Jombang bukan sekadar kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota santri. Setiap jengkal tanahnya menyimpan lapisan sejarah yang dalam, dari masa kerajaan-kerajaan kuno hingga perjuangan kemerdekaan. Di tengah kesuburan lembah Brantas dan kehidupan keagamaan yang kuat, Jombang menyimpan memori sebagai salah satu pusat peradaban penting di Jawa Timur: Watugaluh, ibu kota Kerajaan Medang pada masa Mpu Sindok.
Mantra Kata Bertuah Jawa: Warisan Tradisi Lisan yang Sarat Kekuatan Gaib dan Kearifan Lokal
Mantra merupakan salah satu bentuk puisi lama atau sastra lisan tertua yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dalam masyarakat Jawa. Dalam tradisi Kejawen dan pengobatan tradisional Jawa, mantra dipercaya memiliki kekuatan magis atau gaib yang mampu memengaruhi dunia fisik maupun metafisik. Mantra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan “kata bertuah” yang disusun dengan rima khas, pengulangan bunyi, pilihan kata sakral, serta intonasi khusus saat dibaca. Tujuannya beragam: penyembuhan penyakit, perlindungan diri dari marabahaya, mendatangkan keberuntungan, hingga memperoleh kekuatan atau kedigdayaan.
Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Lisan Parikan di Jombang
Parikan merupakan salah satu bentuk puisi rakyat atau sastra lisan Jawa yang sangat khas, terutama di wilayah Jawa Timur. Di Kabupaten Jombang, tradisi lisan ini hidup subur dan sering menjadi bagian integral dari pertunjukan ludruk, seni teater rakyat yang lahir dan berkembang di daerah tersebut. Parikan bukan sekadar hiburan, melainkan media komunikasi sosial, kritik, nasihat, serta cerminan kearifan lokal masyarakat Arek Jawa Timur.
Menyingkap Tabir Peradaban di Bumi Jombang: Revitalisasi Prasasti Munggut sebagai Ruang Publik Inklusif dan Episentrum Pelestarian Budaya
Rabu, 22 April 2026, menjadi momentum bersejarah bagi pelestarian warisan budaya di Kabupaten Jombang. Di bawah naungan langit Kecamatan Kudu yang cerah, tepatnya di Situs Prasasti Munggut, Dusun Sumber Gurit, Desa Katemas, telah dilaksanakan sebuah perhelatan intelektual bertajuk “Seminar Nasional Bedah Gurit: Prasasti Munggut”. Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB ini mengusung tema besar: “Revitalisasi dan Pemanfaatan Situs Prasasti Munggut Sebagai Ruang Publik Inklusif Untuk Pelestarian Warisan Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Jombang.”
Manuskrip Bendel Cerita Hong Sin: Jejak Kertas Penganugerahan Malaikat di Museum Fu He An Gudo
Di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tersimpan sebuah harta karun budaya yang rapuh namun penuh makna mendalam. Manuskrip Bendel Cerita Hong Sin, atau lebih dikenal sebagai Hong Sin (Feng Shen) Penganugerahan Malaikat, adalah salah satu objek manuskrip sastra klasik Tiongkok yang menjadi bagian koleksi berharga di Museum Pribadi Tony Hersono, atau Museum Fu He An. Terbuat sepenuhnya dari bahan kertas, manuskrip ini memiliki dimensi lebar 21 cm, panjang 16 cm, dan tebal 3 cm. Ukuran kompak ini membuatnya mudah dibawa dan dibaca, khas bacaan tradisional Peranakan yang beredar di kalangan komunitas Tionghoa-Indonesia pada masa lalu. Menurut Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, manuskrip ini adalah cerita tentang penganugrahan malaikat, sebuah roman epik yang mengisahkan perebutan kekuasaan antara manusia, dewa, dan makhluk gaib, di mana para pahlawan dianugerahi gelar keilahian setelah pertempuran besar.
Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See: Jejak Kertas yang Menyimpan Epik Kepahlawanan Dinasti Tang di Tanah Jombang
Di tengah hiruk-pikuk Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah benda yang tampak sederhana namun menyimpan kekayaan budaya lintas zaman dan benua. Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See adalah salah satu objek warisan budaya yang kini disimpan dengan penuh kehati-hatian di Museum Pribadi Tony Hersono, atau lebih dikenal sebagai Museum Fu He An, yang berlokasi di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Manuskrip ini bukan sekadar tumpukan kertas lama; ia adalah saksi bisu perjalanan sastra klasik Tiongkok yang telah meresap ke dalam khazanah budaya Tionghoa-Indonesia. Dibuat dari bahan kertas, dengan dimensi lebar 22 cm, panjang 34 cm, dan tinggi 3 cm, manuskrip ini menjadi bukti hidup bagaimana cerita kepahlawanan seorang jenderal Dinasti Tang menyeberangi lautan dan berakar di Nusantara.
Ki Ageng Qorek atau Ki Ageng Corekan: Penyebar Islam, Tokoh Legendaris Desa Brodot, dan Bukti Ketabahan di Sungai Brantas
Di tengah arus Sungai Brantas yang deras, mengalir pula kisah heroik tentang seorang ulama pejuang bernama Ki Ageng Qorek, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Corekan. Kisahnya menjadi salah satu legenda rakyat yang hidup di wilayah Kediri dan sekitarnya, Jawa Timur. Ia digambarkan sebagai penyebar agama Islam yang tangguh, pembangun peradaban baru di desa terpencil, serta simbol ketabahan menghadapi fitnah dan kezaliman penguasa. Dari seorang telik sandi (mata-mata) Kerajaan Mataram yang melarikan diri, hingga menjadi kiai yang dihormati dan meninggalkan nama desa Brodot sebagai saksi peristiwa mukjizatnya, perjalanan Ki Ageng Qorek mengajarkan nilai keteguhan iman, keadilan, dan kearifan lokal dalam menghadapi cobaan.
Dongeng Enthit: Kearifan Lokal Petani Desa yang Mengajarkan Harmoni Alam dan Pertanian Berkelanjutan
Dongeng Enthit, atau sering disebut Entit, merupakan salah satu cerita rakyat Jawa Timur yang kaya akan nilai kearifan lokal. Kisah ini berasal dari tradisi cerita Panji yang berkembang di wilayah Jenggala (sekarang sebagian Jawa Timur seperti Magetan, Madiun, dan sekitarnya). Dongeng ini mengisahkan tokoh Enthit, seorang pemuda desa yang periang, lugu, suka menolong, berbicara dengan logat sengau khas, dan sangat dekat dengan alam serta pekerjaan sawah. Melalui percakapannya yang sederhana namun penuh hikmah dengan tokoh seperti Ragil Kuning, Enthit menanamkan nilai keharmonisan dengan alam, pentingnya kerja keras, dan prinsip pertanian berkelanjutan. Cerita ini bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan masyarakat agraris Jawa tentang bagaimana manusia harus hidup selaras dengan alam agar panen berlimpah dan kehidupan bahagia.
Brandal Lokajaya: Dari Berandal yang Ditakuti Menjadi Sunan Kalijaga, Bukti Kekuatan Hidayah dan Dakwah Sunan Bonang
Di tengah hiruk-pikuk sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad ke-15, muncul sosok yang dramatis dan penuh inspirasi: Brandal Lokajaya. Nama ini dikenal luas sebagai julukan seorang perampok atau berandal yang sangat ditakuti di wilayah Jatiwangi dan sekitarnya. Namun, di balik ketakutan yang ia timbulkan, tersembunyi kisah pertobatan luar biasa yang mengubahnya menjadi salah satu Wali Songo paling dicintai masyarakat Jawa, yaitu Sunan Kalijaga. Transformasi drastis dari seorang penjahat menjadi wali Allah ini menjadi bukti nyata kekuatan hidayah Ilahi dan pengaruh spiritual yang mendalam dari Sunan Bonang. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, kisah ini tidak hanya menjadi legenda rakyat, melainkan pelajaran abadi tentang rahmat Allah yang mampu merubah hati yang paling keras sekalipun.
Cangkriman: Permainan Kata Jenaka dalam Sastra Lisan Jawa yang Mengasah Logika dan Humor
Cangkriman, atau yang juga dikenal sebagai bedhekan maupun batangan, merupakan salah satu bentuk sastra lisan tradisional Jawa yang paling hidup dan digemari masyarakat. Secara sederhana, cangkriman adalah teka-teki berupa kalimat atau frasa yang bermakna terselubung, plesetan, atau perumpamaan. Jawabannya harus ditebak oleh pendengar melalui permainan kata, singkatan, homonim, atau logika kreatif yang sering kali menghasilkan kejutan dan tawa. Intinya, cangkriman adalah cara bermain kata (word play) yang cerdas untuk mengasah kemampuan berpikir logis, kreativitas, dan apresiasi bahasa Jawa, sekaligus menjadi hiburan ringan di tengah kehidupan sehari-hari.