Bisakah Bancakan Gerhana Bulan Patuhi Protokol Kesehatan di Masa Pandemi?

Gambar ilustrasi virus corona Covid-19 - Gambar diambil dari website tci-research.com
Gambar ilustrasi virus corona Covid-19 – Gambar diambil dari website tci-research.com

Bagaimana pelaksanaan acara kenduri di masa pandemi? Bisakah protokol kesehatan diterapkan ketika tradisi Bancakan Gerhana berlangsung? Pertanyaan ini cukup menggelitik ruang pemikiran saya sejak sepekan lalu. Terlebih lagi teman-teman sesama ASN kerap mengingatkan agar saya tidak terlalu sering melakukan kegiatan yang mengundang kerumunan massa. Tradisi Gerhana Bulan terjadi setiap tahun. Tapi gerhana bulan kemarin malam menjadi tidak biasa karena berlangsung pada masa pandemi dan Pemerintah sedang giat-giatnya melakukan pengawasan ketat terhadap kegiatan warganya.

Kemarin malam saya sangat bersemangat menjalani setiap detik yang berlangsung. Kemarin tanggal merah. Itu artinya saya dan istri memiliki lebih banyak waktu berduaan di rumah. Hari yang dinantikan akhirnya datang. Tadi sore telah dilaksanakan acara bancakan gerhana bulan. Ini adalah salah satu tradisi unik masyarakat Jawa yang masih terus dilestarikan. Agama Islam memang tidak mengajarkan bancakan gerhana, tetapi Islam sangat menganjurkan umatnya agar gemar melakukan sedekah. Bancakan Gerhana menjadi kegiatan tradisi yang juga bermuatan nilai-nilai agama Islam di tempat tinggal penulis. Para kyai pun mengajak jamaahnya untuk kenduri di masjid dan musholla usai melaksanakan sholat jamaah maghrib.

Persiapan acara Bancakan Gerhana telah saya lakukan sejak beberapa hari lalu. Ibu dan ibu mertua juga terlibat dalam mempersiapkan acara ini dengan membeli barang-barang belanja untuk bahan makanan kenduri gerhana. Kesibukan yang sebenarnya telah dimulai tadi siang. Ibu dan istri saya telah menyiapkan tempat acara dan makanan yang akan disajikan kepada para undangan. Ikan Klotok, iwak teri, tahu, tempe, sambel tomat, mentimun, daun kemangi, dan beberapa sayuran lain telah kami siapkan. Kesibukan seperti inilah yang membantu kami berdua lebih mengenal karakter satu sama lain. Maklum, kami menikah tanpa melalui proses pacaran.

Undangan mulai hadir setelah melaksanakan sholat maghrib di masjid. Mereka adalah saudara dekat dan tetangga sekitar rumah. Mereka hadir melalui undangan lisan. Sebagian saudara telah mengetahui rencana Bancakan Gerhana melalui informasi Grup WhatsApp. Mereka juga terlihat bersemangat mengikuti perkembangan acara ini. Toko saya tutup. Acara doa bersama pun saya mulai. Sayangnya, tidak satu pun diantara tamu undangan yang hadir memakai masker. Ribet juga kali ya kalau mau makan bersama tapi pakai masker. Jangan ditanyakan apakah kami menerapkan jaga jarak. Sudah pasti tidak. Bahkan, kami pun berbagi air kobokan sebelum makan.

Doa bersama diisi dengan membaca surat al-fatihah dan diikuti pembacaan surat al-insyirah, surat al-ikhlas, surat al-falaq, dan surat an-naas. Saudara-saudara terlihat ceria. Ini adalah gerhana kedua selama masa kehamilan istri saya. Saya masih ingat bulan lalu juga terjadi fenomena gerhana bulan. Namun pelaksanaan bancakan gerhana kali ini lebih semarak daripada acara bancakan gerhana yang pertama lalu. Gerhana bulan yang pertama lalu berlangsung dalam suasana bulan puasa. Bisa ditebak, jumlah tamu undangan yang datang sesudah sholat tarawih sangat sedikit. Mereka sudah terlebih dulu kekenyangan sehingga enggan datang untuk ikut serta dalam acara kenduri.

Apakah manfaat sebenarnya dari pelaksanaan bancakan gerhana untuk wanita hamil? Manfaat secara langsung memang tidak ada. Namun sebagai generasi muda yang peduli pada pelestarian tradisi dan kearifan lokal, saya perlu mengikuti kebiasaan ini. Saya tidak terlalu memperhatikan mitos yang berkembang di masyarakat bahwa gerhana bulan memiliki hubungan erat dengan anak bayi yang terlahir cacat. Saya lebih percaya pada rencana Tuhan bahwa setiap anak yang terlahir di dunia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk.

Manfaat tidak langsung pelaksanaan Bancakan Gerhana adalah sebagai cara mempertemukan keluarga besar. Inilah kesempatan bagi saya untuk mengenal lebih dekat anggota keluarga disini. Waktu enam bulan ini menjadi masa yang menegangkan karena saya tinggal di keluarga baru dengan kebiasaan baru. Apapun hasil dari acara bancakan gerhana ini, saya selalu bersyukur atas segala pencapaian dalam hidup ini. Tuhan memiliki cara tersendiri untuk mengatur hidup umatnya secara bijaksana.

Ini tidak bagus dan jangan ditiru. Mengadakan kenduri jelas melanggar protokol kesehatan karena menghimpun massa, duduknya berdempet-dempetan, dan tidak terjaga kebersihan tangan. Namun akibatnya akan lebih buruk lagi kalau sampai saya tidak mengadakan acara bancakan grahono. Bisik-bisik tetangga pasti akan berhembus dengan sangat kencang dan bisa merobohkan batas kesabaran pendengaran saya. Oleh karena itu, setelah menimbang baik dan buruknya maka saya tetap melaksanakan bancakan gerhana di masa pandemi. Adakah acara kenduren bancakan gerhana bulan di sekitar tempat tinggal Anda kemarin malam? Apakah tuan rumah menerapkan protokol kesehatan dalam acara tersebut? Silakan berbagi cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:
Diterbitkan
Dikategorikan dalam Seni Budaya

Oleh Agus Siswoyo

Teacher in real life, story teller and Indonesian blogger.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *