Aku, Zara dan Panti Asuhan Al-Hasan Watugaluh

Aku, Zara dan Panti Asuhan Al-Hasan
Aku, Zara dan Panti Asuhan Al-Hasan

Siang itu Rabu, 12 Februari 2014 cuaca sangat panas. Walau saat itu sedang musim hujan, hari itu saya merasa gerah oleh teriknya cuaca. Saya dan kawan-kawan Yatim Mandiri Jombang berkunjung ke Panti Asuhan Al-Hasan di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Cuaca sangat terik. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk mengendarai sepeda motor dengan membawa 6 kardus bantuan. Isi kardus itu antara lain susu formula untuk bayi, pakaian anak-anak, susu cair , sosis Super Gizi Qurban, dan sembako atau bahan-bahan keperluan sehari-hari.

Jalanan berdebu dengan aspal berlubang disana-sini. Ah, itu bukan alasan untuk mengeluh. Toh selama ini saya sudah sering melalui jalan ini ketika berangkat dan pulang kuliah ke kampus Tebuireng. Tak berapa lama saya sampai di pintu gerbang Al-Hasan. Kalau dilihat dari luar memang tempat itu suasananya sepi. Tapi begitu saya mengucap salam ke dalam, saya disambut belasan anak kecil yang siang itu sedang bermain bersama.

Anak kecil laki-laki dan perempuan dari berbagai usia berebutan bersalaman. Namun secara umum saya memastikan mereka semua masih usia sekolah dasar. Sebagain lain berlarian menyambut kehadiran kami bertujuh. Ada perasaan senang di hati saya ketika mereka menjawab salam kami dengan riang. Namun kebahagiaan itu hanya sejenak. Tak lama kemudian hati saya terasa teriris ketika menyaksikan salah satu anak yatim Al-Hasan sedang berjalan merangkak sendirian.

Anak bayi itu perempuan. Belakangan saya tahu namanya Zara. Usia Zara delapan bulan. Zara merangkak mendekati bibir lantai yang agak tinggi. Ketinggian lantai dengan lantai halaman memang tidak seberapa. Tapi kalau dia jatuh tetap saja kasihan. Saya bergegas mendekati Zara. Masya Allah, bayi delapan bulan bermain sendirian diantara tiga puluh anak yatim. Tanpa diperintah, saya menggendong Zara. Wajahnya yang polos, putih, bersih, seketika mencerahkan hati saya sedang keruh sejak berangkat dari kantor.

Zara tipe anak pendiam. Dia tidak banyak bergerak dalam pangkuan saya. Memang menyenangkan kalau punya anak tidak banyak tingkah. Tapi hati saya tetap saja menginginkan Zara bisa lebih aktif bergerak. Atau setidaknya dia menyambut senyum saya yang sejak awal saya pasang untuk membendung air mata yang siap tumpah. Zara yang manis harus menghadapi kenyataan bahwa dia tumbuh di lingkungan panti asuhan. Jika boleh memilih, pasti semua anak yatim Al-Hasan ingin tumbuh dan besar bersama orang tua kandung mereka.

Saya sudah sering melaksanakan kegiatan yang melibatkan anak yatim di Jombang. Mulai dari Buka Puasa Bersama Anak Yatim, Super Camp Kemandirian, Renungan Sanggar Yatim Mandiri, dan lain-lain. Tapi baru kali ini saya tidak bisa mengontrol emosi untuk tetap berlama-lama menggendong Zara. Memandang Zara dalam dekapan seolah melihat miniatur jalan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Hidup yang penuh misteri ini memang penuh teka-teki. Kita hanya bisa menjalaninya dengan semampu daya upaya diri.

Dan ternyata kegalauan hati saya tidak sendiri. Ada kawan saya, Eko Firmansyah yang tergerak ingin menggendong Zara. Ah, Mbah Eko ini bisa saja membuat suasana cair dengan melemparkan guyonan seru. Dengan terpaksa saya ikut tertawa karena saya tidak ingin terlihat cengeng di depan kawan-kawan. Hehehe. Ya, kadang saya harus menyimpan ekspresi dalam-dalam agar suasana lebih kondusif.

Zara adalah satu diantara sekian banyak anak yatim di Jombang yang tinggal di panti asuhan. Saya tidak tahu pasti siapa orang tua Zara dan bagaimana awal cerita Zara sampai dititipkan di Panti Asuhan Al-Hasan. Bagi saya latar belakang Zara tidak penting. Yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah bagaimana menyiapkan masa depan anak-anak yatim yang senasib dengan Zara agar mereka bisa tumbuh dengan riang layaknya anak-anak pada umumnya.

Saya adalah anak keempat dari empat bersaudara dan alhamdulillah saya masih memiliki orang tua lengkap. Saya tidak mampu merasakan penderitaan anak yatim yang sebenarnya. Namun saya dapat merasakan bagaimana rasanya hidup dalam ketidaksempurnaan anggota keluarga. Ketika kita ditinggalkan oleh orang-orang tersayang, barulah kita tahu apa itu arti kebersamaan. Pada saat anak-anak lain bergelayut manja dalam pelukan bapak ibunya, kepada siapa anak-anak yatim mendapatkan kasih sayang.

Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi bagi Anda agar lebih menyayangi anak yatim. Cinta yatim dicinta Nabi.

5 Replies to “Aku, Zara dan Panti Asuhan Al-Hasan Watugaluh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *