Asal-usul Seni Tari Undhuh-undhuh dari Mojowarno Jombang

Penari Cilik Seni Tari Remo Boletan Gagrak Anyar Khas Jombangan
Penari Cilik Seni Tari Remo Boletan Gagrak Anyar Khas Jombangan

Tari tradisional undhuh-undhuh berasal dari Kabupaten Jombang. Seni tari anak-anak ini diciptakan oleh Christina Ninik Sudarmini. Seni tari undhuh-undhuh dari Jombang pertama kali diciptakan tahun 2010 dengan penata iringan mendiang Prastowo Hs. Pasangan seniman Ninik-Prastowo Hs berdomisili di Mojowangi. Keduanya merupakan suami-isteri yang pernah aktif melestarikan kesenian Jombang pada masanya.

Latar belakang penciptaan tari Undhuh-undhuh dari Jombang diawali oleh tradisi Undhuh-undhuh yang berlangsung di lingkungan masyarakat Desa Mojowangi Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Tradisi merupakan gambaran singkat dari perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan.

Asal-usul Tari

Penyelenggaraan suatu upacara tradisional cukup penting artinya bagi pembinaan sosial dan budaya masyarakat pendukungnya. Hal tersebut disebabkan oleh salah satu fungsi upacara tradisional untuk memperkokoh norma-norma dan nilai-nilai budaya yang telah berlaku secara turun-temurun. Upacara tradisional memuat aturan-aturan hidup yang bersumber dari ajaran agama dan kearifan lokal.

Menurut buku ‘Tari Anak-anak Jawa Timur’ yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tahun 2014 dinyatakan bahwa norma-norma dan nilai-nilai budaya itu ditampilkan secara simbolis dalam bentuk upacara dan dilakukan secara sistematik oleh para warga masyarakat pendukungnya serta dirasakan sebagai bagian yang integral. Nilai-nilai budaya tersebut dilestarikan oleh penduduk setempat sebagai bentuk kepatuhan hidup terhadap nasehat para leluhur.

Komunikasi dalam kehidupan kultural mampu membangkitkan rasa aman bagi setiap warga di tengah lingkungan hidup bermasyarakat. Mereka merasa tidak kehilangan arah dan pegangan dalam menentukan sikap dan tingkah laku sehari-hari. Rasa solidaritas antar sesama warga masyarakat dapat menjadi lebih tebal berkat tradisi yang dilakukan secara kompak. Salah satu upacara tradisional yang diadakan oleh warga masyarakat Desa Mojowangi adalah upacara Undhuh-undhuh.

Undhuh-undhuh berarti memetik atau memanen. Pengertian memetik disini yaitu mengambil hasil bumi yang berupa pertanian dan perkebunan. Para warga percaya bahwa apa yang diterima dari Tuhan termasuk hasil panen harus disyukuri. Para petani merasakan nikmat yang luar biasa atas pemberian Tuhan. Berkat hasil panen yang melimpah maka mereka dengan senang hati mempersembahkan sebagian kecil panen kepada Tuhan untuk kegiatan lelang amal. Dana hasil lelang dikumpulkan untuk pembangunan sarana peribadahan maupun pembiayaan kegiatan ibadah.

Kemeriahan Festival Unduh-unduh di Gereja Tertua Se-Jawa Timur
Kemeriahan Festival Unduh-unduh di Gereja Tertua Se-Jawa Timur

Sejarah Tari

Tari undhuh-undhuh diambil dari upacara tradisi Undhuh-undhuh yang dilaksanakan di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Desa Mojowangi Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Tradisi Undhuh-undhuh dilaksanakan setiap tahun pada bulan Mei atau sekitarnya. Wisata budaya Jombang ini menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Jombang.

Rangkaian acara tradisi Undhuh-undhuh di Mojowarno dilaksanakan selama beberapa hari. Kegiatan tersebut berupa jalan sehat, pawai budaya Mojowarno, pagelaran seni wayang kulit, bazar kerajinan rakyat setempat, kebaktian di gereja, hingga lelang amal hasil bumi. Peminat lelang amal adalah umat Kristiani yang berasal dari Jombang dan seluruh Indonesia. Beberapa warga asing juga tampak mengikuti kegiatan ini.

Pelaksanaan tradisi undhuh-undhuh mampu menarik kunjungan ribuan wisatawan domestik dan turis asing. Para fotografer berburu gambar pawai budaya Jombangan yang tampak pada arak-arakan warga. Berbagai macam wisata kuliner Jombang pun tersaji di perhelatan bazar yang berlangsung di lapangan SMAK YBPK Mojowarno. Anda bisa mencoba kelezatan tahu campur, lontong balap, lontong kikil, nasi pecel, nasi soto, dan beragam jajan tradisional Jombang.

Toleransi Budaya

Tarian undhuh-undhuh menjadi salah satu pengisi acara tradisi undhuh-undhuh. Tarian asli Jombang ini biasanya dibawakan oleh anak-anak perempuan yang berusia 8-12 tahun. Tari daerah Jombang ini ditampilkan oleh 8 sampai dengan 12 orang penari cilik. Gadis belia itu tampak berlenggak-lenggok dalam balutan jarik kebaya. Mereka menyunggi sekeranjang buah-buahan di atas kepala.

Persembahan simbolis tari undhuh-undhuh biasanya diawali oleh anak-anak dengan gerakan solah bowo. Gerakan tari Undhuh-undhuh terdiri dari jalan keluar, ayun, nyunggi, main keranjang, ngisi keranjang, jengkeng, mengumpulkan keranjang, ayun ulang, nyunggi, dan jalan masuk. Masing-masing gerakan memiliki makna tersendiri. Kekompakan para penari cilik itu sungguh menggemaskan. Senyum ceria tidak pernah lepas dari wajah mereka.

Kota Jombang dikenal sebagai kota santri. Ratusan pondok pesantren berdiri dan aktif mendidik warga muslim Jombang. Meski demikian, aktifitas peribadahan selain agama Islam berkembang secara aman dan damai. Inilah buah dari toleransi beragama yang berkembang di kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Hj. Mundjidah Wahab ini.

Pengajaran tari Undhuh-undhuh pun saat ini berkembang secara eksklusif di lingkungan jemaat GKJW Mojowarno. Pagelaran seni tari dari Jombang ini berlangsung meriah dan mendapat perhatian dari publik. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa menyukai pertunjukan tari daerah Jombang ini. Semoga keberadaan seni tari asli Jombang ini bisa menambah kecintaan anak muda terhadap budaya daerah.

Bagikan artikel ini melalui:

13 Replies to “Asal-usul Seni Tari Undhuh-undhuh dari Mojowarno Jombang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *