Pertarungan Abadi Jumlah Kata Versus Menulis Kreatif

Gusnaldi, Penulis Novel Pria Terakhir
Gusnaldi, Penulis Novel Pria Terakhir

Apa kabar sobat blogger Jombang? Terima kasih Anda masih setia membaca artikel blog The Jombang Taste. Pernahkah kalian merasa kesulitan untuk mulai menulis artikel blog? Menulis artikel blog idealnya bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dalam berbagi pikiran tanpa harus dibatasi jumlah kata (words count). Adanya klasifikasi jenis artikel dan tujuan optimasi website, disadari maupun tidak, semakin mengobarkan pertarungan abadi proses menulis kreatif dengan jumlah kata.

Ide artikel ini terinspirasi dari judul artikel EzineArticles yang masuk dari newsletter dengan kategori Creative Writing. Ketika saya memeriksa layanan Gmail Versi Offline, kebetulan waktu itu koneksi internet sedang bermasalah, saya membaca salah satu deretan artikel pada newsletter portal artikel terpopuler tersebut. Saya lantas terbersit ide mengulas lebih lanjut dalam artikel blog ini.

Menulis Kreatif Tanpa Batas Jumlah Kata

Apakah yang dimaksud dengan menulis kreatif? Mungkin Anda sudah pernah membaca definisi menulis artikel dari beberapa blog penulis terkenal di internet. Saya mencoba mengartikan kegiatan menulis kreatif sebagai bagian dari proses berbagi pikiran melalui media tulisan tanpa harus mengalami hambatan-hambatan atau sensor yang ada. Kreatifitas akan tetap ada selama manusia memiliki keinginan untuk berpendapat, berekspresi, memiliki identitas, dan memperjuangkan sisi idealisnya.

Sensor menulis bisa berasal dari dalam diri penulis itu sendiri maupun dari institusi atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya saya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dalam pelayanan pembuatan KTP. Saya akan berbagi pengalaman, kritik dan saran melalui artikel blog pribadi. Saya akan terus menulis tanpa merasa khawatir berapa jumlah kata yang sudah saya rangkai sudah mencapai angka 200, 300, 400, bahkan lebih dari 500.

Menulis kreatif seringkali melibatkan intuisi individu dan pengalaman masa lalu sehingga sudut pandang yang diambil lebih kompleks dalam mengulas sebuah artikel. Contoh proses menulis kreatif yang sering kita temui adalah curhat (curahan hati) seseorang melalui blog pribadi. Orang yang jatuh cinta tidak akan memandang berapa banyak jumlah kata yang ditulis. Selama dia butuh media ekspresi, dia akan terus menulis hingga titik jenuh tertentu.

Pengaruh Jumlah Kata Dalam Optimasi Web

Di lain pihak, saat ini masih banyak web developer yang berpedoman pada jumlah kata dalam optimasi web (SEO). Mereka berkeyakinan bahwa artikel yang baik menurut kaidah SEO harus ditulis minimal 250 kata. Pertimbangannya mudah, dengan 250 kata kita baru bisa menjelaskan sebuah ide secara tuntas dari A sampai Z. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Beda topik artikel, kita memberlukan perbedaan cara mengulas.

Jika berkaca kepada layanan penulis lepas yang saya jalankan selama ini, artikel sepanjang 250 hanya sesuai untuk jenis artikel infotainment. Pembaca ingin cepat-cepat tahu isi berita, tanpa perlu basa-basi lagi. Misalnya, berita konferensi pers launching nama grup band NOAH. Mereka tidak butuh penjelasan mengapa ganti nama, mengapa Ariel bisa bebas atau hal lain karena hal tersebut sudah menjadi rahasia umum yang tidak perlu dibahas lagi.

Sebaliknya, untuk artikel dengan kategori topik politik, hukum, sosial, budaya, sejarah, dan topik-topik aktual di masyarakat, kita membutuhkan lebih dari 250 kata. Bahkan menurut pengalaman saya mengulas perkembangan politik di Asia Timur, saya pernah menulis artikel sampai 800 kata tanpa saya rencanakan sebelumnya. Padahal layanan ghost writer yang saya berikan sebenarnya hanya sampai 500 kata. Lebih sedikit tak apalah, asalkan saya bisa lebih leluasa berbagi pikiran.

Respons Pengunjung Dan Nilai SEO

 Jika kita sudah merasa nyaman dan menemukan ‘feel’ yang tepat, proses menulis kreatif akan menghasilkan tulisan yang relevan, aktual, unik dan tentu saja memiliki nilai bagus di mata pengunjung manusia. Apalagi bila ditambah kesediaan blogger tersebut mensubmit artikel ke portal blogger, kemungkinan besar artikel tersebut akan dibaca oleh ribuan pembaca manusia. Kalau sudah begini, nilai SEO tinggal mengikuti di belakang perkembangan jumlah pengunjung blog.

Jadi, cara menulis mana yang lebih baik untuk website Anda? Kembali ke jenis topik website yang sedang Anda kembangkan. Jika memang topik tersebut memungkinkan diulas secara singkat dan langsung to the point, segera tuntaskan artikel dalam 250 kata tanpa harus bertele-tele. Namun bila kategori tulisan website Anda memerlukan analisa yang mendalam, 250 tidak cukup untuk mengakomodasi proses transfer ide.

Bagaimana dengan pengalaman Anda menulis artikel? Lebih suka 250 kata atau malah lebih dari itu?

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *