Motivator Tanpa Kharisma Dan Lunturnya Personal Branding

senyum dan semangat dalam hidup
senyum dan semangat dalam hidup

Mungkin sudah waktunya kita membunuh mitos untuk menjadi motivator yang efektif kita harus membangkitkan rasa kagum dari orang di sekeliling.

Dalam beberapa kali pengamatan saya, tindakan para motivator sehari-hari hampir tidak pernah mencolok. Dia jarang membangkitkan rasa kagum dan tidak pernah masuk publisitas. Namun demikian, kharisma terus tumbuh pada dirinya. Orang tetap respek dan percaya terhadap kata-kata yang diucapkan. Mengapa bisa terjadi demikian?

Kita semua pasti sudah dengar sejumlah istilah seperti NATO, NACO dan sejenisnya. Ada orang yang pintar dalam bikin konsep tapi lemah dalam penerapan. Ada yang pintar bicara tapi nol dalam praktek. Ada juga yang tidak banyak bicara tapi tahu-tahu karyanya sudah bejibun. Sifat-sifat seperti itulah yang menjadikan seseorang memiliki reputasi dan dikenal sebagai apa. Bahasa kerennya adalah personal branding.

Masih Perlu Personal Branding?

Benarkah kita masih membutuhkan personal branding, khususnya dalam pergaulan internet? Sejujurnya saya tidak begitu intens untuk urusan ini. Bukan karena saya patah semangat dan tidak tertarik pengembangan diri. Tapi personal branding di dunia maya sangat rentan direkayasa dan tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Kalimat singkatnya, personal branding bisa menjadi satu hal yang menipu.

Lihat saja timeline jejaring sosial Twitter yang penuh dengan pencitraan. Mungkin maksudnya untuk menunjukkan sisi baik seseorang. Tetapi berteman dengan seseorang seperti itu bagi saya rasanya hambar. Pelajaran hidup bukan hanya mengenai kisah sukses. Bahkan dari kegagalan dan sifat buruk pun bisa kita gali manfaatnya.

Dalam beberapa bidang bisnis, personal branding masih memegang peran penting. Misalnya untuk menjadi seorang good affiliate, minimal Anda harus memiliki kesan bagus di mata prospek. Setidaknya Anda telah mencoba memakai produk yang Anda pasarkan dan memahami kelebihan beserta kekurangannya. Dengan begitu Anda tidak akan terjebak sebagai penjual kucing dalam karung dan bisa menjadi calon partner yang baik bagi prospek.

Personal branding adalah sisi unik bisnis online yang membutuhkan ketekunan dalam berperilaku efektif dalam pergaulan blogging. Memotivasi orang lain mungkin sangat melelahkan, tapi setidaknya Anda akan selalu berusaha memotivasi diri sendiri dalam hal ini. Jadi, apakah Anda masih tertarik membangun personal branding?

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

32 thoughts on “Motivator Tanpa Kharisma Dan Lunturnya Personal Branding”

    1. Dengan cara itu pun kadang2 kita masih susah memotivasi orang lain. Kalau bahasa saya, merubah pola pikir diri sendiri itu lebih penting daripada hanya sekedar membangun personal branding.

      1. Balik lagi ke niat si motivator ini mas.
        Bener-bener niat mau membantu orang lain, ataukah sekedar mencari popularitas?

        Mereka yang niat membantu, meski susah akan tetap berusaha. Why? Lha yang dibantu mengubah pola pikir aja susah, apalagi kalau tidak dibantu. Malah makin ‘tersesat’ nantinya.

        Jujur saja ini sempat menjadi bahan renungan yang dalam untuk saya pribadi. Apa tujuan selama ini saya posting pengalaman-pengalaman yang memotivasi. Apakah benar untuk membantu orang lain, atau sekedar membangun popularitas sebagai suatu bentuk validasi atas ego saya pribadi.

        Well, setidaknya kita semua perlu introspeksi dan meluruskan niat.

        Jadi teringat sebuah pesan dari teman, terkait soal membangkitkan rasa kagum yang mas Agus Siswoyo singgung.

        Jangan berusaha mencari kekaguman dari orang lain. Lebih baik fokus mengerjakan yang terbaik dan mendatangkan manfaat untuk orang banyak. Kekaguman orang akan muncul dengan sendirinya, tanpa menjadikan kita pribadi yang sombong.

  1. kata “branding” sering saya dengar di dunia maya,dan biasanya kata2 ini sering di ungkapkan oleh penjual ebook…atau pembisnis dunia maya.!

  2. Memang susah juga memastikan personal branding di dunia Maya. Itu hanya bisa didapatkan pada blogger yang ngeblog dengan HATI dan tidak untuk mencari popularitas. Kita juga bisa mengamati perilaku blogger, misalnya jika ia berbicara bagaimana mendapat ribuan visitor sementara blog-nya sendiri visitornya belum sampai 1000, ini adalah tanda-tanda merosotnya personal branding mas. Makasih salam sukses!!!

  3. menurut saya masih penting. Tentu personal branding yang tulus. Bukan yang kita kenal seperti pencitraan politik. Intinya adalah apa yang kita akan kontribusikan kepada masyarakat luas. Tentu sebagai blogger adalah pengalaman (experience) dan berbagai macam ilmu yang informatif. Karena yang dapat kita berikan tetap sebatas media yang dilihat, dibaca, didengar dari internet lewat layar kaca komputer atau laptop. Namun itu juga pilihan masing-masing. Bagi saya itu masih perlu.

  4. setiap orang bisa menjadi seorang motivator…..
    .
    bahkan banyak orang yang merasa bukan motivator, tapi melakukan pekerjaannya dengan sungguh sungguh, bisa menginspirasi banyak orang.
    .
    terkait mengenai personal branding…. hal itu memang sangat perlu…..
    tapi bukan hanya itu faktor suksesnya…. banyak faktor lain yang harus di pertimbangkan…..

    1. yup, ada banyak variabel untuk menilai kepribadian seseorang. kalau dari tulisan blog saja rasanya nggak adil. tingkah laku dalam pergaulan online juga harus dipertimbangkan. πŸ™‚

  5. kalau personal branding kurang dipercaya dari pada perusahaan apalagi di dunia maya. ok ditunggu coment bactnya di link artikenya ini.

  6. Motivator tanpa kharisma, kok kayaknya maksa ya. Saya jadi ingat beberapa figur yang selalu muncul di media dan gembar-gembor ini itu tapi tak ada makna sama sekali. Ada pula pendakwah yang maksa membuat ciri khas agar dakwahnya beda dgn yg lain, juga tanpa makna, malah kesannya meng-komedi-kan syariat. Itu hanya pendapat saya lho. Jadi kharisma itu subyektif. Berkharisma bagi saya belum tentu begitu bagi orang lain. Itu berlaku juga bagi para motivator.

    Tapi saya setuju dengan benang merahnya, yaitu adanya output/bukti. Tanpa itu, berlembar-lembar konsep dan jutaan kata sepertinya hanya seperti hiasan dari yang namanya personal branding.

    Kalau masalah masih tertarik atau tidak dgn personal branding, jelas masih dong, lumayan kan buat ajang narsis *hehe* πŸ˜€

  7. My accomplice and I really loved reading this weblog post, I was just itching to know do you commerce featured posts? I’m always trying to find somebody to make trades with and merely thought I might ask.

  8. Pingback: Bail Bonds Los Angeles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *