Museum Tebuireng Ganti Nama? Sekarang Jadi Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asyari

Keceriaan anak-anak berlibur ke Museum Islam Nusantara Hasyim Asyari di Kawasan Wisata Makam Gus Dur Tebuireng Jombang
Keceriaan anak-anak berlibur ke Museum Islam Nusantara Hasyim Asyari di Kawasan Wisata Makam Gus Dur Tebuireng Jombang

Museum Islam Nusantara Kyai Haji Hasyim Asy’ari (MINHA) adalah icon Tebuireng. Museum ini juga menjadi simbol ketenaran wisata religi Jombang. Museum Islam Nusantara Tebuireng dianggap akan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kabupaten Jombang. Banyak pihak berharap agar pembangunan museum sejarah agama Islam di Indonesia ini dapat segera diselesaikan dan beroperasional secara penuh.

Segala hal yang berhubungan dengan almarhum Kyai Haji Abdurrahman Wahid seolah menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mengikuti ziarah Wali Limo dan ziarah Wali Songo. Warga Jombang tidak perlu bepergian jauh jika mereka ingin merasakan liburan ala ziarah wali. Kawasan Makam Gus Dur telah mampu mengimbangi berbagai tempat wisata religi di Jawa Timur untuk para peziarah makam para waliyulloh.

Pembangunan Museum Islam Nusantara di Tebuireng telah dimulai sejak tahun 2014 lalu. Saat itu penulis masih mengikuti kegiatan perkuliahan di kelas yang berada tepat di sebelah selatan gedung museum. Museum Islam di Tebuireng telah dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada akhir Desember 2018 lalu.

Gegap-gempita penyambutan Presiden Republik Indonesia di Tebuireng berlangsung selama hampir sepekan. Selama itulah masyarakat Jombang dan sekitarnya berbondong-bondong mengunjungi tempat wisata pendidikan di Jombang ini. Namun sayangnya, sampai tulisan ini terbit bagian dalam museum itu belum memiliki nilai informasi yang cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu pengunjung.

Masih Kosong Koleksi

Museum Islam Nusantara KH. Hasyim Asy’ari terletak di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur. Pembangunan Museum Islam Nusantara menyedot perhatian banyak kalangan terkait pemilihan nama. Tepat di sebelah barat kompleks museum ini telah berdiri Tugu Asmaul Husna yang dilingkari oleh kolam ikan dan air mancur.

Prasasti bertuliskan 99 lafadz Asmaul Husna ini sangat ikonik dan instagramable. Obyek wisata di Jombang ini telah menjadi latar belakang berfoto jutaan netizen di Indonesia yang ke berkunjung ke Tebuireng. Setiap pagi dan sore hari terlihat puluhan remaja meluangkan waktu berfoto disana. Suasana senja di sekitar Monumen Asmaul Husna mampu menghasilkan gambar tempat wisata yang indah.

Kunjungan wisatawan ke Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari setiap bulan terus meningkat. Kegiatan wisata religi ke makam Gus Dur rupanya sangat membantu pengelola museum untuk mempromosikan tempat wisata edukasi di Kabupaten Jombang ini. Namun selama bertahun-tahun ini belum ada satupun isi museum itu yang bisa dipelajari oleh pengunjung.

Satu-satunya gambar yang bisa dinikmati oleh pengunjung adalah latar belakang nama-nama tokoh pahlawan kemerdekaan Indonesia yang beragama Islam di tembok museum. Selain itu, pengunjung Museum Islam Nusantara bisa berfoto dengan latar belakang kaligrafi asmaul husna di lobby sebelah kiri dan kanan museum.

Ganti Nama Museum

Belum juga terpenuhi koleksi benda bersejarah, Museum Islam Nusantara telah berganti nama. Penulis berkunjung ke obyek wisata di Jombang ini pada hari Jumat, 5 Juli 2019 kemarin. Penulis berfoto dan merekam video dengan latar belakang papan nama museum. Penulis belum menyadari bahwa nama yang tertulis di papan nama itu telah berubah.

Sesampai di rumah video itu pun penulis putar. Penulis baru sadar bahwa nama tempat wisata religi di Jombang ini telah berganti nama. Nama yang digunakan saat ini ini adalah Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari. Ada latar belakang apa dibalik pergantian nama museum ini?

Islam Nusantara menjadi isu yang menarik dibahas di kalangan akademis selama beberapa tahun terakhir. Islam Nusantara pertama kali disebut beberapa tahun lalu dan puncaknya adalah pada tahun 2016 manakala sejumlah cendekiawan muslim di Indonesia mengutarakan idenya tentang paham Islam nusantara.

Selama kurun waktu beberapa tahun ini bahasan Islam Nusantara masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Masyarakat pun menanggapi isu Islam nusantara secara beragam. Terdapat masyarakat yang mendukung dan ada pula yang kontra.

Nama Lebih Nasionalis

Pergantian nama Museum Islam Nusantara menjadi Museum Islam Indonesia berlangsung pada akhir Juni 2019 kemarin. Penulis menduga bahwa pergantian nama tersebut memiliki motiv keutuhan umat Islam. Nama Islam Nusantara mengundang pro dan kontra bagi masyarakat muslim Indonesia.

Daripada memilih nama yang berpeluang menimbulkan perpecahan umat, memang lebih baik memilih nama tempat yang bisa diterima masyarakat secara luas. Agama Islam adalah agama yang menghadirkan kedamaian bagi setiap manusia. Setiap kebijakan yang diambil selalu mengutamakan kemanfaatan dan menghindari kerusakan.

Bagaimanapun juga paham Islam Nusantara selama ini ini telah dianggap mencampuradukkan budaya Jawa dan agama Islam. Masyarakat awam memandang seolah-olah Islam Nusantara ingin mendirikan mazhab tersendiri terlepas dari kepercayaan Islam itu dari empat madzhab yang ada.

Pergantian nama museum menjadi Museum Islam Indonesia terdengar lebih nasionalis dan tidak mengarah kepada pemikiran fanatik sempit dalam praktek kehidupan agama.

Perubahan nama tempat wisata di Jombang ini menjadi Museum Islam Indonesia tidak mempengaruhi ketertarikan pengunjung untuk datang ke sana. Para wisatawan yang berlibur ke tempat wisata religi di Jombang ini tetap memiliki minat yang besar untuk mengunjungi museum.

Seandainya museum di Tebuireng ini kelak telah dibuka untuk umum dan telah diisi oleh koleksi barang-barang bersejarah, pasti tempat wisata di Jombang ini akan lebih marak dikunjungi oleh wisatawan. Sejauh ini masyarakat masih menjadi korban PHP dari pengelola museum yang tidak kunjung memberikan kepastian kapan koleksi museum tersebut dihadirkan ke publik.

Karya Seni Gambar Siluet Glass Tokoh Hasyim Asyari
Karya Seni Gambar Siluet Glass Tokoh KH. Hasyim Asyari dari Tebuireng

Jam Buka Museum

Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 WIB pagi hingga pukul 16.00 WIB. Tempat wisata di Jombang ini dapat diakses masyarakat umum secara gratis alias tidak berbayar. Anda dapat mengunjungi obyek wisata di Jombang ini setiap hari, yaitu mulai Senin sampai dengan hari Minggu.

Museum Islam Indonesia tetap buka pada hari Jumat di mana kebanyakan santri, pelajar dan mahasiswa di sekitar Tebuireng libur sekolah. Puncak kunjungan wisatawan ke museum Islam Indonesia terjadi pada hari Sabtu dan Minggu. Akhir pekan yang sangat ramai berlangsung di Museum Islam Indonesia setiap pekan. Para wisatawan berkunjung ke museum setelah melakukan ziarah ke makam Gus Dur.

Wisata Belanja Tebuireng

Perkembangan wisata religi yang sangat pesat di daerah Tebuireng ditunjang pula oleh menggeliatnya sektor perekonomian. Saat ini telah berkembang pasar tradisional Gus Dur yang terdapat di gang-gang kecil sekitar makam Presiden Republik Indonesia yang keempat itu.

Siapa sangka pemukiman warga yang dulunya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi saat ini telah menjelma sebagai lapak dagangan dengan keuntungan melimpah. Pasar tradisional Gus Dur menjual berbagai barang oleh-oleh khas liburan di Jombang.

Anda bisa membeli aneka buah-buahan di Pasar Gus Dur. Buah-buahan itu seperti sawo, apel, salak dan masih banyak jenis buah yang lain sesuai dengan musim berbuah. Bagi anda yang suka makanan ringan atau ngemil, Anda bisa membeli makanan produk UKM Jombang seharga Rp10.000 untuk 3 bungkus camilan renyah dan enak.

Sedangkan untuk Anda yang menyukai wisata belanja, Anda bisa membeli aneka busana muslim, kemeja koko, sarung, kaos bergambar atribut Tebuireng, dan aneka perlengkapan shalat. Pusat perbelanjaan di kawasan makam Gus Dur buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Toko-toko itu tutup pada waktu-waktu tertentu menjelang pelaksanaan sholat jamaah fardhu.

Semua produk yang dijual di Pasar Gus Dur Tebuireng harganya relatif murah. Misalnya Anda bisa membeli buah apel 1 kilo seharga Rp15.000 saja. Sedangkan pakaian daster untuk ibu-ibu harganya Rp35.000 per potong. Semua produk tersebut diproduksi oleh UKM Jombang sendiri.

Saat ini telah dibangun pusat konveksi Tebuireng yang mampu menyuplai kebutuhan para pedagang untuk menjual aneka pernak-pernik dan oleh-oleh khas liburan ke Jombang.

Bagaimana dengan pengalaman anda berlibur ke tempat wisata di Jombang? Apakah pilihan berlibur Anda terpengaruh oleh pergantian nama Museum Islam Indonesia? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar di bawah ini.

Bagikan tulisan ini:

5 Replies to “Museum Tebuireng Ganti Nama? Sekarang Jadi Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asyari”

  1. Tebuireng selalu di hati. Di sanalah aku belajar ilmu agama dan bertemu dengan teman-teman yang mau bersahabat dengan tulus. sampai sekarang pun mereka masih menjadi kawan terbaik dalam hidupku.

Tinggalkan Balasan ke Cak Falah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *