Blogger Inside: 5 Duka Sang Blogger yang Tidak Anda Ketahui

Word Blog with colourful letters. 3D concept

Menjadi blogger bukanlah cita-cita saya. Profesi ini tumbuh begitu saja saat saya menjalani gaya hidup di era milenial ini. Berawal dari rasa rindu terhadap kampung halaman semasa saya merantau dari satu kota ke kota lain, akhirnya blog The Jombang Taste ini terlahir. Saya terlalu sering membahas hal-hal yang asyik jadi blogger. Selain sisi menyenangkan jadi blogger, tentu ada hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam diri seorang blogger. Antara lain: Continue reading “Blogger Inside: 5 Duka Sang Blogger yang Tidak Anda Ketahui”

3 Cara Menginvestasikan Waktu Anda untuk Blogging dan Bisnis Online

Word Blog with colourful letters. 3D concept
Word Blog with colourful letters. 3D concept – Industri kreatif jaman now menuntut inovasi, passion, komitmen dan kepercayaan diri.

Hampir semua jenis profesi jaman now melibatkan teknologi internet agar dapat beroperasi secara optimal. Penting bagi kita semua untuk meluangkan waktu sejenak secara rutin agar melakukan aktifitas blogging dan bisnis online. Saya paham Anda termasuk orang sibuk dan memiliki jadwal kerja yang pasti. Namun sesibuk-sibuknya manusia, pasti ada waktu luang untuk beristirahat sejenak dan menginvestasikan waktu untuk hal-hal produktif dalam mengonlinekan bisnis. Itulah kunci sukses manusia modern yang orientasi berpikirnya sudah dipengaruhi oleh media dan informasi. Continue reading “3 Cara Menginvestasikan Waktu Anda untuk Blogging dan Bisnis Online”

UKM Kuliner Desa Gondek Kecamatan Mojowarno Terkendala Strategi Marketing

Kuliner Mie Ayam Jamur depan GOR Merdeka Jombang adalah salah satu bentuk Usaha Kecil Menengah yang mampu bertahan di tengah maraknya bisnis kuliner di Kabupaten Jombang

Perkembangan bisnis kuliner di kabupaten Jombang makin ramai. Bisnis makanan tidak melulu berkisah tentang cita rasa makanan, tetapi juga kreatifitas membuat sajian hidangan yang menarik dan bikin senang konsumen. Salah satu kelompok bisnis kuliner di Jombang adalah UKM Desa Gondek yang terletak di Kecamatan Mojowarno. UKM ini terdiri dari orang-orang kreatif di bidang kuliner. Sayangnya, mereka terkendala cara memasarkan produk yang tepat. Strategi marketing mereka masih lemah. Hal ini terbukti dari jumlah pesanan yang belum seberapa. Perlu pelatihan pemasaran yang tepat agar produk mereka laris di pasaran.

Pada Minggu, 26 Agustus 2018 lalu saya berkunjung ke rumah Mbak Tyas di Dusun Gondek Desa Gondek Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Kami sudah janjian sebelumnya dengan Mbak Dewi sebagai sosok yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya mengenal Mbak Dewi karena saya pernah memesan aneka kue tradisional Jawa sebelumnya. Kali ini saya berbincang dengan Mbak Tyas. Saya baru tahu kalau di Gondek ini terdapat sebuah kelompok UKM yang bergabung dalam sebuah koperasi yang bernama Koperasi Gajah Mada. Mereka terbentuk atas dasar pelatihan dari salah satu lembaga swadaya masyarakat dan lembaga pendidikan milik Pemerintah. Anehnya, Pemerintah desa setempat justru tidak terlibat dalam kehidupan bisnis ini.

Selepas dari pelatihan di Gudo tersebut, 20 orang wanita yang tergabung dalam Koperasi Gajah Mada mendapatkan hibah dana sebagai modal awal menjalankan usaha kuliner. Modal tersebut menjadi dana utama untuk unit peminjaman dana melalui koperasi itu. Selanjutnya, setiap pelaku bisnis UKM yang meminjam dana untuk usaha harus mengembalikan pinjaman beserta bagi hasil yang jumlahnya telah disepakati di muka. Kreatifitas ibu-ibu muda itu sangat baik. Produk-produk mereka yang sudah beredar di pasaran antara lain stik telo, onde-onde telo, brownis tape, dan sejumlah jajanan rakyat yang bentuk dan isinya unik.

Berbisnis dengan modal kreatif saja tidak cukup. Mereka mengalami hambatan untuk menjalankan bisnis kuliner di wilayah Jombang dan sekitarnya. Mereka hanya mampu melayani permintaan dari tetangga kiri dan kanan rumah. Mereka belum mampu bersaing dengan UKM dari desa tetangga karena nama mereka belum dikenal. Solusi untuk hal ini pun sepertinya belum ada. Mereka hampir tidak pernah mengikuti pameran bisnis kuliner. Daya dukung pemerintah desa pun hampir nol. Salah satu cara yang dilakukan Mbak Tyas adalah berpromosi melalui Instagram. Hal ini pun dilakukannya dengan cara yang sederhana. Mereka belum menemukan trik yang tepat dalam mempromosikan produk UKM makanan melalui teknologi internet.

Ada usul?