualitas dan kuantitas gurunya, bukan gedungnya. Gedung megah dan indah tidak mampu mendidik santri. Guru adalah kunci sukses pendidikan Islam. Jadi, kalau mau membenahi pendidikan TPQ, rekrut guru TPQ sebanyak-banyaknya, bina mereka secara berkala, dan jamin kesejahteraan hidupnya sehingga Anda dapat membenahi kualitas guru TPQ tersebut.

Bagaimana dengan pengembangan pendidikan santri di TPQ terdekat dengan rumah Anda? Apakah lingkungan Anda juga memiliki masalah serupa dengan penulis? Silakan berbagi pikiran di kolom komentar.

Bagikan artikel ini melalui:

14 Replies to “5 Alasan Tidak Perlu Memprioritaskan Pembangunan Gedung TPQ”

  1. Pengen ketawa baca tulisan ini. Kok ya masih ada orang kayak gitu. Seharusnya tokoh tua bisa merangkul masyarakat muda.

  2. Bersabarlah dalam berdakwah mas. Sesepuh harusnya memberi teladan. Jika dia salah melangkah, yang muda harus mau mengingatkan.

  3. Syukuri saja mas keadaan ini. Itu artinya mas Agus sdh berada di top level makanya banyak orang iri dan ingin menjatuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *