Tanda Akhir Zaman: Tadarus Al-Quran di Masjid Sepi Peminat

Bulan Ramadhan tahun ini telah usai dan menyisakan banyak cerita seru di Jombang. Umat Islam telah ditinggalkan bulan mulia yang memiliki malam Lailatul Qodar. Salah satu kegiatan Ramadhan yang dilakukan di masjid dengan semarak adalah tadarus Al-Quran. Tadarus Al-Quran merupakan kegiatan membaca ayat-ayat suci Al-Quran dengan menggunakan pengeras suara sebagai bentuk syiar Islam di tengah kehidupan masyarakat. Tadarus Al-Quran pada umumnya dilaksanakan setelah sholat jamaah tarawih dan beberapa saat pada jam makan sahur sebelum waktu imsyak tiba.

Sampai dengan hari-hari terakhir jelang Hari Raya Idul Fitri, kegiatan tadarus Al-Quran di tempat tinggal saya sungguh memprihatinkan. Saya katakan memprihatinkan karena ibadah membaca kitab suci agama Islam ini jarang peminatnya, baik remaja maupun orang dewasa. Jamaah yang mengaji tak lebih dari 10 orang. Para remaja beralasan belum mampu membaca Al-Quran dengan lancar. Bagi yang sudah bisa membaca dengan lancar mereka bermasalah dengan krisis kepercayaan diri. Sebagian lagi beralasan besok pagi harus berangkat sekolah sehingga butuh waktu tidur lebih awal.

Bagaimana dengan para orang tua? Mereka pun sama saja. Mereka punya banyak alasan untuk tidak ikut tadarus ke masjid. Alasan mereka mulai dari menyiapkan fisik untuk bercocok tanam di sawah keesokan harinya, capek karena seharian sudah bekerja, sakit-sakitan karena faktor usia, ada juga yang bilang sudah tertidur karena kelelahan. Hmm, kalau mau cari alasan, sebenarnya bisa saja kita membuat segudang alasan. Mengapa untuk beribadah kita harus memberatkan langkah sementara antre sembako murah 5 kg beras bisa dilakukan dengan semangat? Apakah ada yang salah dengan cara berpikir kita?

Rumah Cerdas Islami - Pusat Bimbingan Belajar Islami dan Training Center
Rumah Cerdas Islami – Pusat Bimbingan Belajar Islami dan Training Center

Masjid dan Al-Quran Jadi Hiasan Semata

Saya teringat salah satu mauidhoh hasanah Gus Masyhuri yang dikatakan di Pondok Pesantren Al-Madinah, Diwek, Jombang, beberapa waktu lalu. Di depan para jamaah pengajian setiap Jumat malam tersebut Gus Masyhuri berujar bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah masjid sepi penghuni. Masjid dibangun dengan indah dan mewah namun tidak bisa memberi manfaat bagi umat muslim. Kegiatan manusia bukan lagi berpusat di masjid. Sebaliknya, pasar, mall, ruko, dan restoran mengambil alih sebagian besar waktu manusia.

Selain itu, tanda-tanda akhir zaman yang lain adalah Al-Quran cuma jadi hiasan saja. Setiap muslim memang memiliki kitab suci Al-Quran di rumah mereka. Namun mereka enggan mengaji setiap hari, apalagi memahami setiap kalimat suci yang terkandung banyak makna bagi kehidupan manusia. Bagi seorang muslim, Al-Quran adalah pedoman hidup yang utama. Al-Quran memuat dasar-dasar hukum yang mengatur kehidupan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan lingkungan.

Pantaslah jika almarhumah nenek saya yang wafat dalam usia 98 tahun berujar kepada saya dalam satu kesempatan bahwa beliau bersyukur masih hidup dan melihat anak cucunya tetap memegang teguh agama pada saat akhir zaman sudah datang. Saya heran, atas dasar apa nenek saya mengatakan sekarang ini sudah akhir zaman? Tanpa penjelasan yang pasti, namun beliau mengatakan dunia saat ini sudah banyak berubah. Dan hanya orang-orang yang berpegang pada Islam dan Al-Quran yang akan selamat dari kesesatan yang nyata. Wallahu ‘alam.

3 Replies to “Tanda Akhir Zaman: Tadarus Al-Quran di Masjid Sepi Peminat”

  1. Saya senang bertemu blog ini. Mari kita biasakan menghidupkan Al Quran dalam aktifitas sehari-hari. Semoga kita termasuk orang yang beruntung tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *