Apakah Artikel Ini Berat Dibaca?

Banyak artikel bermutu menjadi tenggelam di antara artikel lainnya. Padahal secara konteks dan konten sudah sangat mencukupi untuk sebuah artikel best reader. Namun kenyataan tidak selalu demikian. Waktu blogwalking saya intip jumlah pengunjung blog dan komentar yang masuk, ternyata nggak sesuai bayangan saya.

Lantas saya berpikir, apa yang salah dengan tulisan tersebut. Kalau menurut saya sih gaya bahasa yang dipakai nggak terlalu berat, desain blognya bagus, struktur kalimat oke, istilah asing pun tidak ada. Meski minim becanda, tetap saja enteng dipahami. Nggak tahu lagi kalau menurut pembaca lainnya.

Gaya Membaca Yang Berbeda-beda

Dalam salah satu buku psikologi, saya lupa entah judulnya yang mana, disebutkan bahwa orang mempunyai cara yang berbeda-beda dalam ‘mencerna’ sebuah kalimat. Ada yang bisa langsung menerima, ada pula yang mesti melewati saringan dulu. Sementara lainnya lebih suka mempertanyakan originalitas ide.

Hal inilah yang kerap kali menciptakan standard yang berbeda dalam mengapresiasi sebuah tulisan. Untuk artikel blog pribadi, saya sendiri terbiasa membaca dengan cara scanning. Nggak semua kalimat saya baca. Cukup saya ambil poin-poin utama yang membentuk kesatuan pemikiran secara umum. Ini bukan contoh yang baik dan harusnya tidak ditiru.

Usia Blogger Menentukan Cara Penyampaian

Meski bukan ukuran mutlak, usia seseorang akan berpengaruh terhadap cara menulis. Pengalaman-pengalaman hidup yang terendap dalam pikiran akan diwujudkan dalam bentuk tulisan. Seorang remaja ABG dan bapak-bapak tentu memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Solusi atas permasalahan yang dipilih pun sangat mungkin tidak sama.

Nah, dalam proses penuangan ide inilah emosi seseorang terlibat. Emosi disini berperan dalam hal kemampuan mengelola nada bicara, intonasi kalimat, ke-stabil-an sudut pandang dan yang pasti adalah diksi atau pilihan kata. Pernah baca artikel Aa’ Gym dan Tika Banget? Coba teliti keduanya. Nah, kiranya Anda sudah bisa menebak apa yang saya maksud ini.

Pengaruh Pemakaian Istilah Asing

Saya sendiri nggak terlalu sering memakai istilah asing waktu ngeblog. Sebisa mungkin saya mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia. Kecuali untuk beberapa kata populer, spesifik dan memang lebih tepat memakai istilah asing, baru deh saya pakai langsung.

Hal ini tidak berlaku bagi blog dengan segmentasi khusus dengan narasumber dari luar. Misalkan akuntansi, desain, kedokteran, kimia, fisika dan beberapa topik khusus lainnya. Pada umumnya para profesional dan freelancer lebih suka memakai istilah asli dari sononya agar komunikasi dengan calon klien dapat berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan miskomunikasi.

Seringkali gaya penulisan tidak dibatasi oleh formal dan non formal. Akibat pengaruh situs jejaring sosial, ada kecenderungan orang mulai menentukan kualitas artikel berdasarkan kesegaran informasi yang terkandung di dalamnya. Plus sedikit sensasi yang ditawarkan tentunya. Kalau tulisan tersebut nggak bikin heboh, orang biasanya males membaca.

Bagaimana menurut Anda? Mungkin ada ide lain tentang hal-hal yang mempengaruhi transfer informasi melalui artikel blog? Silakan share disini.

42 Replies to “Apakah Artikel Ini Berat Dibaca?”

  1. Saya mau nambahin ne mas, kl menrut sya…

    Pola pikir pembaca lebih mendominasi dalam menentukan suatu artikel itu berat atau mudah untuk ditarik maknanya, selain itu tipe pembacanya sendiri, dy hoby g ma baca2 artikel blog.. he..he..

    Just My Opinion

  2. 3 point di atas cukup mewakili sebenarnya. cuma ada tambahan sedikit. Jika pertanyaannya. “Apakah artikel ini berat di baca?” mungkin bisa juga seperti ini:
    1.Tak kenal maka tak sayang.
    2.popularitas si empu blog sendiri.
    dan jika tentang hal-hal yang mempengaruhi transfer informasi melalui artikel blog? itu tergantung dengan minat para reader sendiri. karena setiap orang memiliki hobby dan ketertarikan berbeda-beda, begitu juga saat dia ingin membaca sebuah artikel yang akan memilah dan memilih dulu. sekalipun artikel itu bagus.

    1. hmm, tambahan yang bagus. para pembaca sudah kenal saya belum ya? khawatirnya nggak ada yang tahu nama Agus Siswoyo. hahaha…

  3. Saya setujuh dengan komentar mas Andi Sakab di atas. Sebagus apa pun artikel yg di muat jika tidak di kenal banyak org apalah daya untuk mendapatkan respon yang banyak di artikelnya??
    Saya sering juga menemui blog seperti itu, bagus dan bermutu, juga tidak terlalu berat di baca, tapi kok ya sepi dari kunjungan.
    Kan sayang artikelnya,,, 😀

    1. sepi kunjungan berarti belum bisa promosi dengan maksimal. atau justru belum tahu jurus 3 Langkah Menjadi Seleblogger?

  4. Banyak faktor memang yang menentukan respon pembaca terhadap sebuah artikel.
    Terlepas dari itu semua, menyoroti perkara komentar, banyak dan tidaknya komentar pada sebuah artikel tidak melulu terkait dengan standar sebuah artikel. Namun, kepopuleran blog tersebut menentukannya. Salah satunya ya… seperti diungkap oleh AS.com pada artikel sebelumnya 😀

    1. Walah saya kira ini guru Matematika saya yang jadi ketua geng motor yang tiap tahun touring. Hehe ternyata salah :p

      1. ada pak guru ya? mana… mana….
        kasih salam dong… 🙂

        tapi kalau guru tersebut jadi ketua geng, dijamin murid-murid ngeri juga jadinya…

    2. ups! kalau komen disini dilarang bikin arisan loh ya. arisan singapore nggak boleh. apalagi arisan brondong. hahaha…

    1. blogwalking bukan cuma meninggalkan komentar. sekedar berkunjung tanpa komen pun sudah saya anggap blogwalking. hehehe.

  5. Respon pembaca terhadaps sebuah artikel yang dibaca nya memang sangat beragam. bisa jadi dia terpsesona dengan si empunya blog ( bukan arena tulisannya ) tapi menurut saya ini sah saja. toh,barangkali memang si empunya blog cukup memiliki skill yang nyata namun gaya penulisannya kurang kuat untuk menarik pembaca. lalu bagaimana nasibnya dengan Blog saya mas ? mohon masukannya Guru…

    1. tulisan bli Andri sudah bagus. isinya berbobot dan pembahasan mantab. tapi bahasa yang dipakai terlalu umum. waktu baca artikel bli Andri, saya seperti membaca surat kabar terbitan ibukota. kurang adanya sentuhan personal.

      saran saya, berilah sentuhan personal di setiap artikel. menentukan ciri khas sendiri memang nggak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. ini bisa di dapat dari latihan menulis secara konsisten. saya aja baru ketemu gaya menulis seperti ini pada saat ngeblog sudah jalan setahun. hehehe.

  6. Mohon maaf bro, maksud kalimat “jumlah pengunjung blog dan komentar yang masuk, ternyata nggak sesuai” itu bagaimana bro? Apakah artikelnya banyak yang berkunjung sedikit komentar atau?
    Kalau saya sendiri tidak selalu harus meninggalkan komentar untuk artikel yang saya baca, seperti pada blog ini. Setiap ada artikel baru di blog ini pasti saya baca, namun saya ngga selalu meninggalkan komentar.

    1. ya, saya juga paham kalau semua pembaca tidak selalu meninggalkan komentar waktu blogwalking. dan saya tidak mempermasalahkan hal ini. udah dibaca saja sudah makasih banget. berarti mereka menghargai tulisan saya. 🙂

  7. usia blogger menentukan cara penyampaian artikel, termasuk juga sifat karakteristik individu juga berpengaruh terhadap penyampaiannya hehehe kalo Sule yang nulis kan beda sama Pak Renald Kasali dalam nulis blog wkwkwkwk

    1. apalagi Aziz pas…pas…pas… pasti la..la…laa…lamaaa… nggak ha..ha…ha…hamil, eh haabis… habis… 😀

  8. Wah berat-ringan itu kan relatif. Kalau habis baca buku, baca artikel ya enteng banget buat refreshing. Tapi kalau suka berita gossip, artikel itu seperti jamu. Walau perlu, tapi kalau bisa dihindari, kenapa tidak ? 😀

    Salam.

  9. Jumlah komentar yang masuk belum tentu mencerminkan kualitas tulisannya sih. Bisa saja minim komentar, tapi ternyata pageviews-nya sangat tinggi. Jika dikaitkan dengan jumlah pengunjung blognya yang minim (padahal tulisan-tulisannya berkualitas), bisa saja karena kurang promosi atau karena judul kurang menarik (sangat menentukan jika pengunjung mengakses dari situs referensi atau mesin pencari).

  10. Kalau menurut saya..berat dan ringannya sebuah artikel dikembalikan kepada blog readernya pak……., jelas artikel ini akan terasa berat jika yang membaca anak saya yang baru berumur 8 tahun walaupun dia sudah ngeblog sejak satu tahun yang lalu.

  11. Hmm.. tergantung selera juga sih.. Saya sendiri suka artikel-artikel macam begini, bahasanya terpakai sepanjang zaman (bukan bahasa gaul yang tidak akan dipahami lagi di masa mendatang, juga bukan bahasa yang terlalu kaku)
    pembahasannya juga enteng dan mudah dicerna.. dan benar, tidak semua artikel yang saya baca akan saya beri komentar meskipun saya suka dengan isinya.. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *