Pilih Mana: Berolah Kata Atau Berolah Raga?

Berolahraga?

Sudah bukan saatnya lagi kita berpikir menurut landasan teori. Zaman modern mengharuskan setiap manusia berorientasi pada praktek dan mampu memberikan hasil nyata.

Setuju tidak setuju, sistem pendidikan di Indonesia menitikberatkan pada teori. Paling tidak hal tersebut masih terjadi pada satu dekade yang satu pada saat saya masih duduk di bangku sekolah. Sehingga sudah biasa kalau setiap murid mendapatkan tugas menghafalkan peribahasa, pepatah, idiom, dan kata-kata bijak yang entah apakah mereka paham artinya atau sekedar membeo.

Time is money. Waktu adalah uang. Saya sudah mendengar pepatah tersebut sejak tahun 1992. Dan payahnya, guru-guru yang mengajar saya pandai memberi tugas hafalan tapi lemah dan memberi keteladanan. Hasilnya, generasi muda paruh baya seusia saya kebanyakan hanya bisa berteori. Mereka tidak tahu bagaimana menerapkan pendidikan akademis di lapangan.

Bukan maksud saya merendahkan kualitas pendidikan teman-teman seusia saya, tapi marilah kita berkaca pada kenyataan di lapangan. Ada banyak generasi muda, yang berusia 19 sampai 30 tahun, tidak mampu mengelola waktu secara bijak. Slogan “Waktu adalah uang” hanya menjadi pemanis bibir dalam acara-acara seremonial. Jam karet menjadi sesuatu yang dimaklumi secara umum.

Maka benar sekali kalau ada yang mengatakan jika bangsa kita pandai dalam berolah kata tapi tidak cakap berolah raga dalam artian melakukan tindakan nyata. Tanpa bermaksud meniadakan peran serta kawan-kawan muda yang memang telah memiliki disiplin diri yang tangguh sejak dini, kondisi bangsa kita saat ini pun merupakan buah dari perilaku anak-anak muda di masa lalu.

Lalu, apakah kita tidak membutuhkan teori dalam proses pendidikan di Indonesia? Tentu saja masih perlu. Teori dan pengetahuan yang luas akan menjadikan anak-anak kita lebih ‘manusia’ karena memiliki akal pikiran dan budi pekerja. Namun setelah mendapatkan teori yang begitu banyaknya, maka sudah seharusnya kalau anak-anak diajak mempraktekkan di masyarakat. Hal tersebut bisa dimulai dari lingkungan keluarga.

Semoga sedikit unek-unek ini bisa memberikan inspirasi untuk kemajuan hidup Anda. Enjoy blogging, enjoy writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *