Nasib Wisata Sumberboto Terbaru, Hidup Segan Mati Tak Mau

Sumberboto adalah tempat wisata alam yang paling terkenal di Kabupaten Jombang. Bumi Perkemahan Sumberboto menjadi obyek wisata favorit bagi pelajar dan mahasiswa yang akan mengadakan perkemahan dan penjelajahan alam. Penulis berkesempatan berkunjung ke tempat wisata Sumberboto hari ini Senin, 10 Juni 2019. Tujuan penulis berkunjung ke sana tak tak lain adalah untuk mengetahui perkembangan wisata Sumberboto. Secara administratif, tempat wisata Sumber Boto terletak di Desa Japanan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.

Akhir-akhir ini sedang viral foto sejumlah akun di sosial media yang mengabarkan perkembangan wisata Sumberboto. Mereka asyik memamerkan sejumlah latar belakang foto yang tampak berwarna-warni dengan gaya arsitektur terbaru. Tagline ‘Sumberboto Reborn’ digaungkan oleh pengguna sosial media. Oleh karena itu penulis penasaran ingin mendatangi langsung ke lokasi obyek wisata Sumberboto. Bagaimana perkembangan obyek wisata Sumberboto di tahun 2019? Apa mau dikata, ternyata penulis dapat zonk. Tidak ada yang baru disana. Tak apalah. Masih ada cerita seru di Sumber Boto.

Penulis berangkat dari rumah dan sampai di lokasi sekitar pukul sembilan pagi. Penulis sudah hafal keberadaan lokasi sumberboto. Oleh karena itu penulis langsung menuju ke pos penjagaan yang menjual tiket masuk obyek wisata sumberboto. Setiap pengunjung yang akan memasuki tempat wisata sumberboto dipungut biaya Rp10.000 per orang. Penulis terkejut dengan kenaikan harga tiket masuk sumberboto. Apakah tarif ini hanya berlaku untuk libur lebaran kali ini saja ataukah seterusnya. Kalau berlaku seterusnya kok ya memaksakan sekali mengingat daya tawar Sumberboto tidak terlalu baik dibanding tempat wisata kekinian di Jombang.

Liburan menyenangkan dan outbound kerjasama tim di tempat wisata alam Bukit Embag di Wonosalam Jombang
Liburan menyenangkan dan outbound kerjasama tim di tempat wisata alam Bukit Embag di Wonosalam Jombang. Tanya kenapa Wisata Sumberboto tidak bisa berkembang sepesat Wonosalam? Apakah ada yang salah dalam pengelolaan wisata alam Sumberboto?

Ternyata jalur masuk ke tempat wisata Sumberboto telah berubah. Keberadaan jembatan kayu yang berada pada sisi pintu masuk barat mengalami kerusakan sehingga tidak bisa dilewati oleh pengunjung. Semua pengunjung baik yang memakai kendaraan roda dua maupun roda empat diharuskan memasuki kawasan wisata Sumberboto melalui arah timur. Jalur pintu masuk timur merupakan jalan mendaki dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus. Sejak pendakian dengan Pramuka Penggalang dulu memang sudah begini.

Penulis penasaran mengapa keberadaan objek wisata sumberboto tidak banyak mengalami pembangunan meskipun harga tiket masuk telah dinaikkan berkali-kali. Meski demikian penulis menyimpan rasa kekesalan itu dalam hati. Mungkin inilah kesempatan bagi pengelola wisata sumberboto untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya di momen libur panjang Lebaran Idul Fitri. Mumpung lagi lebaran maka harga tiket dinaikkan.

Penulis mengendarai kendaraan sepeda motor menuju arah timur melalui bebukitan dan sampai memasuki gerbang Sumberboto di dekat kolam renang. Tampak beberapa keluarga sedang mengantar anak-anak mereka bermain di kolam renang Sumberboto. Pagi hari tidak terlalu ramai pengunjung Sumberboto. Masyarakat Jombang kurang berminat untuk datang ke obyek wisata sumberboto. Penulis pun penasaran dengan sepinya kunjungan ke tempat wisata sumberboto. Harus gali info akurat nih, pikir penulis.

Penulis berinisiatif untuk membeli makanan di salah satu warung yang ada di kawasan wisata Sumberboto. Warung nasi soto itu dimiliki oleh seorang wanita tua bernama Mbok Ngatminah. Beliau tinggal di warung itu setiap hari dan tidak pulang ke rumah. Mbok Minah, demikian ia disapa, adalah satu-satunya penjual makanan yang tidak pulang ke rumah meskipun hari telah menunjukkan malam. Ia tidur di dalam warung ketika malam hari. Raut mukanya keriput. Jalannya bungkuk. Kendati demikian, gaya berbicaranya masih bersemangat layaknya anak muda.

Penulis berkesempatan bertanya-tanya kepada Mbok Minah mengenai perkembangan wisata Sumberboto. Beliau bercerita bahwa pemasukkan wisata Sumberboto setiap tahun telah disetor kepada dinas kehutanan Kabupaten Jombang. Meski demikian pembangunan kawasan wisata ini terbilang lambat. Beberapa bulan lalu telah dibangun hiasan dari bambu dengan topi berwarna-warni di depan warung Mbok Minah. Namun sentuhan ala kadarnya itu tidak cukup untuk menarik minat pengunjung. Tambahan spot berfoto ini masih kalah terkenal dibanding sejumlah objek wisata lain di Jombang seperti Agro Wisata Bale Tani, Banyumili Wonosalam, maupun Taman Kebon Ratu Keplaksari.

Pelaksanaan libur lebaran di Sumberboto tahun ini diwarnai dengan pementasan orkes musik dangdut pada hari kedua lebaran, yaitu Kamis 6 Juni 2019 lalu. Pagelaran musik dangdut ini diharapkan bisa menarik kunjungan kunjungan wisatawan untuk berkunjung ke Sumberboto. Konser musik dangdut itu sepi pengunjung. Mbok Minah bercerita bahwa panitia pelaksana mengalami kerugian akibat sepinya kunjungan wisatawan ke objek wisata Sumber Boto. Kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak swasta tidak berjalan cukup baik untuk memajukan iklim wisata di daerah Sumberboto.

Berkaca dari cerita Mbok Minah itulah penulis menyimpulkan bahwa pemerintah daerah melalui dinas terkait tidak bersungguh-sungguh mengembangkan Sumberboto sebagai kawasan wisata alam yang menyajikan keunikan tersendiri. Keberadaan kolam renang dengan air sumber alami yang bersih itulah satu-satunya daya tarik wisatawan berkunjung ke Sumberboto. Meskipun pengunjung harus membayar tiket dua kali, yaitu tiket masuk Sumberboto dan tiket masuk ke kolam renang, ternyata itu tidak cukup untuk menjadikan alasan bagi pihak terkait untuk membangun fasilitas wisata Sumberboto. Fasilitas outbond yang dibangun pihak swasta pun sepi peminat. Wisata Sumberboto sepertinya hidupnya segan tapi juga tidak mau mati.

Penulis pun melanjutkan aktivitas menggali informasi dari Mbok Minah. Penulis memesan semangkuk nasi soto ayam di warung Mbok Minah. Rasa nasi soto ayam itu tidak terlalu enak, bahkan cenderung hambar karena sisa persediaan makanan kemarin. Tempe goreng yang disajikan pun sudah tidak segar alias sudah hitam dan telah digoreng dua kali akibat sisa kemarin. Hmm, agak menyesal juga kenapa liburan ke Sumberboto kali ini tidak mendapat pengalaman seru.

Penulis menyadari bahwa pengembangan obyek wisata Sumberboto tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Pemerintah daerah, pemerintah desa setempat, dan pihak swasta pelaku bisnis wisata harus bekerja sama membangun sinergi untuk menarik kunjungan wisatawan. Jika pengembangan tempat wisata Sumberboto terus mengalami stagnan seperti ini, penulis khawatir beberapa tahun kedepan tidak ada orang yang mau berkunjung kesana.

Iklim persaingan bisnis kreatif dan bisnis tempat wisata alam di Jombang makin semarak. Terlebih lagi Wonosalam saat ini sedang bersemangat membangun diri dan bersolek menjadi lebih cantik. Berbagai tempat wisata alam buatan pun telah menjamur di berbagai sudut Kecamatan Wonosalam. Bila Sumber Boto tidak segera diperbaiki penampilannya, tidak mustahil Wonosalam akan mampu menenggelamkan nama besar Sumberboto sebagai tempat wisata alam paling populer di Kabupaten Jombang. Let see!

4 Replies to “Nasib Wisata Sumberboto Terbaru, Hidup Segan Mati Tak Mau”

  1. Sumberboto bth investor swasta. Jgn berharap pada pemda jbg. Klo andalkan perhutani thok nggak bakal maju. Catet.

  2. Semua potensi daerah harus dikembangkan dengan baik. pemerintah daerah harus memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk berinvestasi . ujuan utamanya adalah agar masyarakat sekitar tempat wisata ikut terangkat kesejahteraannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *