Cerita Rakyat Gorontalo: Legenda Telapak Kaki Lahilote di Pantai Pohe

Cerita Rakyat Gorontalo: Legenda Telapak Kaki Lahilote di Pantai Pohe
Cerita Rakyat Gorontalo: Legenda Telapak Kaki Lahilote di Pantai Pohe

Kumpulan cerita rakyat Nusantara kembali hadir di blog The Jombang Taste untuk Anda. Pada artikel terdahulu Anda sudah membaca kisah dongeng Sigarlaki dan Limbat dari Sulawesi Utara serta cerita fabel persahabatan kera dan ayam dari Sulawesi Tenggara. Keduanya memiliki amanat cerita yang bagus dan layak dibagikan kepada anak-anak sebagai proses pendidikan karakter. Berikut ini The Jombang Taste sajikan cerita rakyat Gorontalo yang berkisah mengenai legenda asal-usul telapak kaki Lahilote di Pantai Pohe.

Ada seorang laki-laki bernama Lahilote yang tinggal di hulu sungai dekat mata air di wilayah Provinsi Gorontalo. Pekerjaannya sehari-harinya ialah mencari rotan di hutan. Ia bekerja dengan tekun. Lahilote mengumpulkan rotan dari hutan dan menjual rotan tersebut ke pasar. Rotan menjadi salah satu bahan dasar pembuatan perlengkapan rumah tangga masyarakat Gorontalo. Karena banyak yang membutuhkan rotannya, maka Lahilote semakin giat bekerja.

Lahilote adalah seorang perjaka. Ia belum memiliki seorang istri. Bukannya tidak ada wanita yang tertarik kepadanya, hanya saja ia belum menaruh hati pada setiap wanita yang menyukainya. Sudah berulang kali datang para orang tua menawarkan puteri mereka untuk dinikahi Lahilote, namun Lahilote menolaknya secara halus. Lahilote merasa belum menemukan pasangan hidup yang sesuai.

Lahilote Mengintip Bidadari Mandi

Lalu pada suatu hari Lahilote pergi mencari rotan ke hutan seperti biasanya. Ia berangkat dengan hati riang. Tidak ada sedikitpun gurat kesedihan terpancar di wajahnya. Sepertinya ia sangat bersemangat hari ini. Semangat itu yang mengantarkan Lahilote bisa hidup mandiri di tengah hutan. Dan selama seharian ini Lahilote sudah mengumpulkan banyak rotan. Ia merasa lelah dan ingin mandi di sungai.

“Pasti air sungai di depan itu bisa menyegarkan tubuhku kembali,” gumam Lahilote.

Lahilote beranjak melangkah ke tepi sungai yang berada tak jauh dari tempat ia mengumpulkan rotan. Sesampai di tepi sungai ia terperanjat. Tanpa disangka-sangka ia melihat tujuh bidadari yang sedang mandi sungai. Ia segera memundurkan langkah dan menjauh dari tepi sungai. Meski demikian, canda tawa ketujuh bidadari terdengar dari kejauhan. Ia tergoda untuk mengintip para bidadari yang sedang mandi di sungai.

“Wah, cantiknya!” Lahilote tanpa sadar memuji kecantikan para bidadari yang sedang mandi. Hatinya tergetar. Ia ingin sekali memiliki istri seorang bidadari. Lalu timbul niat jahat dalam diri Lahilote untuk mencuri selendang salah satu bidadari.

Ketika mereka sedang mandi, secara diam-diam Lahilote mengambil selendang salah satu bidadari. Setelah selendang itu berhasil Lahilote dapatkan, ia lantas berniat menyembunyikan selendang itu di suatu tempat.

Krotakkkk….! Rupanya kaki Lahilote menginjak ranting kering dan patah. Suara gemertak kakinya menarik perhatian para bidadari. Tujuh bidadari baru sadar, rupanya ada orang yang sejak tadi mengintip mereka mandi. Kemunculan Lahilote di sungai itu secara tiba-tiba sungguh mengagetkan bidadari-bidadari tersebut.

“Ada manusia disini. Ayo kita segera kembali ke kayangan!” ujar salah satu bidadari.

Para bidadari berhamburan terbang ke kayangan, kecuali seorang bidadari yang kehilangan selendangnya. Bidadari yang tertinggal itu tampak kebingungan sekaligus malu di depan Lahilote.

“Apakah kamu tahu dimana selendangku berada?” tanya bidadari itu dengan wajah memelas. Ia sangat takut tidak bisa pulang kembali ke kayangan.

“Selendang yang mana? Sejak tadi aku memotong rotan tidak melihat ada selendang,” jawab Lahilote membohongi bidadari itu.

Bidadari itu lantas menjelaskan selendangnya yang hilang. Lahilote bersikukuh tidak mengetahui keberadaan selendang bidadari. Ia berkilah baru saja sampai di tepi sungai dan ingin mandi disana. Bidadari itu lantas menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka akan tertinggal di bumi selamanya.

“Sudah jangan menangis. Mari kita cari selendangmu bersama-sama. Untuk malam ini, kamu menginap saja di gubukku,” Lahilote menawarkan bantuan.

Bidadari itu menuruti saran Lahilote. Akhirnya malam itu bidadari yang tertinggal oleh kawan-kawannya memilih menginap di gubuk Lahilote. Lahilote berteriak dalam hati. Ia senang bukan kepalang. Sedikit lagi keinginannya menikah dengan bidadari akan terwujud.

Lahilote Menikahi Bidadari

Lahilote berpura-pura membantu mencari selendang bidadari. Selama berbulan-bulan mereka berdua mencari pusaka bidadari yang bisa mengantarkannya terbang ke angkasa. Dan selama proses pencarian selendang itulah telah tumbuh rasa suka diantara Lahilote dan bidadari. Mereka berdua saling jatuh cinta dan bersedia hidup bersama. Keduanya menikah dan hidup bahagia. Bidadari itu telah lupa tujuan awal ia datang ke gubuk Lahilote adalah untuk menemukan selendangnya yang hilang, bukan menikah dengan Lahilote.

Setelah menikah, Lahilote semakin giat bekerja mencari rotan ke hutan. Sementara Lahilote bekerja di hutan, istrinya yang cantik menunggu di rumah. Kegiatan istrinya di rumah adalah memasak, mencuci baju dan membersihkan rumah. Bidadari itu sudah terbiasa melakukan pekerjaan manusia di bumi. Ia melakukan semua itu dengan ikhlas.

Kemudian pada suatu hari ketika sedang mernbersihkan rurnah, ia masuk ke kamar gudang di belakang rumah. Sudah lama ia tidak membersihkan ruangan itu. Ia berpikir pasti disana banyak tikus dan semut yang bersarang. Ia mulai menata gudang. Barang-barang yang tidak diperlukan segera ia buang. Ketika tengah asyik bersih-bersih, tanpa sengaja istri Lahilote menemukan sebuah tabung bambu yang terbungkus daun jati dan terikat kai. Ia penasaran dan ingin tahu isi tabung bambu itu.

Ia terkejut saat membuka tabung bambu berukuran selengan pria dewasa itu. Di dalamnya ada selendang yang selama ini ia cari. Ia bahagia bukan kepalang karena selendangnya telah ditemukan.

“Ternyata selama ini suamiku menyimpan selendangku di gudang ini. Pantas saja pencarianku selalu gagal,” ujar istri Lahilote dengan wajah muram.

Saat itu juga ia memakai selendangnya dan terbang ke kayangan. Ia kecewa kepada Lahilote karena selama ini berbohong kepada. Ia ingin meninggalkan kehidupan bumi yang dipenuhi dengan manusia pendusta seperti suaminya. Ia berjanji tidak akan menginjakkan kakinya kembali ke bumi.

Lahilote Mencari Istrinya ke Kayangan

Sementara istrinya sudah kembali ke kayangan, hari itu Lahilote sungguh beruntung karena rotan yang ia peroleh lebih banyak dari biasanya. Ia bisa membayangkan betapa istrinya akan gembira karena rotan itu jika dijual akan menghasilkan banyak uang. Tapi ketika Lahilote sudah sampai di rumah, kegembiraannya lenyap seketika.

Lahilote menemukan sebuah tabung bambu tergeletak di kamar tidurnya. Tabung bambu itu sudah kosong. Kini ia teringat selendang bidadari yang ia simpan dulu. Lahilote tersadar bahwa rahasia yang ia tutupi selama ini sudah terbongkar. Isterinya telah kembali ke kayangan. Ia sangat bersedih. Selama berhari-hari ia mengurung diri di dalam kamar. Ia menyesal telah membohongi isterinya.

Lama tidak keluar rumah, Lahilote akhirnya sadar juga. Ia tidak boleh berdiam diri. Dia harus mencari tahu bagaimana cara menyusul isterinya ke kayangan dan membawanya kembali ke bumi. Ia ingin hidup bahagia dengan isterinya. Dalam proses mencari ilmu supaya bisa ke kayangan itulah Lahilote bertemu dengan seorang pria tua. Pria itu memegang rotan ajaib.

“Rotan ini akan membantumu sampai ke kayangan,” kata pria tua yang tidak diketahui namanya.

“Benarkah, kek?” tanya Lahilote setengah tidak percaya.

“Bawalah rotan ini dan temukan isterimu di sana!” ujar sang kakek.

Dengan hati yang gembira, Lahilote mulai melaksanakan nasehat si kakek. Lahilote terbang ke kayangan dengan mengendarai rotan ajaib. Selama beberapa waktu lamanya Lahilote terbang melayang-layang di angkasa. Ia tak sabar untuk bisa bertemu dengan isteri yang sangat dicintainya.

Akhirnya Lahilote dapat bertemu dengan istrinya disana. Lahilote meminta maaf kepada isterinya karena selama ini sudah berbohong padanya. Ia menceritakan dengan jujur semua kejadiannya. Mulai dari peristiwa mengintip tujuh bidadari di tepi sungai hingga niatnya menyembunyikan selendang di tabung bambu. Karena saling mencintai, keduanya pun sepakat untuk saling memaafkan.

Lahilote Dihukum Turun ke Bumi

Pada suatu waktu, Lahilote bersama istrinya sedang asyik bicara berdua di kayangan. Lahilote duduk di atas sebatang kayu. Sementara itu, istrinya sibuk mencari kutu dikepala Lahilote. Ia terkejut melihat uban yang ada dikepala suaminya. Ia ingat peraturan yang mengatakan bahwa seorang yang beruban tidak boleh ada di kayangan. Rambut yang beruban menandakan tanda semakin dekatnya kematian. Kayangan adalah tempat yang abadi, tidak mungkin makhluk yang bisa mati dapat hidup di kayangan.

Lahilote menanyakan apa alasan dirinya tidak boleh tinggal di kayangan. Istrinya menjawab, “Apalah arti sebuah cinta kalau Tuan sudah beruban, apalah artinya sebuah kayangan kalau tuan tinggal bayangan.”

Lahilote tidak menyangka akibat peraturan itu sungguh berat. Ia benar-benar terpukul dibuatnya. Akhirnya Lahilote dihukum harus turun ke bumi dengan menggunakan sebilah papan. Lahilote bersumpah, “Sampai senja umurku nanti, berbatas pantai Pohe berujung kain kafan, di sana telapak kakiku akan terpatri sepanjang zaman.”

Lahilote turun ke bumi. Telapak kakinya tercetak di Pantai Pohe. Batu berbentuk telapak kaki itu dapat ditemukan di Pantai Pohe, Gorontalo. Menurut kepercayaan setempat, batu itu adalah telapak kaki Lahilote yang terbuang dari kayangan. Demikian cerita asal usul batu telapak kaki Lahilote yang berasal dari Gorontalo.

Amanat cerita Legenda Lahilote dari Gorontalo adalah kebohongan tidak akan membawa manfaat dalam kehidupan manusia. Kejujuran seringkali pahit rasanya, namun mengatakan kejujuran akan terasa lebih baik daripada menyimpan dusta. Selain itu, Tuhan mempunyai ketentuan-ketentuan yang tidak dapat diubah oleh manusia. Manusia dapat hidup bahagia dengan menjalani kodratnya secara alami.

Semoga kisah legenda asal-usul batu tapak kaki Lahilote di Pantai Pohe ini bisa memberi inspirasi bagi Anda. Sampai bertemu dalam artikel The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *