Tiga Mengetuk Pintu: Part 2. Menikung di Sepertiga Malam yang Terakhir

Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan
Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan

Cerita sebelumnya baca: Saat Aku Tak Mampu Lagi Mengajar Kalian

17.15

“Marisa! Tutup pintu pagarnya. Hari sudah menjelang malam,” terdengar suara pria dari arah dalam rumah. Pasti itu suara Haji Kodir. Abi Marisa terkenal galak. Tidak satupun pemuda desa ini yang berani menggoda anak gadis Haji Kodir. Tak hanya menebar ancaman lewat suara, Haji Kodir juga tak gentar melempar terompah kayu kepada siapa saja yang berani menggoda Marisa.

“Ya, Bi. Ini pagarnya mau saya tutup,” ujar Marisa dengan gelagapan. Ia buru-buru memalingkan muka dariku. Aku terperangah. Sementara itu Sasha mengekor saja di belakangnya. Ku pandangi tubuh kakak beradik itu hingga menghilang di balik pintu ruang tamu rumah Haji Kodir.

17.30

“Sudah! Jangan berkhayal bisa diambil menantu Haji Kodir. Tahu sendiri kan tebalnya kumis Haji Kodir,” suara di belakangku mengejutkanku. Ali menepuk punggungku. Ia tersenyum nyengir tanda meremehkan.

“Ah, kamu ini bicara apa sih, Li? Aku tadi cuma mengantar Sasha pulang dari mengaji,” ucapku sekenanya.

“Kalau cuma mengantar adiknya kenapa sambil curi pandang kakaknya?” sergah Ali seraya tertawa kecil.

Ku tinggalkan Ali. Saudara sepupuku itu memang suka menjahili diriku. Mentang-mentang dia sudah menikah lantas dia seenaknya bisa memojokkanku dengan kata-katanya yang tajam.

Langkahku kupercepat. Kurang dari setengah jam lagi akan terdengar adzan maghrib. Aku tidak mau terlambat pulang ke rumah dan menyiapkan Kenduri Megengan. Terlalu sayang untuk melewatkan acara makan-makan bersama warga desa.

Ku teguk segelas air putih. Mengajar santri di masjid sungguh melelahkan. Aku tidak mengeluh. Delapan tahun sudah aku mengajar mengaji. Kalau mau mengeluh, terdengar sudah terlambat. Bukankah ini jalan hidup yang kupilih usai pulang kampung.

Namun sebagaimana manusia normal lainnya, aku juga pernah kesal dengan ulah sebagian santri yang tidak disiplin hadir tepat pada waktunya. Mereka hanya mau jajan dan main di halaman masjid. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati, “Beginilah nasib anak yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua yang sibuk bekerja.”

Lantas aku berandai-andai. Bila saja aku sudah menikah dan memiliki anak, pasti aku tidak akan puyeng saat pulang ke rumah. Akan ada istri cantik yang menyambutku di depan rumah. Akan ada anak kecil yang bergelayut manja di tanganku.

“Tuh kan, berkhayal lagi!” suara menyebalkan itu terdengar lagi. Kembali Ali menepuk pundakku.

“Bisa nggak kamu tidak usilin aku sehari saja?” kataku dengan nada malas.

“Mana bisa! Selama kamu masih menjomblo seperti ini, aku akan terus mengganggumu,” ucap Ali.

“Tunggu dulu! Apa hubungannya antara jombloku dan urusan Anda?” ujarku dengan nada layaknya pembawa acara berita di televisi.

“Dengar ya. Aku sekarang sudah menikah. Dan kamu masih sendiri. Aku pernah berada di posisimu. Aku tahu kamu kesepian. Kamu butuh kasih sayang. Kamu butuh pelampiasan…” cecar Ali di depanku. Mulutnya lemes sekali seperti penjual jamu.

“Sok tahu, kamu!” potongku dengan cepat.

Aku tidak mau mendengar kebenaran yang diucapkan olehnya. Semua perkataan Ali tak ubahnya penegasan bahwa aku membutuhkan seorang istri. Segera. Selama ini aku sudah cukup pintar menyembunyikan keluh-kesah dibalik canda-tawa para santri. Kupikir inilah saatnya kutampakkan kebahagiaan yang sebenarnya.

17.35

Mbah Kadiyan mengumandangkan adzan maghrib lewat corong masjid. Puluhan warga berjalan ke masjid. Berbagai aktivitas ibadah dilaksanakan di masjid. Usai melaksanakan shalat magrib, warga melakukan kenduri megengan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan tahun ini.

Anak-anak bergembira mendapatkan nasi kotak dan beragam aneka jajan pasar khas Jombang. Aku pun menjadi bagian dari hiruk pikuk kegembiraan warga desa menyambut Ramadhan.

19.40

Sholat isya’ telah ditunaikan. Tarawih hari pertama telah selesai. Seperti biasanya, sholat tarawih perdana selalu ramai. Bagian dalam masjid dan serambi telah penuh oleh jamaah. Aku tidak menjamin pemandangan semarak ini akan bertahan hingga tiga puluh hari mendatang.

Seperti yang sudah-sudah, sekelompok emak-emak mengerumuni meja mengaji di serambi masjid usai sholat tarawih. Mereka tidak mau kalah oleh anak gadisnya. Suara serak dan melengking saat tadarus seolah menjadi ciri khusus emak-emak sosialita itu. Tidak ada ruang untuk anak gadis tadarus di masjid.

Suara tadarus mereka tidak terlalu merdu. Cukup berisik di malam pertama Ramadhan. Aku memaksakan diri memejamkan mata. Meski sulit, aku harus mengatur jam tidur mulai dari sekarang hingga dua puluh sembilan hari mendatang. Beberapa jam lagi aku harus sudah terbangun dan menyalakan pengeras suara di masjid.

Membangunkan warga untuk makan sahur sudah kulakukan sejak tujuh tahun lalu. Suaraku tidak cukup merdu, bahkan cukup berantakan untuk sekedar menjadi vokalis pengamen jalanan. Tapi siapa sangka justru berbekal suara tidak elok inilah aku bisa membangunkan warga untuk makan sahur.

02.45

Kupikir masih cukup bagiku untuk menjalankan sholat tahajud dua rokaat. Suasana cukup tenang. Tidak ada suara berisik anak-anak menabuh patrol seperti bulan puasa tahun kemarin. Hikmah pandemi tahun ini cukup membuat jera orang-orang yang doyan keluyuran di malam hari.

Suasana sepi begini penahan rindu menusuk hati. Tak mungkin seorang pun menyadari karena mereka bukanlah diriku. Lantas ku titip puisi kepada illahi agar gelora tidak merintih dan sengsara pun menyingsih. Karena rindu kepada Tuhan, kasih kan terlahir dalam kun fayakun. Air mata setia mengalir di sepertiga malam yang terakhir. Berharap semua hampa segera berakhir.

Yakinilah kasih Tuhan telah lama terselam di relung terdalam setiap insan. Ku akui berbagai prasangka muncul karena Marisa. Namun ku tak pernah berhenti dengan harapan suci dan doa yang tak henti. Janganlah rasa ini hadir seperti embun. Sejuk sesaat lalu menguap diterpa terik mentari.

Ya Rabb, aku ingin membuat perjanjian dengan-Mu. Sekian lama ku melayani-Mu, tak bolehkah ku meminta belas kasih-Mu saat ini. Biarkan ku akhiri kemarau panjang terlanda panas asmara. Ku ingin menagih janji yang selalu engkau gaungkan lewat kalam suci.

Sisi lain hatiku berkata aku tidak boleh mengancam Tuhan dengan meminta imbalan. Romi, ikhlaskan ibadahmu. Jika setiap ibadahmu hanya untuk mengetuk hati Tuhan, maka tak ubahnya dirimu dengan pedagang kaki lima yang bisanya mencari uang kecil dengan mengadu mulut besar.

Dua sisi hatiku saling menyerang. Si Kanan berkata, “Tak apalah jika kamu meminta apapun kepada Tuhanmu. Asal kamu imbangi dengan usaha nyata.”

“Paling-paling usaha kamu mentok di doa,” ujar di kiri dengan suara lirih.

03.05

Ku akhiri pergulatan batin di pagi buta ini. Kesadaranku kembali saat terdengar suara pintu gerbang masjid didorong. Glondang roda gerbang memecah kesunyian. Tak lama kemudian Cak Majid tampak bersiap menjalankan sholat malam sepertiku.

Ku kira hanya orang jomblo saja yang ingin menikung hati anak gadis di tengah malam. Rupanya pria paruh baya itu juga memiliki modus merayu Tuhan lewat doa mustajab. Okelah. Mungkin masa pandemi kali ini benar-benar membuat semua manusia merasa lemah dan tak berdaya.

03.08

Ku mulai tadarus di awal Ramadhan ini. Aku bersyukur pernah mengikuti pelatihan membaca kitab suci Al-Quran. Meski bukan lulusan terbaik, aku senang memiliki keterampilan membaca Al-Quran. Setidaknya kelak aku bisa menjadi guru yang baik untuk istri dan anak-anakku.

(Bersambung)

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Tiga Mengetuk Pintu: Part 2. Menikung di Sepertiga Malam yang Terakhir”

  1. Apakah cerita ini diangkat berdasarkan kisah nyata kehidupan seseorang? alur ceritanya sangat natural. kesannya kok seperti curhat penulis ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *