Pengertian Ragam Teks dan Jenis-jenisnya

terapi menulis untuk kesehatan mental
terapi menulis untuk kesehatan mental

Ragam teks adalah macam atau jenis teks atau naskah berupa kata-kata asli pengarang, bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, berpidato, dan sebagainya. Sementara itu, menurut Nurgiyantoro (2014) ragam teks adalah macam atau tipe teks yang memiliki karakteristik umum.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Mitchel (2003) yang mengemukakan bahwa ragam teks merupakan kategori pengelompokan teks yamg berdasarkan isi dan bentuk. Dengan demikian, ragam teks adalah pengelompokkan teks berdasarkan isi dan bentuk teks di antaranya macam-macam atau jenis-jenis teks yang terdiri atas teks faktual, teks cerita, teks tanggapan, dan teks normatif.

Teks Faktual

Teks faktual adalah teks yang berisi suatu kejadian yang bersifat nyata, benar-benar terjadi, tetapi tidak terikat dengan waktu. Dengan kata lain, suatu kejadian yang faktual bisa terjadi di masa lalu atau pun masa sekarang. Menurut Mahsun (2018), teks genre faktual dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teks deskripsi dan teks prosedur atau arahan.

Teks Deskripsi

Teks deskripsi adalah tipe teks yang memiliki tujuan sosial untuk menggambarkan suatu objek atau benda secara individual berdasarkan ciri fiksinya. Gambaran yang dipaparkan dalam teks ini haruslah yang spesifik menjadi ciri keberadaan objek yang digambarkan. Teks deskripsi adalah sebuah teks atau wacana yang disampaikan dengan cara meggambarkan secara jelas objek, tempat atau peristiwa yang sedang menjadi topik kepada pembaca, sehingga pembaca seolah-olah merasakan langsung apa yang sedang diungkapkan dalam teks tersebut (Ulfa, 2018).

Teks deskripsi tidak dapat digeneralisasi karena lebih bersifat penggambaran ciri khusus objek yang dideskipsikannya. Berbeda dengan teks laporan penggambaran pada teks laporan dapat di generalisasi. Teks deskripsi memiliki struktur berpikir yaitu: pernyataan umum dan uraian setiap bagian-bagiannya (Mahsun, 2018).

Teks Prosedur

Teks prosedur atau arahan merupakan jenis teks yang termasuk genre faktual, subgenre prosedural. Menurut Mahsun (2018), “Tujuan sosial teks ini adalah mengarahkan atau mengajarkan tentang langkah-langkah yang telah di tentukan.” Jenis teks ini lebih menekankan pada aspek bagaimana melakukan sesuatu, yang dapat berupa salah satunya percobaan atau pengamatan. Teks ini memiliki struktur berpikir: judul, tujuan, daftar bahan (yang diperlukan untuk mencapai tujuan), urutan tahapan pelaksanaan, pengamatan, dan simpulan.

Teks Tanggapan

Teks tanggapan adalah teks yang berisi sambutan terhadap ucapan (kritik, komentar, dan sebagainya) dan apa yang diterima oleh pancaindra, bayangan dalam angan-angan. Teks genre ini dapat dibedakan menjadi dua buah teks, yaitu teks eksposisi dan teks ekplanasi (Mahsun, 2018, & Tim Sergu dalam jabatan, 2017).

a) Teks Eksposisi

Teks ini berisi paparan gagasan atau usulan sesuatu yang bersifat pribadi. Itu sebabnya, teks ini sering juga disebut sebagai teks argumentasi satu sisi (Wiratno, 2014). Struktur berpikir yang menjadi muatan teks ekposisi adalah: tesis atau pernyataan pendapat dan alasan atau argumentasi, serta pernyataan ulang pendapat.

b) Teks Eksplanasi

Teks eksplanasi adalah teks yang berisi penjelasan tentang proses terjadinya fenomena alam, sosial, ilmu pengetahuan dan budaya (Priyatni, 2014). Teks eksplanasi memiliki fungsi sosial menjelaskan atau menganalisis proses muncul atau terjadinya sesuatu. Tujuan dari teks ini adalah memaparkan sesuatu agar bertambah pengetahuan. Oleh karena itu, menurut Mahsun (2018), “Teks Ekplanasi memiliki struktur berpikir: judul, pernyataan umum, deretan penjelas, dan interpretasi.”

Seperti halnya teks-teks lain di atas, keseluruhan struktur teks eksplanasi juga diikat oleh piranti yang berupa pengulangan atau repetisi, misalnya pengulangan konstruksi “sistematis”, terkentrol, empiris, dan kritis yang muncul pada setiap paragraf pengisi struktur penjelas teks. Selain penggunaan piranti berupa pengulangan bentuk juga kekohesian dankekoherensian teks dijaga dengan menggunakan konjungsi penghubung berupa, misalnya: “adapun, selain itu…”.

3) Teks Cerita

Teks cerita adalah teks yang menuturkan bagaimana terjadinya suatu hal, peristiwa, mengisakan kejadian yang telah ada, perbuatan, pengalaman yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu.(Keraf, 2001 &KBBI, 2018). Teks cerita termasuk genre sastra dalam jenis teks tunggal (teks cerita). Teks cerita terdiri dari teks cerita ulang, naratif, anekdot, dan eksemplum. Untuk keempat jenis teks tersebut akan di kutip teks hasil modifikasi oleh Santosa (2013) dan dikembangkan oleh Mahsun (2018).

a) Teks Cerita Ulang

Menurut Mahsun (2018), “Teks ini memiliki tujuan sosial menceritakan kembali peristiwa pada masa lalu agar tercipta semacam hiburan atau pembelajaran berdasarkan pengalaman masa lalu bagi pembaca atau pendengarnya.” Teks ini memiliki struktur judul, pengenalan/orientasi, dan rekaman kejadian.

Pada teks cerita ulang terlihat bahwa rentetan peristiwa yang dialami tokoh Lebai Malang ditata dengan menggunakan konjungsi yang menunjukkan urutan peristiwa. Mulai dari penggunaan konjungsi “pertama” lalu “akhirnya”. Konjungsi pengurutan peristiwa menjadi salah satu benang pengikat yang menyatukan antarparagraf pembentuk teks tersebut. Selain menggunakan konjungsi, teks diikat oleh piranti penyatuan yang berupa pengulangan dalam bentuk anaforis: “ia” atau “-nya” yang merujuk pada “Lebai Malang”. Patut ditambahkan, bahwa pada teks penceritaan ulang atau rekon, gagasan atau pikiran tentang “masalah” dimuat dalam satu struktur teks, yaitu struktur rekaman kejadian.

b) Anekdot

Anekdot dapat diartikan sebagai cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat (Oktarisa, 2014). Teks anekdot memiliki tujuan sosial yang sama dengan teks cerita ulang (Mahsun, 2018). Hanya saja, peristiwa yang ditampilkan membuat pasrtisipan yang mengalaminya merasa jengkel atau konyol (Wiratno, 2014). Teks ini memiliki struktur berpikir: judul, pengenalan atau orientasi, krisis atau masalah, reaksi.

Teks anekdot di atas memperlihatkan penggunaan konjungsi (konjungsi dalam teks ditebalkan) dan piranti pengikat teks, bertujuan agar seluruh struktur eks menjadi padu sama dengan teks penceritaan ulang/rekon. Masalah yang muncul serta pemecahannya tercantum dalam struktur yang sama, yaitu pada struktur: masalah atau krisis. Bedanya, pada teks penceritaan ulang berakhir dengan kejadian tanpa ditampakkan reaksi pelaku terhadap peristiwa yang dialaminya, sedangkan pada teks anekdot reaksi pelaku atas peristiwa yang dialaminya ditampakan secara eksplisit. Itu sebabnya, pada teks tipe ini memiliki struktur teks
tambahan yang berupa struktur: reaksi.

c) Eksemplum

Pendapat Mahsun (2018), “Teks ini memiliki tujuan sosial menilai perilaku atau karakter dalam cerita. Itu sebabnya, teks ini memiliki struktur: judul, pengenalan/orientasi, kejadian/insiden, dan interpretasi.”

Seperti halnya kedua teks genre cerita yang dipaparkan di atas, teks eksemplum juga memanfaatkan konjungsi dan piranti pengikat struktur teks lainnya agar keseluruhan struktur teks menjadi padu. Masalah yang muncul serta pemecahannya tercantum di dalam struktur yang sama, yaitu pada struktur: masalah, krisis, ataupun insiden.

Bedanya, teks penceritaan ulang berakhir dengan kejadian tanpa ditampakkan reaksi pelaku terhadap peristiwa yang dialaminya, dan pada teks anekdot terdapat reaksi pada peristiwa yang dialami tokoh, maka pada teks eksemplum bukan reaksi individu pelaku utama terhadap peristiwa tetapi peristiwa yang berupa pesan moral dari kejadian yang dialami tokoh utama. Pesan itu tidak terkait dengan tokoh utama tetapi terkait dengan pihak partisipan yang mendengar atau membaca cerita. Dengan demikian, struktur akhir teks itu adalah interpretasi penulis terhadap kejadian yang dialami pelaku, dan diharapkan dapat
menjadi bahan renungan moralitas bagi partisipan.

d) Naratif

Teks tipe ini, sama dengan ketiga teks genre cerita yang dipaparkan sebelumnya. Menurut Mahsum (2018), “Teks naratif model penceritaan pada teks tipe ini, antara masalah dengan pemecahan masalah tidak menyatu dalam satu struktur teks seperti pada teks penceritaan ulang, anekdot, dan eksemplum.” Ia terpisah dalam struktur teks yang berbeda. Itu sebabnya, teks tipe ini memiliki struktur berpikir: judul, pengenalan/orientasi, masalah/komplikasi, dan pemecahan masalah.

Seperti halnya, ketiga teks genre cerita yang dipaparkan sebelumnya, piranti yang berupa pengulangan atau repetisi, anaforis, konjungsi penghubungan antarparagraf: setelah beberapa saat, saat kemudian, oleh karena itu, setelah pamitan, setelah selesai dan lain-lain dimanfaatkan untuk mengikat keseluruhan unsur pengisi struktur teks menjadi satu kesatuan.

Perbedaan mendasar teks cerita ulang dengan teks naratif, anekdot, dan eksemplum, terletak pada sudut pandang dalam melihat peristiwa yang diceritakan. Teks cerita ulang memandang peristiwa sebagai sesuatu yang wajar atau lazim terjadi, sedangkan teks naratif, anekdot, dan eksemplum memandang peristiwa sebagai sesuatu yang tidak lazim.

4) Teks Normatif

Normatif adalah berpegang teguh pada norma aturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku (KBBI, 2018). Jadi pada dasarnya teks normatif adalah teks yang isinya ditulis berdasarkan sebuah peraturan, norma-norma atau peraturan yang berlaku, baik di lingkungan masyarakat maupun dalam lingkungankenegaraan yang berkaitan dengan hukum atau undang-undang. Teks normatif biasanya memiliki unsur tentang agama atau nilai kebaikan.

Teks cerita yang berjudul “Hijabmu Mahkotamu” merupakan teks cerita yang berkaitan dengan norma keagamaan. Dalam norma keagamaan termasuk agama Islam, betapa penting dan wajibnya seorang perempuan menggunakan hijab di dalam kehidupannya.

Sumber: Modul 1 Pendalaman Materi Bahasa Indonesia PPG PGSD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2019

Bagikan tulisan ini:

Oleh Agus Siswoyo

Teacher in real life, story teller and Indonesian blogger.

error: Content is protected !!