Kearifan Lokal Upacara Kesada Suku Tengger di Gunung Bromo

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Bagaimana kabar sobat blogger Jombang hari ini? Semoga kesuksesan menyertai Anda hari ini dan seterusnya. The Jombang Taste kembali menyajikan artikel seni budaya Nusantara yang unik dan menarik untuk dibahas. Kali ini kita bahas nilai-nilai moral dan kearifan lokal yang terdapat dalam kehidupan masyarakat suku Tengger di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur. Suku Tengger memiliki upacara adat Kesada yang menjadi salah satu kalender wisata unggulan provinsi Jawa Timur.

Lokasi Gunung Bromo

Masyarakat suku Tengger mendiami daerah Pegunungan Tengger dan sebagian dari mereka mendiami daerah lereng Gunung Semeru, Jawa Timur. Daerah Pegunungan Tengger mempunyai ketinggian kurang lebih 2.000 meter dari permukaan laut. Tentu saja hawanya dingin, lagi pula Tengger merupakan daerah terpencil sehingga sangat tepat berkembang sebagai tempat wisata alam pegunungan yang indah dan asri.

Pegunungan Tengger meliputi kawasan Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Batok. Pegunungan Tengger berada di beberapa wilayah kabupaten di provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Namun wisatawan pada umumnya mengenal Gunung Bromo sebagai salah satu tempat wisata di Probolinggo yang banyak dikunjungi turis mancanegara. Wilayah ini didiami oleh masyarakat suku Tengger.

Mengapa mereka mendiami daerah yang demikian? Menurut sejarah dapat dituturkan secara singkat bahwa mereka beragama Budha Mahayana dan masih keturunan dari orang-orang Majapahit. Agama Islam berkembang di daerah kerajaan Majapahit bersamaan dengan tenggelamnya kejayaan Majapahit. Penyebaran Islam ini dirasa bersifat mendesak. Mereka yang masih mempertahankan agamanya terpaksa pergi meninggaikan daerahnya dan bersembunyi ke atas Pegunungan Tengger.

Asal-usul Suku Tengger

Nama Tengger sendiri konon ada ceritanya. Menurut legenda, kata tengger berasal dari kata roro anteng (tenang), dan joko seger (segar). Kata-kata tersebut berasal dari nama dua orang suami-isteri yang kemudian menurunkan masyarakat Tengger. Legenda Roro Anteng dan Joko Seger menjadi cerita rakyat Jawa yang dikenal secara luas sebagai sepasang suami-isteri yang saling mencintai dan sehidup-semati dalam memperjuangkan cintanya.

Alkisah, seorang puteri yang bernama Roro Anteng adalah keturunan dari golongan bangsawan. la jatuh cinta dengan seorang jejaka keturunan orang biasa. Kemudian mereka dapat kawin dan hidup menjadi suami isteri. Mereka dapat hidup dengan bahagia karena selalu rukun dan penuh dengan cinta kasih. Maka selama menjadi suami-isteri mereka mempunyai 25 orang anak dan hidup selamat semua.

Pada suatu saat Gunung Bromo sedang murka. Bergerak-gerak dan bergetar-getarlah tubuh gunung itu, bergelegaran suara dari mulut kawahnya. Keluarlah api dari kawah dan membumbung seperti lidah yang menjilat ke angkasa serta ke daratan sekelilingnya. Kejadian ini telah menimpa nasib malang bagi keluarga Roro Anteng dan Joko Seger. Semburan api yang menjilat-jilat itu menjilat pula anak yang nomor dua puluh lima dan masuk terisap ke dalam kawah.

Betapa sedih hati ayah ibu serta kedua puluh empat orang saudaranya yang ditinggalkan itu. Pada suatu saat terdengar suara rintihan tangis dari dalam kawah Bromo itu, dengan permintaan agar saudara-saudaranya mau mengirim minuman serta makanan.

Setelah didengar dengan jelas bahwa rintihan tangis yang berasal dari kawah itu adalah rintihan adik bungsunya, maka beramai-ramailah kedua puluh empat orang saudara itu mengirim makanan dan minuman dengan cara menceburkannya ke dalam kawah Gunung Bromo itu. Itulah sebabnya, maka pengiriman makanan dan minuman tetap berlangsung sampai sekarang, meskipun berganti prosesnya. Demikian asal-usul buday masyarakat Tengger yang mendiami Gunung Bromo.

Tradisi Sesaji Upacara Kesada

Pengiriman makanan dan minuman seperti yang diceritakan di atas sampai sekarang mengalami perubahan serta perkembangan. Masyarakat yang masih disebut Suku Tengger setahun sekali melakukan upacara tradisional dengan cara upacara sesaji ke kawah Bromo. Waktu pelaksanaan upacara itu kemudian disebut Hari Kesada. Proses upacara pada Hari Kesada itu semacam dengan masyarakat Yogyakarta melakukan sesaji ke Pantai Selatan atau Segoro Kidul.

Upacara Kesada di jaman sekarang, apa yang dijadikan sesaji berupa harta-benda uang, rokok, sayuran, ternak, dan barang-barang lain sesuai dengan kekayaan masing-masing. Barang-barang inilah yang kemudian dilepas melalui bibir kawah, dan meluncur pada lereng kawah sebelah dalam, terus masuk kawah tertelan oleh Bromo.

Demikianlah upacara sesaji Kesada dilaksanakan beserta perjalanan barang-barang sesaji. Apabila orang dapat menyaksikan, ternyata berlainan adanya. Hal ini disebabkan, karena sebelum masyarakat Tengger berduyun-duyun mendaki Bromo untuk melepas sesaji. Aktifitas menjatuhkan sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo menjadi salah satu wisata budaya yang unik di Kabupaten Probolinggo. Upacara Kesada telah berkembang menjadi kalender wisata yang rutin dilaksanakan oleh Kabupaten Probolinggo setiap tahun.

Orang-orang penduduk dari desa lain yang bukan orang Tengger, sejak pagi sudah mendahului langsung masuk ke lereng kawah bagian dalam, untuk mengadakan penghadangan barang-barang sajen yang sedang meluncur ke kawah kawah. Tentu saja mereka ini berlomba untuk menangkap dan mendapatkan barang-barang yang dibuang oleh wong Tengger sehingga akhirnya menimbulkan suasana berebut-rebutan.

Orang akan merasa ngeri bila menyaksikannya. Namun, karena mereka telah terlatih berlari-lari di lereng-lereng pegunungan, maka dengan lincah pula mereka lari ke sana ke sini berebutan barang sajen itu. Dengan demikian jelas, bahwa barang-barang yang dikorbankan itu tidak langsung masuk ke kawah, yang menganga bagaikan mulut menantikan masuknya makanan untuk segera ditelan.

Hal yang demikian itu dapat diketahui jelas oleh orang Tengger yang berkepentingan melaksanakan upacara Kesada. Namun bagi mereka bukan soal dan tidak peduli apakah korbannya masuk kawah atau tidak. Mereka sudah puas bahwa pada hari Kesada itu telah bisa memberi korban sesaji ke Kawah Bromo yang merupakan pengiriman makanan dan minuman kepada anak Tengger yang nomor dua puluh lima.

Pesan Moral Upacara Adat Tengger

Bagi masyarakat suku Tengger, hari Kesada bisa juga bermakna hari untuk melepaskan nadar atau kaulan. Bagi masyarakat awam yang belum mengerti, mereka akan mentertawakan sikap yang diperbuat orang Tengger yang melaksanakan nadarnya ini. Bahkan mungkin ada wisatawan yang beranggapan bahwa wong Tengger masih ketinggalan jaman. Kebiasaan masyarakat suku Tengger yang memelihara tradisi merupakan keunikan daya tarik wisata budaya di Provinsi Jawa Timur.

Tingkah laku masyarakat suku Tengger terbilang unik. Misalnya ada orang Tengger yang sedang melepas nadar, maka orang tersebut membawa pesawat radio atau tape rekorder. Kedua alat elektronik itu dibunyikan dari rumah dan dibawa mendaki sampai di bibir kawah. Barang itu tidak diceburkan, melainkan kemudian dibawa lagi turun pulang, sementara keduanya masih tetap dalam keadaan berbunyi.

Lalu apakah gerangan maksud orang itu bersikap demikian? Ternyata orang tersebut semula mempunyai cita-cita atau permohonan untuk memiliki barang-barang tersebut. Maka kemudian barang elektronik tersebut dibawa ke kawah, yang maksudnya sekedar melapor kepada Sang Hyang Widhi bahwa cita-citanya untuk memiliki barang-barang itu sudah terkabul.

Di samping upacara Kesada, maka masyarakat Tengger masih mempunyai tradisi yang disebut Hari Karo. Upacara Hari Karo dilakukan sebulan sesudah hari Kesada. Hari Karo ini seperti halnya hari raya Idul Fitri bagi orang Islam atau hari Natal bagi orang Nasrani. Penyelenggaraannya lebih besar daripada hari Kesada.

Kalau Kesada puncak upacaranya di kawah Gunung Bromo, sedang Karo di Desa Ngadisari, Desa Jetak, dan Desa Wonotoro. Ketiga desa tersebut letaknya berdekatan. Upacara Karo ini merupakan upacara pemindahan pusaka keramat yang disebut Kelontong yang sangat dihormati serta dikeramatkan. Pusaka keramat kelontong merupakan jimat atau pusaka orang Tengger yang berwujud kumpulan barang-barang kuno, antara lain 8 buah senjata lembing, beberapa keping uang logam kuno, tempayan dari kayu, dan masih ada lagi, yang semuanya misterius.

Barang-barang misterius ini hanya Kepala Dukun Tengger sajalah yang boleh mengetahui bentuk serta warnanya. Banyak orang mengira bahwa suku Tengger termasuk masyarakat yang terpencil serta tersekat dari alam pembangunan, seperti halnya suku Kubu di daerah Jambi Sumatera, atau seperti suku Badui di lereng Gunung Salak Jawa Barat. Hal ini menyiratkan adanya penghargaan terhadap upaya pelestarian warisan budaya masyarakat terdahulu. Barang-barang pusaka itu bercerita mengenai kejayaan suku mereka di masa lalu yang masih terjaga hingga di jaman sekarang.

Lagi pula daerahnya masih merupakan hutan belantara atau setidak-tidaknya masih asli alami. Orang akan heran apabila menyaksikan kenyataannya. Desa-desa masyarakat Tengger ini sangat membahagiakan bangsa kita, khususnya masyarakat di Jawa Timur. Betapa tidak. Desa-desa di sana tidak berwujud hutan seperti bayangan kita, tetapi rumah-rumah penduduk sudah berbentuk gedung-gedung mirip villa-villa yang terdapat di Bandungan, Kopeng, dan lain-lainnya. Maka bila di-banding dengan desa-desa lain yang bukan Tengger, desa Tengger berada di tingkat atas.

Kearifan Lokal Suku Tengger

Ada banyak nilai-nilai positif yang bisa Anda pelajari dari masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger sangat taat kepada peraturan, baik dari agamanya maupun dari pemerintah. Mereka mempunyai sifat suka menolong orang lain yang tampak melatarbelakangi orang Tengger yang akan melaksanakan upacara Kesada terbuka, jujur, dan menghargai orang lain yang menjadi tamunya.

Kalau sudah ada tamu berada dalam rumahnya, mereka anggap sebagai saudara sendiri. Apa yang ada di dalam rumah harap dianggap sebagai milik sendiri. Soal makanan dan minuman jangan segan-segan menikmati sepuasnya kalau sudah ditawari. Kesediaan Anda untuk menikmati sajian hidangan yang diberikan tuan rumah merupakan bentuk penghargaan terhadap niat baik mereka dalam menjamu tamu. Sebaliknya, bila Anda tidak mau mencicipi sedikitpun makanan yang disajikan, hal itu bisa berkonotasi negatif bagi pemilik rumah.

Waktu terdapat tamu tidur di rumah warga suku Tengger, tuan rumah sudah menyediakan selimut dan tempat yang lebih baik daripada dirinya sendiri. Bagi orang yang tidak mempunyai selimut yang memadai dan pantas karena termasuk orang tidak kaya, tentu di bawah kolong disediakan api membara, agar si tamu tidak kedinginan karena desa Ngadisari berketinggian lebih kurang 2.000 meter dari permukaan laut.

Soal kejujuran perilaku sehari-hari mereka sudah dapat dibuktikan, bahwa meskipun tempat tumpukan jagung yang menjulang tinggi terletak di halaman atau di kebun-kebun saja, tidak sebuah pun yang berkurang atau hilang. Di sana tidak ada pencuri, kalaupun ada pasti pelakunya bukan orang penduduk asli Tengger. Sikap saling percaya antar warga sangat tinggi dan menjadi penguat tali persaudaraan yang mereka bangun sejak ratusan tahun lalu.

Masalah gotong-royong dan berswadaya membangun desanya, tidak perlu pihak Kepala Desa memberi komando kepada masyarakat. Karena kondisi bentang alamnya, adat-istiadatnya, serta laju pembangunannya, maka Pegunungan Tengger menjadi tempat wisata alam di Jawa Timur yang utama dan pastinya mendatangkan keuntungan bagi Pemerintah daerah dan penduduk setempat. Inilah obyek wisata di Jawa Timur yang kerap dijadikan lokasi pengambilan foto-foto indah pemandangan alam Indonesia.

Pemandangan Alam Gunung Bromo

Selain wisatawan dapat menyaksikan dengan dekat upacara hari Kesada, turis juga bisa menikmati keindahan Gunung Batok yang tampak melatarbelakangi orang Tengger yang akan melakukan upacara Kesada di bibir kawah Gunung Bromo. Apa yang dapat dinikmati di sana, memang hanya terbentang lautan pasir tanpa tumbuhan. Wisatawan dapat mendirikan tenda-tenda kecil untuk menginap ataupun sekedar menunggu datangnya waktu matahari terbit.

Menunggu datangnya matahari terbit dari puncak Gunung Bromo memang menyenangkan. Saya pernah mengalami hal itu. Kira-kira jam dua dini hari saya dan kawan-kawan lainnya tiba di Desa Ngadisari. Kami segera menyewa sebuah mobil khusus sejenis hardtop atau apalah namanya untuk mengantar kami ke kaki Gunung Bromo. Selain menyewa mobil, Anda sebenarnya bisa jalan kaki kesan. Melihat kondisi atas pegunungan jam dua dini hari rasanya malas untuk jalan kaki sejauh lima kilometer sehingga kami memutuskan menyewa mobil.

Kehadiran kami disambut sebuah papan yang terpasang di pinggir Segoro Wedi yang berbunyi Syumbrashtang kalanalilang kadirikana rinadirang duratmoko. Artinya: Hancur dan binasalah orang-orang jahat, sehingga dunia bersih seperti pada waktu sebelum mereka dibinasakan. Tulisan lain berbunyi: Omawighnam astu namassiddhan. Yang artinya: Tuhan Pencipta, Pelindung, dan Pengakhir alam, semoga tak ada halangan. Sujudku sesempurna-sempurnanya.

Dengan membaca tulisan sebelum melintasi lautan pasir menuju ke kawah Bromo itu, maka buat orang-orang yang berpikiran sehat tentu sudah merasa ngeri. Namun tulisan itu merupakan peringatan agar orang jangan berbuat jahat. Tulisan itu kurang lebih berarti anjuran bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo untuk menjaga keasrian lingkungan setempat. Tulisan ini sekaligus berisi larangan bagi setiap wisatawan yang datang kesana untuk merusak apapun kondisi alam disana.

ltulah salah satu pemberitahuan secara tidak langsung, bahwa masyarakat suku Tengger tidak suka berbuat jahat. Ketaatan kepada ketentuan yang tidak tertulis seperti membuang sesaji di kawah Bromo, suatu tanda bahwa mereka selalu taat. Itulah yang sampai sekarang membuat terkenal masyarakat Tengger, sehingga kaldera yang berwujud lautan pasir melulu, dan dua puncak Gunung Bromo dan Gunung Batok menjadi obyek pariwisata yang cukup menarik di kawasan Jawa Timur.

Rute Menuju Wisata Bromo

Apakah Anda tertarik berlibur ke Gunung Bromo? Kalau Jawa Tengah mempunyai dataran tinggi Dieng, maka Jawa Timur sebagai imbangannya mempunyai Lautan Pasir dan Kawah Bromo. Untuk mengunjungi Bromo juga seperti Dieng, kendaraan bermotor bisa sampai di bawah Gunung Bromo, sebab hanya berjarak 40 km dari kota Probolinggo. Tempat wisata alam Gunung Bromo dapat dicapai dari wilayah Tumpang di Malang maupun lewat Pasuruan.

Para backpacker pun tidak perlu takut tersesat karena transportasi umum menuju tempat wisata alam Gunung Bromo sudah tersedia. Jika Anda berangkat dari Kota Surabaya, Anda dapat naik bus umum dari Terminal Bungurasih menuju Terminal Probolinggo. Dari Terminal Probolinggo Anda dapat naik mobil elf menuju tempat terdekat dengan Desa Ngadisari. Pada dasarnya transportasi ke wisata alam Gunung Bromo tidak sulit karena terdapat beberapa pilihan pintu masuk wisata.

Buat para turis, dari luar atau dalam negeri, pada hari biasa kendaraan bermotor tidak boleh langsung sampai Bromo, dikhawatirkan asap mobil akan mengotori keaslian udara Tengger. Maka kendaraan harus berhenti di desa tertinggi, yaitu Desa Ngadisari. Bagi yang segan berjalan kaki bisa menyewa kuda maupun mobil khusus untuk wisatawan. Bagi yang berjalan kaki akan menempuh jarak sekitar lima km.

Apabila akan memerlukan bermalam, baik di Ngadisari maupun di Lautan Pasir telah ada rumah penginapan yang cukup megah. Bagi yang kehabisan uang, boleh dan bisa menginap di rumah penduduk. Saat ini telah didirikan puluhan losmen, motel, hotel dan beragam tempat penginapan lainnya di sekitar kawasan wisata Gunung Bromo. Banyak wisatawan yang memilih menginap di hotel murah di Probolinggo untuk beristirahat selama liburan ke Bromo. Tetapi bagi wisatawan yang tidak tahan dengan hawa dingin jangan mencoba menginap di sana.

Aktifitas Vulkanik Gunung Bromo

Anda dapat melihat lebih dekat mulut Gununung Bromo atau daerah kawah Bromo bila Anda berlibur pada waktu yang tepat. Apabila Anda berada di pinggir kawah itu tidak berapa berbahaya. Kita dapat turun di lereng bagian dalam kawah yang tingginya lebih kurang 50 meter. Lobangnya selalu mengeluarkan kepulan asap putih yang berbau belerang. Tidak usah takut lelah mendaki kembali ke bibir kawah lagi, sebab sudah ada tangga beton bertulang dan rantai sampai ke bibir puncak. Tangga ini dahulu dibangun oleh Belanda pada tahun 1928.

Gunung Bromo merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Pada waktu Bromo meletus tahun 1948 dan 1969, tanggap pendakian gunung untuk wisatawan pernah tertutup lahar. Kemudian tangga tersebut digali kembali oleh penduduk bersama-sama dengan anggota tentara dari Batalyon 527. Apabila kita hitung banyak tangga pendakian jarak 50 meter itu terdapat sekitar 240 buah. Oleh karena itu, siapkan fisik yang kuat bila Anda ingin berlibur ke tempat wisata alam di Provinsi Jawa Timur ini.

Barang-barang yang perlu siapkan sebelum berangkat liburan ke Gunung Bromo adalah pakaian hangat, obat-obatan pribadi, balsem, makanan ringan, air minum, dan harus memakai sepatu gunung. Hindari memakai sandal dan celana jeans karena keduanya akan merepotkan Anda selama traveling ke Gunung Bromo. Lebih baik Anda memakai celana kain yang terasa lebih hangat di malam hari dan mampu menyerap keringat di siang hari.

Gunung Bromo adalah obyek wisata alam yang kerap menunjukkan aktifitas vulkanik. Anda harus terus memantau perkembangan aktifitas vulkanik Gunung Bromo sebelum Anda berangkat liburan. Manfaatkan informasi yang berkembang di internet karena Gunung Bromo dapat ditutup sewaktu-waktu oleh otoritas setempat bila terjadi peningkatan aktifitas vulkanologi. Waktu terbaik berkunjung ke Gunung Bromo adalah minggu pertama bulan Agustus pada saat pelaksaan upacara Kesada.

Demikian ulasan tempat wisata alam Gunung Bromo di Probolinggo Provinsi Jawa Timur. Semoga tulisan ini mampu meningkatkan wawasan Anda mengenai kekayaan budaya Nusantara dan keindahan alam Indonesia. Selamat jalan-jalan keliling Nusantara!

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

6 Replies to “Kearifan Lokal Upacara Kesada Suku Tengger di Gunung Bromo”

  1. kelihatannya memang tahayul, namun itulah indonesia. saat nilai magis sebuah perilaku selalu dihubungkan dengan gejala-gejala alam yang mencengangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *