Pendidikan Islam Dilanda Kurangnya SDM yang Mampu Mengajar TPQ

Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang dengan Metode At-Tartil
Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang dengan Metode At-Tartil

Tidak bisa disangkal lagi bahwa saat ini terdapat fenomena berkurangnya orang dewasa dan remaja untuk menjadi pengajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Begitu banyak lembaga TPA mengaku kekurangan guru. Kegiatan belajar mengajar di TPA pun berjalan tidak lancar akibat keterbatasan sumber daya manusia pengajar.

Masalah rendahnya minat menjadi guru Quran ini dapat dibuktikan dengan berkurangnya minat pemuda dan pemudi sebagai penyambung ilmu kepada anak-anak. Mereka enggan untuk menjadi ustadz karena berbagai alasan. Ada pengajar TPA yang sibuk dan ada yang menyibukan dirinya padahal aslinya santai. Tipe pengajar terakhir ini bisa dibilang sok-sok sibuk. Mereka seakan tak mau tahu akan kegiatan pendidikan di TPA.

Wajar saja anak-anak muda kurang berminat menjadi pengajar TPA karena profesi ini tidak menjanjikan gaji yang berlimpah. Kebanyakan guru TPA mendapatkan bisyaroh tidak lebih dari Rp50.000 sampai Rp100.000 per bulan. Uang segitu tentu tidak cukup untuk sekedar beli bensin sebulan. Alhasil, pemuda di desa-desa lebih memilih hijrah ke kota besar dan mencari pekerjaan tetap disana.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Pendidikan Islam Dilanda Kurangnya SDM yang Mampu Mengajar TPQ”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *