Pengurus Masjid Cuek, Taman Pendidikan Al-Quran Jalan Ditempat

Fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat muslim Indonesia adalah musholla dan masjid biasanya diurusi oleh masyarakat secara individual. Keberlangsungan musholla ada ditangan orang per orang. Semua biaya penyelenggaraan ibadah ditanggung olehnya. Namun karena berbagai faktor timbul keengganan untuk mengurusi ataupun menyelesaikan masalah yang dihadapi di Taman Pendidikan al-qur’an padahal keberlangsungan sistem pendidikan di taman pendidikan al-qur’an merupakan kunci bagi regenarasi masyarakat muslim di pedesaan.

Jika kita berkaca pada kehidupan Islam pada masa lalu di era Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam, masjid memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Madinah. Masjid adalah pusat kehidupan masyarakat. Kehidupan masjid mampu menjadi solusi bagi penyelesaian berbagai permasalahan masyarakat di bidang pendidikan, hukum, sosial, ekonomi, bahkan kesenian. Peran vital masjid memegang kunci bagi perkembangan kebudayaan Islam pada masa lampau.

Bergeser ke era zaman sekarang fungsi masjid telah berubah. Banyak sekali hal-hal yang telah hilang dari fungsi masjid. Saat ini masjid berperan utama sebagai tempat ibadah saja. Selain fungsi itu, masjid tidak memiliki banyak komitmen dan kepentingan dalam pendidikan masyarakat, khususnya Taman pendidikan Alqur’an untuk anak-anak. Para pengurus Masjid yang semestinya mampu mengayomi pemenuhan kebutuhan pendidikan Islam bagi masyarakat justru berpangku tangan menyaksikan berbagai hambatan-hambatan yang dialami oleh guru al-qur’an di masyarakat.

Para pengurus masjid berkilah bahwa dana infaq dan sedekah yang dihimpun dari Jamaah masjid atau mushola harus diperuntukkan untuk pembangunan gedung masjid ataupun gedung mushola. Kita semua memaklumi hal itu. Namun sejauh mana pembangunan itu terus dilakukan lalu merupakan esensi utama bahwa setiap gedung harus ada penghuninya. Penghuni tempat ibadah masjid dan musholla adalah orang-orang Islam. Di dalam diri orang-orang Islam itulah sebenarnya perlu pembangunan yang lebih nyata. Pembangunan mental dan jiwa orang-orang Islam harus dilakukan beriringan dengan pembangunan secara fisik pada penyediaan sarana dan prasarana ibadah.

Mungkin kita harus berhenti sejenak dalam mengikuti aktivitas sehari-hari. Mari kita renungkan bahwa dalam kurun waktu 10 sampai 20 tahun kedepan anak-anak itulah yang akan memegang peran utama dalam kehidupan masyarakat ketersediaan pendidikan Islam yang baik bagi masyarakat diharapkan mampu mengurangi dampak buruk era globalisasi yang telah sedikit demi sedikit menghancurkan sendi-sendi kehidupan di bidang agama. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi para pengurus Masjid untuk lebih bijak dalam memperhatikan keberlangsungan sistem pendidikan Islam dalam Taman Pendidikan al-qur’an di tempat tinggalnya masing-masing.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Pengurus Masjid Cuek, Taman Pendidikan Al-Quran Jalan Ditempat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *