Aplikasi Materi tentang Hak Asasi Manusi dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar (SD)

Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang
Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang

Aplikasi Materi mengenai Hak Asasi Manusi pada Pembelajaran pada Sekolah Dasar (Sekolah Dasar)

Prinsip Pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar

Sesuai menggunakan hakikat anak Sekolah Dasar & pendekatan pembelajaran, maka prinsip yg dipakai pada pembelajaran HAM dikembangkan menggunakan ciri belajar anak.

Pertama, anak Sekolah Dasar belajar secara konkrit sebagai akibatnya pembelajaran HAM diupayakan secara konrkit pula. Implikasi berdasarkan prinsip ini maka pembelajaran HAM bagi anak Sekolah Dasar menuntut pengajar buat selalu memakai media & asal pembelajaran yg bersifat konkrit & bisa ditangkap secara inderawi.

Media & asal pembelajaran yg dimaksud bisa berupa media & asal pembelajaran yg didesain & tidak didesain buat pembelajaran. Media & asal yg direncanakan merupakan media & asal yg memang menggunakan sengaja dibentuk buat kepentingan pembelajaran.

Sedangkan media & asal pembelajaran yg tidak direncanakan merupakan segala asal yg memang tidak disengaja buat kepentingan pembelajaran. Misalnya jalan raya, pasar, stasiun, & terminal. Media bisa pula yg bersifat alami & buatan.

Kedua, pembelajaran HAM memakai prinsip bermain sembari belajar & belajar seraya bermain. Bermain akan menciptakan anak berinteraksi & belajar menghargai hak orang lain. Pola bermain bisa dibedakan sebagai tiga:

(a) bermain bebas

(b) bermain menggunakan bimbingan

(c) bermain menggunakan diarahkan

(Sumiarti Padmonodewo, 1995).

Bermain bebas merupakan suatu bentuk aktivitas bermain yg menaruh kebebasan pada anak buat melakukan aneka macam pilihan indera & menggunakannya. Bermain menggunakan bimbingan merupakan suatu aktivitas bermain menggunakan cara pengajar memilihkan indera-indera permainan & anak dibutuhkan bisa menemukan pengertian tertentu.

Bermain menggunakan diarahkan merupakan suatu bentuk permainan menggunakan pengajar mengajarkan cara merampungkan tugas tertentu. Bermain bisa memakai indera permainan ataupun tanpa indera permainan. Berbagai permainan bisa dipakai pada pada pembelajaran HAM.

Ketiga, pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar memakai prinsip active learning. Pembelajaran aktif menaruh kesempatan seluas-luasnya pada anak buat aktif mencari & memaknai nilai-nilai HAM. Seluruh anggota tubuh & psikologis anak bekerja baik melalui belajar individual juga bekerja sama pada kelompok. Problem solving akan menaruh tantangan dalam anak buat aktif merampungkan kasus tadi.

Keempat, pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar dilaksanakan pada suasana yg menyenangkan. Joyfull learning akan sangat menyenangkan & menciptakan belajar anak sebagai ceria, tanpa tekanan, & menarik. Pengajar bisa menciptakan pembelajaran sebagai menyenangkan menggunakan menaruh sentuhan akrab, ramah, sembari bernyanyi, menggunakan gambar, & lain sebagainya.

Kelima, pembelajaram HAM pada Sekolah Dasar berpusat dalam anak. Artinya anak sebagai subjek pelaku yg aktif pada pada belajar. Pengajar hanya berperan menjadi fasilitator pada membantu anak gampang mempelajari nilai-nilai HAM. Pembelajaran HAM perlu mempertimbangkan aspek kemampuan & potensi anak, suasana psikologis & moral anak.

Keenam, pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar menaruh kesempatan pada anak buat mengalami, bukan saja melihat atau mendengar melainkan semua panca inderanya & mental psikologis anak aktif mengalami sendiri pada aktivitas yg memuat nilai-nilai HAM. Pembelajaran HAM menaruh kesempatan seluas-luasnya dalam anak buat bereksperimen (mencoba) mengalami aneka macam aktivitas pembelajaran HAM.

Pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar bisa berbagi keterampilan sosial, kognitif, emosional dan spiritual. Multiple intelligence bisa ditumbuhkembangkan pada pembelajaran HAM sebagai akibatnya pembelajaran tadi akan lebih bermakna bagi kehidupan anak.

Pendekatan Pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar

Pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar bukan saja mengungkapkan materi mengenai nilai-nilai HAM namun pembelajarannya sendiri wajib sinkron & dijiwai menggunakan HAM. apabila tidak, maka anak akan mengalami suatu keadaan kontras atau inkonsistensi yaitu bagaimana siswa bisa tahu materi HAM yg diterima waktu pembelajarannya sendiri melanggar HAM.

Pendidikan mengandung unsur-unsur HAM & demokrasi. Mendidik anak akan berbagi inteligensi & karakternya. Hal ini tidak akan terjadi manakala anak hanya belajar secara tekstual pada kitab & dipengaruhi sang pengajar. Individu hanya akan terdidik & mempunyai pencerahan mengenai HAM waktu beliau mempunyai kesempatan buat mengalami sendiri HAM & menyumbangkan sesuatu yg berguna berdasarkan pengalamannya tadi.

Misalnya, anak diajak secara eksklusif ikut membersihkan lingkungan sekolah. Pengalaman ini akan menaruh pengalaman dalam anak bahwa beliau sudah membantu membentuk lingkungan yg higienis & sehat. Berbagai pendekatan bisa dipakai pada pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar. Pendekatan tadi diantaranya dilaksanakan menjadi beberapa kegiatan berikut.

1) Pendekatan induktif

Pendekatan induktif yaitu suatu pendekatan yg dipakai pada pembelajaran menggunakan dimulai berdasarkan contoh-contoh, peristiwa-peristiwa, perkara- perkara & kenyataan homogen buat ditarik konklusi generik.

2) Pendekatan deduktif

Pendekatan deduktif dimulai berdasarkan konsep generik menuju penarikan konklusi khusus.

3) Pendekatan kontekstual

Pendekatan kontekstual yaitu suatu pendekatan pembelajaran yg dipakai pengajar sinkron menggunakan konteks kehidupan sehari-hari anak. Pembelajaran kontekstual tadi memudahkan anak memaknai nilai-nilai HAM yg dipelajarinya.

4) Pendekatan kooperatif (cooperative learning)

Pendekatan kooperatif (cooperative learning)  yaitu pendekatan pembelajaran menggunakan menaruh kesempatan dalam anak buat bekerja sama pada belajar. Misalnya, belajar kelompok, belajar menggunakan contoh Jigsaw, diskusi kelompok, & tugas kelompok.

5) Pendekatan inquiry

Pendekatan inquiry yaitu pembelajaran dilaksanakan menggunakan menaruh ksempatan dalam anak buat mencari penyelesaian sendiri terhadap kasus yg dihadapinya. Anak belajar mengamati kenyataan, menemukan kasus, & mempelajari kemungkinan-kemungkinan penyelesaian kasus sendiri.

6) Pendekatan discovery

Pendekatan discovery yaitu pendekatan pembelajaran yg menaruh kesempatan pada murid menjelajah buat menemukan sesuatu yg telah terdapat.

7) Pendekatan konstruktivistik

Pendekatan konstruktivistik yaitu suatu pendekatan yg menaruh kesempatan pada anak buat menyusun sendiri konsep-konsep HAM dari kehidupan sehari-hari anak.

8) Pendekatan behavioristik

Pendekatan behavioristik menggunakan membentuk lingkungan yg aman anak belajar HAM.

Materi Pembelajaran HAM di Sekolah Dasar

Materi HAM pada Sekolah Dasar dikembangkan sinkron menggunakan taraf pertumbuhan & perkembangan anak. Materi tadi disajikan secara menarik pada bentuk yg gampang dipahami sang anak. Kalimat yg dipakai sederhana, lugas, & jelas. Kalau perlu materi disertai gambar & gambaran menarik & menyenangkan.

Unsur problematik pada materi HAM pula akan menciptakan hidangan materi tidak terus-menerus & menjemukan, namun menantang penalaran kritis anak. Supaya mempunyai kebermaknaan dalam anak, materi HAM diangkat berdasarkan empiris kehidupan anak sehari-hari. Dengan demikian materi yg dikembangkan diadaptasi menggunakan perkembangan & kebutuhan anak.

Berdasarkan ketentuan pada Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 mengenai Kompetensi Inti & Kompetensi Dasar, masih ada beberapa Kompetensi Dasar yg terkait menggunakan materi HAM pada mata pelajaran PPKN pada SD.

Perencanaan Pembelajaran HAM di Sekolah Dasar

Keberhasilan aplikasi pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar sangat dipengaruhi sang perencanaan yg baik. Perencanaan tadi akan membantu pengajar buat melaksanakan langkah-langkah pembelajaran secara sistematik. Langkah-langkah penyusunan perencanaan pembelajaran merupakan menjadi berikut.

1) Menganalisis substansi kajian kurikulum.

Melalui analisis bisa diketahui bahwa materi utama HAM yg terintegrasi pada pada mata pelajaran sebagaimana termuat pada kurikulum bisa diketahui.

2) Hasil analisis kajian itu lalu dimuat pada pada silabus yg dikembangkan.

Silabus tadi berupa planning aktivitas pembelajaran secara sistematis yg memuat materi utama, media, & penilaian dan alokasi saat yg akan dilaksanakan pada pada pembelajaran.

3) Pengembangan silabus diadaptasi menggunakan potensi anak, wahana & prasarana sekolah, dan kemampuan pengajar.

Di pada silabus kita bisa merencanakan pembelajaran yg akan menaruh pengalaman belajar HAM yg sinkron menggunakan kurikulum & potensi anak. Silabus merupakan suatu planning yg memuat utama-utama pengalaman belajar yg akan diperoleh anak pada pembelajaran. Format silabus yg dikembangkan sangat bergantung dalam pengajar, & tidak terdapat yg sama.

4) Berdasarkan silabus bisa dikembangkan planning pembelajaran (RP).

Rencana pembelajaran merupakan seperangkat langkah-langkah pembelajaran yg wajib diikuti pengajar pada membelajarkan anak.

5) Perencanaan pembelajaran HAM pada Sekolah Dasar dikembangkan dari:

a) pembelajaran sinkron menggunakan baku kompetensi & komptensi dasar yg akan dicapai,

b) berpusat dalam anak,

c) pembelajaran memperhatikan pertumbuhan & kebutuhan anak Sekolah Dasar,

d) pembelajaran menghargai & memberdayakan hak anak,

e) bisa berbagi semua potensi anak,

f) berbagi active learning,

g) mendorong berpikir kritis & kreatif anak,

h) sinkron menggunakan potensi sekolah & pengajar, &

i) memungkinkan anak bisa mengakses asal belajar yg terdapat.

Sumber: Halimi, Muhammad. 2019. Modul 5 PPG PGSD Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Bagikan tulisan ini:

Oleh Agus Siswoyo

Teacher in real life, story teller and Indonesian blogger.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *