2011: Pickpocket or Extreme Economy

Judul artikel kali ini agak sangar dan mungkin keluar dari kebiasaan saya menulis di blog ini. Kalimat di atas saya dapat dari acara seminar ekonomi IBMT International University yang saya ikuti hari ini. Pembicara terdiri dari tiga orang praktisi dan akademis bidang ekonomi, yaitu Patrick Tjiputra Leiman, Ir. Hie Tek Un (Plant Manager PT. Dempo Metalindo) dan alumni IBMT Adhi Santoso (Direktur CV Makasar Indomedia). Moderator acara adalah Imron Mawardi (Direktur LPES FEB Unair).

Banyak pengetahuan baru saya dapat dari seminar yang dilaksanakan berkat kerjasama dengan Queensland University of Technology (QUT) ini. Saya coba tuliskan beberapa poin penting. Mungkin pembahasan nanti terkesan melompat-lompat dan tidak detail, oleh karena itu bacanya sambil santai saja. Yang penting paham maksud tulisan.

Krisis Tahun As: Antara Ancaman dan Peluang

Secara tata bahasa, pickpocket berarti pencopet. Dalam praktek bisnis, seringkali kita kehilangan sejumlah uang secara sadar ataupun tidak sadar. Misalnya kerugian yang ditimbulkan oleh naik turunnya kurs mata uang dollar, pergerakan harga emas, fluktuasi harga minyak dunia maupun faktor cheating yang dilakukan oleh manusia (dalam hal ini karyawan perusahaan).

Praktek ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, bukan hanya setahun mendatang. Namun khusus untuk tahun 2011 ini Patrick Leiman menyebut sebagai tahun as (Ace Year). Angka sebelas bisa bermakna ganda, yaitu ancaman sekaligus peluang. Misalnya harga cabe yang meroket hingga menyentuh level 100.000. Hal ini adalah ancaman buat ibu-ibu rumah tangga dan penjual rujak cingur. Namun bisa jadi peluang bagus bagi penderita sakit maag untuk segera sembuh.

2011: Pickpocket or Extreme Economy

Pickpocket Sejati adalah Pikiran Individu

Ada salah satu pernyataan Adhi Santoso yang menggelitik saya untuk menuliskan ulang disini. Menurutnya, pickpocket sejati sebenarnya adalah pikiran masing-masing orang. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain saat kerugian datang. Penyebabnya adalah lupa kepada dua prinsip utama berbisnis yang berlandaskan kepada profesionalitas dan keseimbangan hidup. Yaitu:

  1. Konsisten pada bidang yang dipilih. Seringkali kita tergoda untuk mencoba-coba bisnis lain yang sedang booming padahal sudah ada bisnis yang sedang berjalan dengan baik dan teruji mampu bertahan. Berinvestasi di bidang baru adalah hal yang riskan dan melibatkan visi dan logika dalam memperhitungkan resiko yang mungkin datang.
  2. Bisnis adalah ladang ibadah. Dengan menjalankan usaha, Adhi Santoso telah turut serta menghidupi keluarga karyawan. Ini terdengar klise, orang kerja kan untuk dapat gaji, lalu apa hebatnya. Nah, disinilah mas Adhi melibatkan sisi emosional karyawan. Kebersamaan sebagai keluarga besar bisa mengalirkan doa dari orang-orang terdekat untuk melancarkan rejeki.

Mengambil Keputusan dengan Knowing and Doing

Sepatutnya kita melihat tantangan tahun ini sebagai peluang bagus untuk membuat keputusan bisnis yang lebih aplikatif berdasarkan perpaduan dua hal: knowing (tahu) dan doing (menjalankan). Kita tahu keputusan yang terbaik tapi tidak mau menjalankan, ibarat punya mimpi tapi nggak mau action, maka keadaan tidak akan berubah. Sebaliknya, kalau kita tidak tahu jalan terbaik tapi mau menjalankan, maka butuh banyak pengorbanan untuk sampai ke tujuan.

Kombinasi terbaik adalah tahu jalan terbaik yang mesti ditempuh, sekaligus bersedia menjalankan langkah-langkah strategis ke arah tujuan. Jika ini yang dipilih, maka setiap kali muncul krisis kita akan mampu melewati bahkan menjadi pemenang diantara pelaku yang berguguran di lapangan. Yang paling buruk tentu saja nggak tahu pilihan terbaik, nggak mau action pula. Lengkap sudah penderitaanmu.

Di ujung acara, mas Adhi menyampaikan satu kalimat pamungkas: Jika kekayaan malah membuat manusia menderita, that’s not a blessing. Berbagi manfaat dengan sesama manusia, apapun level mereka, adalah satu diantara sekian banyak invisible hand yang mendorong kemajuan sebuah bisnis.

Semoga sharing kali ini bermanfaat.

56 Replies to “2011: Pickpocket or Extreme Economy”

  1. wew,habis seminar,lgsg dibuat artikel nya,
    yah walaupun saya blum pandai dalam perbisnisan,tapi menurut penglihatan saya,kalau bisnis hanya mengikuti trend,itu malah membuat persaingan menjadi lebih ketat dan kemungkinan berhasil makin kecil,
    bukan begitu mas agus?

  2. jadi terinspirasi nih apalagi dari penuturan Adhi Santoso kayaknya benar juga. kayaknya perlu di telaah oleh kita πŸ™‚

  3. Wuih…. tinggi banget ne penggunaan bahasanya, g seperti biasa ya postingannya, he..he..
    any way… saya jadi penasaran dengan kalimat “invisible hand” dalam berbisnis, bisa diperjelas g mas agus?,

    Kalimat yang paling saya suka dalam postingan mas agus kali ini yaitu “Bisnis adalah ladang ibadah”. Hal ini membuat saya membaca kembali postingan saya yang senada dengan hal tersebut yakni http://ismailonline.com/spiritual-marketing-itu-ibadah-dalam-bisnis/

  4. nah yg konsisten pd bidang bisnis yg dijalani itu lumayan tantangannya mas.. Tapi mindset bisnis adalah ibadah saya setuju bgt.. Bisa menambah kekuatan dan bertahan dalam perjalanannya.. Salam

  5. Ah sayang banget ga bisa ikut. Tp saya suka dengan quotenya Mas Adhi ttg kekayaan.

    Kaya dg hasil ga bener, ga membawa ketenangan jg.

    Kaya tapi enggan berbagi jg sama aja.

    πŸ™‚

  6. Keseimbangan hidup versi Adhi Santoso di atas sungguh bagus. Inilah yang saya sebut sebagai perpaduan antara IQ, EQ dan SQ. Sepatutnya itu diterapkan dalam bisnis dan di berbagai bidang kehidupan.

  7. Jika kita ingin Sukses Mulia –minjem Istilah Mas Jamil Az Zaini– dalam karir dan kehidupan ini, memang unsur barbagi tidak dilupakan. Bahkan ini bisa menjadi senjata “ampuh” dalam meraih kesuksesan itu πŸ™‚

  8. Nendang banget mas agus prinsip sedekahnya..
    Namun masih ada yang kurang, yaitu melibatkan Tuhan dalam setiap kegiatan bisnis kita. Karena shalat dan sedekah itu satu paket dan tidak bisa dipisah2…
    Sukses terus mas agus untuk bisnis dan blognya

  9. wah… mas agus… Jujur bahasanya kelas tinggi jadi harus di ulang2 bacanya biar bisa mudeng…. heheh…
    tapi satu yang saya dapet…

    jadi kenapa saya harus jadi pembisnis… karena Ibadah…

    lantas kenapa saya Tidak harus Pintar Untuk memulai Berbisnis karena saya mempunyai keberanian memulai…apalagi di saat persaingan bisnis yang makin ketat tentunya analisis juga penting tapi justru yang sangat penting sekali adalah keberanian heheh… jadi muter2 alias kurang mudeng πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *