Idul Adha dan Pengorbanan Blogger

Hari Raya Kurban telah hadir kembali. Jutaan umat muslim sedunia bergembira menjalani satu dari dua hari raya umat Nabi Muhammad SAW. Idul Adha identik dengan kata korban, pengorbanan, keikhlasan, dan kata-kata yang sejenisnya. Hal ini tidak lepas dari sejarah Nabi Ibrahim yang diuji kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya.

Inilah fakta yang patut kita pelajari dan diterapkan dalam blogging. Hal apa yang membuat Anda tertarik menekuni blogging sehingga rela menghabiskan sebagian waktu yang berharga untuk menulis? Lalu, seberapa besar pengorbanan Anda untuk mencapai visi dan misi ngeblog? Pertanyaan pamungkas, apakah pengorbanan tersebut sudah terbayar oleh besarnya reward yang Anda dapat? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi retorika abadi dunia blogging.

Tidak ada yang serta merta membayar Anda demi sebuah publikasi artikel. Kecuali jika blog Anda memang sejak awal dibangun sebagai kumpulan review produk korporat. Secara umum orang ngeblog sebagai perwujudan “Ini nih, gue masih ada”. Istilah kerennya adalah aktualisasi diri di tengah gegap gempita blogosphere. Kadarnya pun macam-macam. Dari sekedar nampang, ajang narsis, berbagi ilmu hingga usaha syiar agama bekal di dunia dan akherat.

Magnet Itu Bernama Reward

Tak dapat dipungkiri, dengan dalih apapun, kita semua pasti setuju bahwa muara dari blogging pasti kepada monetisasi. Entah itu terselubung maupun terang-terangan, lambat laun akan mengarah kesana. Baik efek langsung maupun efek turunan, akan selalu ada proses pencarian jalan ke arah bisnis yang terotomatisasi lewat internet (baca: bisnis online).

Label blogger murni dan blogger matre (ups! mungkin terkesan sarkasme level tinggi) bukan satu-satunya parameter pembeda satu dengan yang lainnya. Konsep monetisasi itu sendiri terlalu sempit kalau dirumuskan dalam sebuah saldo rekening bank lokal maupun paypal. Menurut pengamatan saya, justru efek di kemudian hari yang akan banyak berbicara. Saya tidak mengatakan efek samping karena nggak ada ceritanya ngeblog gaya menyamping seperti jalannya kepiting.

Kalaupun ada yang berhasil menikmati hasil ngeblog secara instan atau saat ini juga, mungkin itu belum seberapa dibanding kesuksesan beberapa tokoh kawakan internet marketing yang telah lama berkecimpung dan jatuh bangun makan asam garam kabel internet.

Wujud dan Aneka Pengorbanan

Saya termasuk orang yang nggak percaya kepada istilah ngeblog modal dengkul. Mungkin Anda sering mendapati doktrin ekonomi yang menekankan pengeluaran yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Nonsense! Ibarat mencari ikan di kali, Anda akan selalu terpikir memakai alat bantu daripada menangkap dengan tangan kosong.

Berkorban apa saja? Banyak bentuknya. Baik yang berwujud kebendaan (materi) maupun non materi. Yang kebendaan misalnya harus keluar duit untuk membeli peralatan. Sedangkan yang non fisik menurut saya lebih mahal harganya. Waktu, tenaga, pikiran dan kemauan mengurangi waktu bersenang-senang adalah harga yang harus dibayar.

Kalau Anda mau mengkalkulasi pos-pos di atas, saya yakin akan menemukan satu fakta baru bahwa ngeblog itu mahal. Sekali lagi saya katakan: Ngeblog itu mahal. Bahkan dengan memanfaatkan layanan domain dan hosting gratis pun belum tentu ada jaminan seseorang bisa rajin ngeblog tanpa hambatan.

Apakah Hasil yang didapat Sudah Sepadan?

Ini nih bagian kesukaan saya, last question but not least, apakah hasil yang didapat dari ngeblog sudah sepadan dengan tingkat pengorbanan? Tak peduli apakah motivasi ngeblog Anda, Anda patut selalu mawas diri dan tidak henti melakukan tindak PDCA agar tidak keluar jalur menuju sasaran.

Untuk blogger berorientasi bisnis sudah jelas bahwa salah satu tolak ukur kesuksesan adalah besarnya konversi artikel blog terhadap pendapatan. Apakah artikel yang Anda tulis sudah cukup mampu ‘menjual’ produk atau jasa yang Anda tawarkan. Atau setidaknya artikel yang Anda tulis mampu mengangkat branding yang sedang Anda bangun.

Seperti selalu saya katakan, blogging adalah investasi jangka panjang layaknya asuransi yang juga berfungsi sebagai tabungan hari tua. Mungkin bukan sekarang Anda merasakan manfaat secara langsung. Namun siapa sangka buah tersebut akan Anda petik nanti, bahkan saat cucu Anda tengah menikmati masa keemasan mereka.

Akhirnya saya hanya mampu berkata, ngeblog secara ikhlas aja deh. Apapun yang Anda keluarkan dalam menjalani aktifitas blogging, niati secara tulus untuk berbagi ilmu, info dan semangat dengan pembaca. Pembaca nggak akan pernah salah menilai. Secara kontinyu, mereka akan memberikan label sesuai dengan apa yang telah Anda lakukan. Orang menanam padi pasti akan tumbuh padi.

Enjoy blogging, enjoy writing!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

15 thoughts on “Idul Adha dan Pengorbanan Blogger”

  1. Saya jadi tambah bingung masuk blog ini, kemarin tampilannya beda sama hari ini.
    Eh. Alasan memakai intensedebade pada kolom komentar alasannya apa ya? Menghemat bandwith kah.

  2. Mas Agus, komentar saya kemarin gak ada… gpp saya ikhlaskan. Soal sepadan, buat saya sepadan. Saya dibayari speedynya, dipinjamin laptopnya (tanpa batasan waktu), dan jiwa saya jadi lebih hidup dengan mengekspresikan diri sendiri. setuju agar menulis dengan ikhlas. di buku Quantum Ikhlas dikatakan, kalo kita memberi dengan ikhlas (apakah uang, barang, informasi atau motivasi) balasannya akan berlipat. dan hidup kita akan merasa lebih hidup lagi dengan berusaha berkomunikasi dengan orang lain (ini menurut saya loh)…

  3. pada waktunya nanti, pertanyaan itu berbentuk piramida mas.
    mulai dari kenapa MAU ngeblog sampai kenapa BERTAHAN ngeblog?

    akan bertemu 2 titik yang bisa saling bertentangan atauapun saling melengkapi. antara kepentingan EKONOMI dan kepentingan SOSIAL

  4. You can certainly see your enthusiasm within the paintings you write. The world hopes for even more passionate writers such as you who aren’t afraid to mention how they believe. All the time follow your heart. I have fun with, lead to I discovered just what I was looking for. You’ve ended my 4 day long hunt! God Bless you man. Have a nice day.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *