Menyingkap Tabir Peradaban di Bumi Jombang: Revitalisasi Prasasti Munggut sebagai Ruang Publik Inklusif dan Episentrum Pelestarian Budaya

Prasasti Gewek (Tengaran) di Peterongan Jombang

Rabu, 22 April 2026, menjadi momentum bersejarah bagi pelestarian warisan budaya di Kabupaten Jombang. Di bawah naungan langit Kecamatan Kudu yang cerah, tepatnya di Situs Prasasti Munggut, Dusun Sumber Gurit, Desa Katemas, telah dilaksanakan sebuah perhelatan intelektual bertajuk “Seminar Nasional Bedah Gurit: Prasasti Munggut”. Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB ini mengusung tema besar: “Revitalisasi dan Pemanfaatan Situs Prasasti Munggut Sebagai Ruang Publik Inklusif Untuk Pelestarian Warisan Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Jombang.”

Baca Selengkapnya

Budaya Pesisiran di Jombang: Jejak Penyebaran Islam dari Pesisir Utara dan Transformasi Kota Santri

pementasan kesenian gambus misri bintang sembilan di gedung kesenian jombang (8)

Kabupaten Jombang, yang kini dikenal sebagai Kota Santri dengan ratusan pondok pesantren, menyimpan lapisan budaya yang kaya dari pengaruh pesisir utara Jawa. Budaya pesisiran ini bukan sekadar elemen tambahan, melainkan fondasi penting yang membentuk identitas Islami Jombang. Pengaruh ini berakar pada masa pasca-Majapahit, ketika wilayah ini menjadi tempat pelarian oposan politik, persembunyian para penjahat, dan bahkan pembuangan tahanan. Kondisi sosial yang keras dan penuh kekacauan itu mendorong para penyiar agama Islam dari pesisir utara, seperti Gresik, Tuban, Lamongan, hingga Rembang untuk mengutus santri dan kyai guna menetralkan situasi. Tokoh-tokoh seperti Kyai Sumoyono (atau Soponyono), Ki Ageng Pranggang, Ki Ageng Surono, dan Ki Ageng Buwono yang berasal dari keluarga pesisir ditugaskan menetap di Jombang untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, mengimbangi karakter keras masyarakat setempat yang masih kental nuansa abangan atau kejawen.

Baca Selengkapnya

Jatim Art Forum (JAF): Wadah Kreativitas Seni yang Menghidupkan Warisan Budaya Jawa Timur

Tahukah kamu bahwa di Jawa Timur ada sebuah forum seni tahunan yang tidak hanya mempertemukan ribuan seniman, tapi juga mengubah sebuah kota atau kabupaten menjadi pusat perayaan budaya raksasa? Namanya Jatim Art Forum (JAF), event yang digelar Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) ini telah menjadi napas baru bagi pelestarian seni tradisi sekaligus lahan subur bagi kreativitas kontemporer. Dari Surabaya hingga Gresik, JAF bukan sekadar pertunjukan, melainkan perayaan harmoni antara akar tradisi dan semangat zaman.

Baca Selengkapnya

Tradisi Membangunkan Sahur yang Melahirkan Budaya Kesenian

Contoh alat musik tradisional Jawa berupa patrol tradisional kenthongan

Di malam-malam Ramadan, ketika sebagian besar orang masih tertidur lelap, terdengar suara beduk, kentongan, rebana, dan irama tabuhan yang menggema dari ujung kampung ke ujung kampung. Bukan sekadar pengingat waktu sahur, melainkan sebuah pertunjukan seni yang hidup, penuh kreativitas, dan sarat makna kebersamaan.

Baca Selengkapnya

Hasil Rapat Forum Perangkat Daerah: Penyusunan Rencana Kerja Tahun 2027 Bidang Pariwisata Disporapar Kabupaten Jombang

Membangun Ekosistem Kreativitas di Kota Santri Menelusuri Jejak Langkah Penyusunan Blueprint Jombang Creative Hub (JCH)

Ruang Rapat Arimbi di Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang kembali menjadi pusat perhatian pada Kamis, 19 Februari 2026. Forum Perangkat Daerah yang digelar secara intensif ini difokuskan pada penyusunan Rencana Kerja Tahun 2027, khususnya sektor pariwisata. Rapat yang berlangsung hampir lima jam tersebut dihadiri oleh sekitar 60 peserta, termasuk perwakilan Pokdarwis dari berbagai desa, pelaku usaha pariwisata, tokoh masyarakat, akademisi, serta mitra dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur dan asosiasi wisata lokal.

Baca Selengkapnya

Hasil Rapat Forum Perangkat Daerah: Penyusunan Rencana Kerja Tahun 2027 Bidang Kepemudaan Disporapar Kabupaten Jombang

Pada Kamis, 19 Februari 2026, Ruang Rapat Arimbi di Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang menjadi saksi penting dari sebuah pertemuan strategis. Forum Perangkat Daerah ini digelar dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Tahun 2027, dengan fokus utama pada bidang kepemudaan. Rapat yang berlangsung selama lebih dari empat jam ini melibatkan berbagai stakeholder, termasuk perwakilan dari pemerintah kabupaten, organisasi pemuda, tokoh masyarakat, dan mitra terkait seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jombang serta Women Crisis Center (WCC) Jombang. Tujuannya adalah untuk merumuskan program-program yang dapat meningkatkan kapasitas dan daya saing pemuda di tengah tantangan era digital dan globalisasi.

Baca Selengkapnya

Selamatan Gugur Gunung dari Bondowoso: Adat Istiadat sebagai Perayaan dan Ritus, Warisan Budaya Tak Benda, serta Upaya Pelestariannya

Adat Istiadat Pendem Kepala Sapi di Kabupaten Lumajang

Selamatan Gugur Gunung merupakan salah satu tradisi budaya yang kaya makna dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk perayaan komunal, tetapi juga ritus spiritual yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga harmoni dengan alam dan sesama. Berakar dari desa-desa di Kecamatan Cermee, seperti Desa Ramban Kulon, Ramban Wetan, dan Plalangan, Selamatan Gugur Gunung digelar setiap tahun sebagai wujud syukur atas berkah yang diterima sepanjang tahun serta permohonan perlindungan dari berbagai musibah. Pada dasarnya, tradisi ini adalah manifestasi gotong royong yang menyatukan tiga desa dalam satu acara besar, di mana elemen-elemen seperti tarian tradisional, doa bersama, dan makan komunal menjadi inti dari perayaan. Dalam konteks budaya Jawa Timur, Selamatan Gugur Gunung mirip dengan tradisi selamatan desa lainnya, seperti bersih desa atau ruwat bumi, yang bertujuan untuk membersihkan desa dari energi negatif dan memohon keselamatan. Namun, keunikan tradisi ini terletak pada integrasi antara ritus sakral dan hiburan rakyat, yang membuatnya menjadi perpaduan antara spiritualitas dan kebersamaan sosial. Artikel ini akan membahas secara mendalam adat istiadat Selamatan Gugur Gunung sebagai perayaan dan ritus, statusnya sebagai warisan budaya tak benda, serta berbagai upaya pelestarian yang dilakukan untuk menjaga kelangsungannya di tengah arus modernisasi.

Baca Selengkapnya

Batik Genthongan dari Bangkalan: Warisan Budaya Tak Benda, Keterampilan Kerajinan Tradisional, Asal Usul, Ragam Kreasi, dan Upaya Pelestarian

Me and My Batik

Batik Genthongan merupakan salah satu mahakarya budaya Indonesia yang berasal dari Pulau Madura, khususnya Kabupaten Bangkalan. Sebagai bagian dari warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) yang diakui oleh UNESCO, batik ini tidak hanya mewakili keindahan estetika, tetapi juga mencerminkan keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, yang mencakup berbagai varian batik termasuk Genthongan dari Madura. Batik Genthongan dikenal dengan teknik pewarnaan unik yang melibatkan perendaman dalam gentong (wadah tanah liat), menghasilkan warna-warna cerah dan tahan lama yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir. Dalam konteks warisan budaya tak benda, batik ini mencakup aspek pengetahuan, praktik, dan ekspresi budaya yang melibatkan komunitas lokal, di mana pembuatannya menjadi simbol identitas dan keberlanjutan budaya Madura.

Baca Selengkapnya

Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2026: Dorongan untuk Melestarikan Warisan Budaya Indonesia

Rekonstruksi dan Dokumentasi Kesenian Tradisi Gambus Misri: Menghidupkan Kembali Fajar Budaya Jombang

Keragaman budaya Indonesia merupakan kekayaan tak ternilai yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau dengan 1.340 suku bangsa. Dari Aceh hingga Papua, setiap suku memiliki cipta, rasa, dan karsa unik yang memperkaya identitas bangsa. Namun, di tengah arus globalisasi dan tantangan modern, pelestarian kebudayaan memerlukan dukungan aktif dari pemerintah. Melalui Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (Banpem FPK) Tahun 2026, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan stimulus finansial untuk perseorangan, kelompok, komunitas budaya, dan lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang kebudayaan. Program ini bukan hanya bantuan dana, melainkan investasi untuk memperkuat fondasi budaya nasional, selaras dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Baca Selengkapnya

Mahashivaratri 2026: Malam Suci Shiva yang Menyatukan Spiritualitas, Budaya, dan Toleransi di Tanah Nusantara

Mahashivaratri 2026 Malam Suci Shiva yang Menyatukan Spiritualitas, Budaya, dan Toleransi di Tanah Nusantara

Mahashivaratri, atau yang dikenal sebagai “Malam Besar Shiva”, merupakan salah satu hari suci paling penting dalam agama Hindu. Festival ini dirayakan setiap tahun pada Chaturdashi (hari ke-14) di masa Krishna Paksha (bulan gelap) bulan Magha atau Phalguna menurut kalender lunisolar Hindu. Pada tahun 2026, Mahashivaratri jatuh pada Minggu, 15 Februari 2026, dengan puncak puja Nishita Kaal (waktu tengah malam) berlangsung sekitar pukul 00:09 hingga 01:01 dini hari tanggal 16 Februari (waktu setempat di Indonesia menyesuaikan zona waktu). Di Indonesia, khususnya di Bali dan Jawa, perayaan ini dikenal sebagai Siwa Ratri, dan tahun ini menandai momen bersejarah karena digelar secara megah di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta, sebagai bagian dari Prambanan Shiva Festival 2026.

Baca Selengkapnya