Pengurus TPA Kurang Solid Ancam Keberhasilan Pendidikan Islam di Desa

Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang menggunakan Buku At-Tartil
Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang menggunakan Buku At-Tartil

Benarkah Para pengurus Taman pendidikan al-qur’an di Indonesia saat ini ini tidak memiliki cukup kekompakan dalam mengelola pendidikan Islam di masyarakat ?Hal ini dapat dibuktikan dengan kurang berlangsungnya TPA. Pengurus TPA seakan enggan mengurus TPA karena kesibukan pribadi hal ini dikarenakan karena TPA hanya diurus oleh seorang ustadz saja.

Kebutuhan ekonomi menjadi faktor utama mengapa masyarakat sekarang enggan menjadi pengajar Taman Pendidikan al-qur’an di desa-desa? Pemenuhan kebutuhan sehari-hari para pengajar Alquran telah memaksa setiap orang pintar yang bisa membaca Alquran untuk berhenti sejenak mengajar. Apalagi jika para pengajar Alquran itu telah memiliki pasangan hidup dan keturunan yang jumlahnya tidak sedikit, maka seringkali mereka terpaksa berhenti mengajar karena sibuk bekerja mencari uang.

Melihat kenyataan tersebut di lapangan, para pengurus masjid pun sepertinya menutup mata. Para takmir masjid yang diharapkan bisa menjadi penggerak program dakwah di masjid seolah lepas tangan dan tidak mau tahu terhadap perkembangan Taman Pendidikan Alquran. Manajemen Pendidikan Islam di Taman Pendidikan Alqur’an di desa-desa bisa dikatakan selama ini tertata tidak rapi. Mereka hanya mengandalkan waktu luang saja untuk mengajar. Sementara itu Taman Pendidikan Alqur’an tidak memiliki alokasi waktu yang jelas dalam mengajar Santri. Ketidakjelasan program pengajaran itu disebabkan karena tidak adanya kurikulum pendidikan yang diterapkan di Taman Pendidikan Alqur’an.

Solusi mengurai benang kusut sistem pendidikan anak-anak di taman pendidikan al-qur’an adalah dengan menerapkan standarisasi pengajar Al Quran. Setiap pengajar Taman Pendidikan Al-qur’an idealnya telah mengikuti dan lulus program pendidikan intensif pengajar Alquran. Saat ini telah banyak dilakukan pelatihan dan pendidikan guru pengajar Al Quran di berbagai kota di Indonesia. Program ini sangat baik untuk membuka wawasan setiap guru al-qur’an agar mereka mampu memperbaiki manajemen Taman Pendidikan al-qur’an menjadi lebih baik.

Sayang seribu sayang, program pembinaan pengajar Alquran yang dilakukan secara intensif seringkali menemui hambatan di tengah jalan. Para calon pengajar Qur’an itu awalnya sangat bersemangat mengikuti pendidikan. Namun lama-kelamaan pemenuhan kebutuhan ekonomi menjadi dalang utama bagi kegagalan program intensif guru Quran ini. Para guru mulai kesulitan ekonomi dan lebih mementingkan pekerjaan untuk menghasilkan uang daripada mempelajari strategi dan metode mengajar al-qur’an yang baik dan benar.

Bagikan tulisan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *