Campursari merupakan salah satu bentuk kesenian musik hybrid yang paling populer di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kata “campursari” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “campuran esensi” atau perpaduan berbagai unsur musik. Kesenian ini menggabungkan gamelan tradisional Jawa, keroncong, langgam Jawa, dangdut, hingga elemen modern seperti keyboard dan drum. Di Jombang, campursari sering menyatu dengan ludruk (teater rakyat Jawa Timur), tayub, atau sebagai pengiring hajatan, sunatan, mantenan, dan acara keagamaan. Kesenian ini bukan hanya hiburan, melainkan media penyampai pesan sosial, satire, moral, dan pelestarian budaya di tengah masyarakat santri yang dinamis. Hingga April 2026, terdapat 163 grup campursari yang masih aktif di berbagai kecamatan seperti Ngusikan, Mojowarno, Kabuh, Diwek, dan Jombang Kota, melengkapi kesenian tradisional lain seperti jaranan dor dan orkes Melayu. Artikel ini membahas sejarah panjang berdirinya kelompok seniman campursari di Jombang, evolusinya, peran sosial-ekonominya, serta daftar nama grup dan seniman yang masih aktif. Dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jombang melalui Nomor Induk Kesenian (NIK), campursari terus bertahan di era digital.
Baca Selengkapnya