Kemeriahan Festival Takbir Hari Raya Idul Fitri di Negeri Sembilan Gua

Negeri Sembilan Gua adalah sebutan untuk kawasan Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang yang memiliki ciri khusus bentang alam berupa lubang-lubang gua bawah tanah sebanyak sembilan buah. Masyarakat setempat sudah bersiap menyambut kehadiran Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah dengan gegap-gempita sejak jauh-jauh hari. Pada awal Ramadhan 1437 Hijriyah telah diadakan musyawarah bersama di Musholla Baiturrohim, atau lebih dikenal Langgar Timur, oleh warga Guwo dan membahas rencana kegiatan takbir keliling desa. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan lomba takbir di musholla tersebut dikendalikan oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan ekonomi.

Tuan rumah takbir keliling menyambut Idul Fitri tahun ini adalah Musholla Baiturrohim. Pihak ta’mir musholla tersebut menawarkan adanya lomba takbir antar kelompok RT (Rukun Tetangga). Ini adalah momen yang membawa dilema bagi saya. Belum hilang trauma dan duka akibat kejadian kerusuhan lomba takbir Idul Adha dua tahun lalu, kini saya diseret masuk ke dalam panitia pelaksana. Saya mengiyakan ajakan ta’mir musholla dengan setengah hati. Sebelah hati saya meragukan unsur kemanfaatan dari lomba takbir yang berkesan perayaan penuh hura-hura dan buang-buang duit ini. Sementara disisi lain saya ingin tetap menghormati ajakan para tokoh ta’mir musholla yang juga guru-guru saya sejak saya sekolah SD.

Saya bertugas mencetak kupon takbir yang akan dibagikan secara gratis kepada peserta lomba takbir pada hari pelaksanaan. Kupon berhadiah itu ternyata belum cukup untuk menarik minat masyarakat untuk bergerak dan melakukan koordinasi membuat alat peraga lomba takbir. Masih banyak Ketua RT yang enggan melakukan pendekatan persuasif kepada warganya agar ikut berpartisipasi secara aktif dalam event tersebut. Faktor kepemimpinan sangat mempengaruhi dinamisasi masyarakat Dusun Guwo. Antusias masyarakat untuk menyiapkan alat-alat takbiran baru tampak pada tiga hari menjelang pelaksanaan lomba.

Lomba Takbiran Idul Fitri di Musholla Baiturrohim Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Lomba Takbiran Idul Fitri di Musholla Baiturrohim Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Semangat Gotong-royong Warga Guwo

Sejumlah gang tampak dipenuhi warga yang membuat alat peraga takbiran secara berkelompok pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Miniatur ka’bah, replika masjid, dan beragam ornamen Islami hadir dalam Festival Takbir Idul Fitri Negeri Sembilan Gua. Semangat kegotong-royongan masyarakat Dusun Guwo kali ini benar-benar diuji melalui lomba takbiran antar RT. Kelompok RT yang kompak mampu menyelesaikan proses pembuatan alat peraga dengan cepat dan hasilnya bagus. Sementara Ketua RT yang malas mengkoordinasi warganya hanya bisa jadi penonton bagi kesibukan kelompok RT lainnya. Selebihnya, aktifitas warga dalam menyiapkan alat peraga takbir keliling dilakukan secara personal.

Selasa, 5 Juli 2016 selepas maghrib perhatian warga Dusun Guwo terpusat ke arak-arakan Lomba Takbir Idul Fitri yang dimulai dan berakhir di tempat yang sama, yaitu halaman Musholla Baiturrohim. Panitia lomba takbir berinisiatif memulai lebih awal dari biasanya untuk antisipasi kemacetan massa dan kendaraan motor yang melintas jalan raya. Satu per satu kelompok RT berbaris secara rapi berkeliling Dusun Guwo sesuai dengan rute yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana lomba takbir keliling desa. Laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, dan kecil semua penduduk yang memiliki kesadaran sebagai warga muslim ikut tumpah ruah di jalanan Dusun Guwo. 1300 lembar kupon takbir yang telah saya produksi secara manual nyatanya tidak tersisa.

Bagian paling menarik dari lomba takbir antar RT di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang adalah keberadaan beberapa kelompok musik patrol modern. Tampak RT 02, RT 05 dan RT 07 menampilkan grup musik patrol modern dengan lagu-lagu Islami maupun lagu daerah Jawa. Kehadiran mereka dalam lomba takbir Idul Fitri tahun ini berhasil menyedot perhatian massa. Saya menjumpai banyak warga desa tetangga yang sengaja datang ke Guwo untuk menyaksikan Festival Takbir Idul Fitri 1437 H di Negeri Sembilan Gua. Terselip sedikit rasa bangga di dalam dada bahwa umat Islam disini bersemangat dalam menyambut perayaan Lebaran Idul Fitri tahun ini.

Selepas iring-iringan kelompok takbiran antar RT berhenti di halaman Musholla Baiturrohim, panitia pelaksana mengadakan pengundian kupon takbiran. Kupon diberikan panitia kepada peserta lomba takbir secara gratis. Saya tidak melihat adanya unsur perjudian dalam hal ini. Satu per satu hadiah diberikan. Dana lima juta yang dimiliki panitia telah dihabiskan untuk membelikan hadiah kepada para peserta yang malam itu beruntung dipanggil nomor kuponnya. Panitia mengumumkan hasil penilaian lomba takbiran di akhir acara. Penilaian lomba meliputi kerapian barisan, prosentase kehadiran warga setiap RT, kekompakan bacaan takbir, kreatifitas alat peraga, dan kepatuhan kelompok RT untuk tidak menyalakan petasan selama acara berlangsung.

Senyum santri TPQ Mojowarno Jombang
Senyum santri TPQ Mojowarno Jombang

Plus Minus Lomba Takbiran

Kelompok RT 02 yang juga tuan rumah lomba takbir tahun ini tampil sebagai juara pertama Festival Takbir Idul Fitri Negeri Sembilan Gua. Disusul RT 08 dan RT 05 sebagai juara kedua dan ketiga. Dibalik kesuksesan RT 05 sebagai juara ketiga, ada sebagian pihak yang berargumen jika kemenangan mereka tidak valid karena menyewa kelompok patrol modern dari luar Dusun Guwo untuk masuk ke dalam barisan takbir mereka. Itulah fakta. Uang mampu mengendalikan apapun keinginan manusia. Apapun yang terjadi, inilah potret nyata warga Guwo. Kelompok RT yang memiliki anggaran dana melimpah memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan lomba takbir antar RT berkeliling desa.

Satu fakta lagi yang tidak bisa ditolak adalah Kelompok RT 03 yang dua tahun lalu mengadili saya dengan cara membabi-buta di tengah jalan, tahun ini tampil sebagai kelompok paling mini. Tak lebih dari 30 anak-anak dan ibu-ibu ikut dalam barisan takbir mereka. Tanpa banner nama RT maupun alat peraga, kelompok barisan itu terlihat seperti barisan murid-murid TK yang sedang olahraga jalan kaki di malam hari. Dimanakah keberadaan bapak-bapak yang dua tahun lalu membuat kerusuhan dan memutus barisan di tengah perjalanan lomba takbir? Entahlah. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka semua agar kembali ke jalan-Nya.

Pahit manis kehidupan di desa telah saya jalani selama kurun waktu empat tahun belakang ini. Momen lomba takbir Idul Fitri tahun ini menjadi tonggak kembalinya saya dalam kegiatan masyarakat Guwo. Saya menarik diri dari event desa selama setahun belakangan ini untuk memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok warga yang merusak acara-acara saya di desa supaya mereka terbukti benar. Kenyataan berbeda ucapan. Justru mereka yang banyak omong dua tahun lalu malah tidak tampak batang hidungnya dalam lomba takbir tahun ini. Dan saya tidak bisa membiarkan desa ini dikuasai oleh orang-orang yang berbuat dzalim. Saya belum habis. Saya masih punya banyak mimpi untuk desa ini.

Semoga kegiatan Festival Takbir Idul Fitri Negeri Sembilan Gua tahun 2016 ini bisa memberikan pelajaran kehidupan bagi kita bersama. Boleh saja merayakan Idul Fitri dengan melakukan pawai dan arak-arakan massa. Namun tidak elok bila kita lupakan esensi dari Hari Raya Idul Fitri sebagai momen kembali menuju kesucian hati agar iman dan taqwa kita terhadap Allah SWT semakin teguh menuju kemaslahatan ummat. Masa lalu yang kelam biarlah terkubur sebagai kisah yang bisa kita ambil hikmahnya. Mari kembali kepada Islam sebagai agama yang menjadi rahmatan lil ‘alamin, agama yang mampu menghadirkan kedamaian bagi siapa saja yang mengikutinya secara kaffah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *