Legenda Pangeran Atasangin dan Syeh Jambukarang dari Gunung Tanjung Tegal

Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi
Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi

Apa kabar sobat blogger Indonesia? Anda bertemu lagi dengan artikel blog The Jombang Taste yang membahas beragam cerita rakyat Nusantara yang unik dan menarik untuk disimak. Kali ini saya akan mengulas cerita legenda Pangeran Atasangin yang menyebarkan ajaran agama Islam di daerah sekitar Kabupaten Tegal. Cara dakwah beliau terbilang unik dan terkesan tidak masuk akal. Namun inilah Indonesia yang memiliki beragam keanehan tingkah laku masyarakatnya pada jaman dahulu.

Tahukah Anda bahwa di daerah Priangan Kabupaten Tegal terdapat suatu wilayah yang disebut Gunung Lawet? Gunung Lawet mempunyai cerita yang mendasari sejarah bangsa Indonesia, khususnya bagi pemeluk agama Islam. Disana terjadi peristiwa Islamisasi yang unik dan mungkin tidak akan Anda jumpai di tempat lainnya di Indonesia. Adapun ceritanya sebagai berikut.

Asal-usul Pangeran Atasangin

Pada jaman dahulu di negeri Arab lahirlah dari kalangan muslim seorang yang bernama Sayid Dahnurapi Maulana Atas. Sayid Dahnurapi adalah putra dari Jamnga, yang memiliki nama lengkap Sayid Dahnurapi Maulana Atas bin Jamnga. Bangsa Arab pada masa dahulu biasanya berdagang sambil mengembangkan agama yang dipeluknya. Demikian pula tersiarlah ilmu-ilmu pengetahuan lain yang mereka miliki. Apa yang menjadi adat kebiasaan kaum muslim itu dikerjakan pula oleh Sayid Maulana pada masa dewasanya. Ia ikut berdagang sambil mengajarkan nilai-nilai agama Islam yang diyakini dan diketahuinya.

Pada suatu pelayaran Sayid Dahnurapi Maulana Atas bin Jamnga dan sahabatnya sampai di negeri Campa. Kiranya tempat itu merupakan tempat yang sesuai dengan tujuan pelayarannya. Hal ini terbukti bahwa ia berkenan berhenti dan bertempat tinggal di sana bersama sahabatnya itu. Selama tinggal di Campa, ia pun mengajarkankan pendidikan agama Islam kepada orang-orang yang dikenalnya. Sejak itu ia memulai menyebarkan agama yang diperoleh dari orang tua serta kaumnya dari negeri asal, yaitu agama Islam.

Rupanya Sayid Dahnurapi Maulana Atas bin Jamnga termasuk orang yang berbudi, penganut Muhammad yang taat dan setia, sehingga ia mudah diterima dan dihormati serta dipuji oleh masyarakat sekitarnya. Ajarannya mudah diterima, pengamalannya pun tidak sukar dikerjakan. Maka tidaklah mengherankan apabila dalam waktu singkat saja sudah dapat terkembang sayap Islam di negeri Campa tempat tinggal Sayid Dahnurapi Maulana Atas bin Jamnga yang baru itu.

Nama pendatang dari Arab itu menjadi terkenal di Campa. Masyarakat kenal dan kemudian menganggap Sayid Dahnurapi Maulana Atas bin Jamnga sebagai seorang pemimpin. Maulana adalah keturunan dari bangsawan, bukan dari orang kebanyakan. Demikian besar kepercayaan masyarakat Campa kepada Maulana. Karena itu di negeri Campa bukan Sayid Dahnurapi MauIana Atas bin Jamnga lagi nama yang terkenal, melainkan bernama Pangeran Atasangin. Itulah asal-usul nama Pangeran Atasangin yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya.

Dakwah Sepulang dari Mekah

Pangeran Atasangin sebagai pendatang yang berasal dari negeri seberang berangkat dengan naik kapal. Meskipun Campa jauh letaknya dari Mekah, tetapi paling sedikit sekali setahun Pangeran Atasangin pergi ke Mekah untuk menunaikan haji di negeri suci itu bersama umat Muhammad yang lain. Perjalanan suci ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh muslim yang telah mampu melaksanakannya. Kemampuan tersebut meliputi kesehatan badan yang prima, bekal keuangan yang cukup, dan ketersediaan sumber kehidupan bagi keluarga yang ditinggalkan di rumah.

Demikianlah Pangeran Atasangin melaksanakan ibadah haji ke Mekah dengan khidmat. Setelah beberapa bulan berjalan dan ia selesai melaksanakan ibadah berhaji, ia pun memutuskan kembali ke Campa. Pada suatu malam ketika Pangeran Atasangin pulang dari Mekah menuju ke Campa dari naik haji yang ke sekian kalinya, ia naik kapal dan ia berdiri pada bagian haluan. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya di malam itu. Meski demikian, ia tak merasa mengantuk sedikitpun.

Dipandangi lautan luas dan langit yang penuh dengan bintang-bintang itu berganti-ganti. Sungguh mengetuk hati dan membuka kekebalan rasa, masuklah apa yang dipandang itu memupuk aspirasi. Timbullah rasa kerendahan, kelemahan serta keterbatasannya. Dan berkatalah hatinya, “Ah   bagaimanapun tinggi daya cipta, rasa, karsa, dan karya manusia ini segalanya tetap masih di bawah Pencipta langit dan lautan yang indah bertuah ini.”

Pangeran Atasangin menarik napas panjang seperti orang yang bangkit sadar dari lamunan khayalnya. Makin mantap dan teguhlah iman Pangeran Atasangin seraya memuja keagungan Penciptanya, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allaahu Akbar.” Demikian orang pintar dan mau berpikir mendapatkan pencerahan dalam hidupnya. Ia tidak perlu berdebat dengan kaum cerdik-cendekia lainnya untuk mendapatkan kesadaran spiritual. Alam yang terbentang luas merupakan bukti kebesaran Sang Maha Pencipta dan manusia hanyalah makhluk kecil di hadapan-Nya.

Cahaya Pemberi Petunjuk Langkah

Selesai mendapatkan keheningan batin dan keteguhan iman, kembalilah ia memandang ke langit timur. Di sela cahaya bulan tampak seberkas cahaya putih bersih, melengkung turun menuju ke cakrawala. Sejenak perhatian Pangeran Atasangin kagum menatapi apa yang baru dilihatnya itu. Dalam hatinya memastikan, bahwa cahaya itu menunjukkan adanya suatu tempat dan di tempat itu tentu ada sesuatu yang mempunyai kelebihan dari kemampuan akal manusia biasa.

Itulah sebabnya, maka dalam hati akan menunda perjalanannya ke Campa dan berbelok menuju ke tempat kejadian apa gerangan yang diisyaratkan Allah Yang Mahakuasa di sana. Ia menuruti kata hati yang mengatakan harus mengikuti arah cahaya itu turun. Hingga ia sampai di sebuah pelabuhan kecil. Meskipun kecil namun pelabuhan itu cukup ramai, ternyata banyak saudagar-saudagar yang datang di situ. Dilihat dari pakaian, bahasa, lebih-lebih bentuk kapal yang beraneka cara pembuatannya, maka dapatlah dipastikan bahwa saudagar-saudagar itu berdatangan dari negeri asing.

Dari orang-orang pelabuhan Pangeran Atasangin mendapat keterangan, bahwa pelabuhan yang kecil itu bernama Gresik dan berada di Pulau Jawa. Rupanya ia telah sampai di Pelabuhan Gresik. Dari Gresik cahaya yang dicari itu sudah tidak tampak jelas seperti semula. Namun sudah terasa dekat, dan berada di sebelah barat. Meskipun belum sampai pada tujuan, tetapi karena Gresik cukup menarik perhatiannya, maka ia bermaksud untuk tinggal beberapa bulan sambil menyiarkan agamanya. Selama di Gresik, ia menyiapkan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah bisa terlaksana apa yang dimaksud tinggal di Gresik itu, maka Pangeran Atasangin menyiapkan bekal untuk meneruskan perjalanannya. Pada suatu malam ia mulai berangkat bersama sahabatnya berlayar menuju ke barat. Setelah beberapa hari mengarungi Laut Jawa, maka Pangeran Atasangin mendarat di Pelabuhan Tegal. Pelabuhan Tegal memang tidak seramai Pelabuhan Gresik. Namun hiruk-pikuk kehidupan nelayan di Tegal sudah cukup mengisyaratkan bahwa masyarakat setempat adalah pekerja keras dan tekun berusaha.

Cahaya terang pun masih juga tampak dalam pandangan Pangeran Atasangin, dari Tegal ke barat daya, dan sudah lebih dekat lagi. Karena arah cahaya itu bergerak ke daratan, maka kapalnya ditinggalkan di pelabuhan. Pangeran Atasangin bermaksud berjalan kaki saja menuju ke barat daya di mana cahaya menurun ke cakrawala. Ketika mereka sampai di daerah Priangan cahaya tampak sangat dekat dan menjadi jelas. Karena itu mereka menambah kecepatan langkahnya.

Pertemuan dengan Pertapa Sakti

Setelah perjalanan diteruskan beberapa waktu mereka sudah dapat tahu, bahwa cahaya itu berasal dari salah satu gunung. Di tempat ini mereka berhenti sambil memperhatikan gunung dan cahaya, serta tempat di kanan-kirinya. Mereka berhenti sambil menantikan datangnya waktu yang baik. Pangeran Atasangin dan sahabatnya tidak melanjutkan perjalanan karena saat itu malam hari dan kondisi alam berupa hutan asing yang belum pernah dilaluinya tidak memungkinkan untuk dilewati. Ia beristirahat sejenak di rumah-rumah warga setempat.

Setelah waktu yang dinantikan itu tiba, maka keduanya mulai mendaki gunung itu. Meskipun gunung itu tidak terlalu tinggi namun perjalanan tidak dapat cepat, cukup memakan waktu, karena jalannya sulit menembus semak-belukar. Hutan yang mereka lalui dipenuhi pepohonan kecil dan besar. Sesekali tampak binatang buas berkeliaran di sisi mereka. Sungguh upaya penjelajahan hutan yang tidak mudah. Hanya dengan keteguhan, kemauan dan kebulatan tekadlah akhirnya puncak gunung itu dapat mereka capai.

Sementara puncak gunung dapat dicapai, mendadak mereka tertegun, karena serentak cahaya hilang dari pandangan tampak olehnya seorang pertapa sedang menjalankan semedi di bawah pohon yang rindang lagi lebat. Tempat pertapa itu duduk berhawa sejuk, suasana pepohonan rindang, dan lingkungan yang tenang. Pertapa itu tampak berwibawa serta bertuah layaknya seorang sesepuh masyarakat yang sakti.

Dengan sikap sopan dan penuh kerendahan diri Pangeran Atasangin mencoba mendekati sang pertapa. Langkahnya perlahan-lahan seraya mengucapkan salam. Yang sedang semedi diam tiada jawab sepatah katapun. Kemudian Pangeran Atasangin mengucapkan salam lagi. Pertapa itu tetap diam. Diucapkan salam yang ketiga kalinya, namun tidak mendapat jawaban pula. Pangeran Atasangin terdiam. Ia bertanya-tanya dalam hati apa sebabnya pertapa itu tidak mau menjawab salamnya.

Pertapa Tidak Menjawab Salam

Sahabatnya segera mengalihkan masalah seraya berkata, “Tuan Sayid, saya kira pertapa itu tidak kenal bahasa kita. Ia tidak tahu apa arti salam Tuan. Mungkin ia beragama lain.”

Pangeran Atasangin diam tidak menjawab, sudah cukup tahu apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Maka kata sambungnya, “Pertapa, saya ini Pangeran Atasangin, berilah maaf kami ini apabila mengganggu semedi sang Pertapa.”

Demi mendengar kata-kata tadi, maka sang pertapa berhenti dari semedinya dan menanggapi, “Siapa?”

“Pangeran Atasangin, dari negeri Cempa ini sahabatku,” jawab sahabat Pangeran Atasangin.

“Ada maksud apa Anda naik gunung datang kemari?” tanya sang pertapa.

 “Izinkanlah kami bercerita,” Pangeran Atasangin mulai bercerita.

“Pada suatu malam ketika kami sedang berlayar di tengah samudera, tampak oleh kami berkas cahaya putih melengkung. Hal itu sangat menarik perhatian kami, dan kemudian kami berusaha untuk mencari tempat asal cahaya tadi. Setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan kami cari baru terdapat tempat ini,” demikian Pangeran Atasangin membuka ceritanya.

“Sewaktu kami capai puncak ini mendadak cahaya itu menghilang, lenyap dari pandangan kami. Tetapi, hilangnya cahaya serentak tampak kepada kami Sang Pertapa yang sedang menjalankan semedi di sini. Sang Pertapa, maafkanlah kami. Izinkanlah kami bertanya, siapa nama Sang Pertapa dan apa gerangan nama tempat ini?” lanjut Pangeran Atasangin.

Demikian Pangeran Atasangin bercerita panjang lebar. Sang Pertapa terdiam sejenak setelah mendengar cerita Pangeran Atasangin. Ia baru sadar bahwa dalam pertapaannya di tempat yang sepi dan jauh dari keramaian ini masih ada orang yang menemukannya. Ia berpikir pasti manusia yang menemuinya ini bukanlah orang biasa karena mampu melalui halangan dan rintangan yang tidak sedikit jumlahnya.

Tawaran Mengikat Persaudaraan

Pertapa lantas berkata, “Betul apa yang kamu katakan itu. Semula, saya ini raja Pajajaran. Nama saya Prabu Linggakarang. Namun saya bermaksud akan meninggalkan kebahagiaan duniawi. Saya ingin mencari ketenangan dan kejernihan batin. Saya senang disebut Ki Jambudipa, sesuai dengan nama gunung tempat saya bersemedi ini. Saya juga ingin bertanya, apakah kedatangan kalian hanya akan mengetahui adanya cahaya itu ataukah ada maksud yang lain ?”

“Kami memang ada maksud tertentu yang lain. Tetapi itu soal mudah dan biasa saja, nanti kita bicarakan. Sebelumnya kami ingin mengajak Ki Jambudipa mengikatkan tali persaudaraan. Bersediakah kiranya?” Pangeran Atasangin menawarkan diri menjadi saudara Ki Jambudipa.

Ki Jambudipa menjawab, “Soal persaudaraan itu soal gampang-gampang saja. Saya pun bersedia untuk itu. Tetapi begini Pangeran, saya ini orang bodoh tiada berilmu dan tidak lebih dari manusia biasa. Apakah tiada sesal kiranya nanti?”

Pangeran Atasangin tersenyum karena telah menangkap maksud yang tersembunyi dalam hati Ki Jambudipa.

Maka kemudian jawabnya, “Ya bolehlah Ki Jambudipa berkata demikian, tetapi saya minta jangan terlalu merendahkan diri demikian itu. Bukankah kelebihan itu sudah dapat saya ketahui sejak jauh waktu dan tempat seperti yang telah saya ceritakan tadi ? Maka bahkan sebaliknya, bahwa yang menyesal nanti adalah Ki Jambudipa sendiri, karena saya inilah yang seharusnya bodoh dan banyak mempunyai kesalahan. Bukankah begitu?”

Pangeran Atasangin diam dan memandang Sang Jambudipa sambil tersenyum. Yang ditanya juga diam tiada menjawab, namun dalam hatinya mengiakan, menurut perasaannya membenarkan.

Adu Kesaktian Pangeran dan Pertapa

Kemudian sambung Pangeran Atasangin, “Apakah Ki Jambudipa memiliki suatu permainan? Bila ada mari kita menampilkan permainan bersama di sini dan sekarang juga.”

Jawabnya singkat, “Ya, saya punya.”

Kemudian sambung Pangeran Atasangin, “Permainan ini nanti dengan aturan. Bila saya kalah tidak bisa menyamai permainan Ki Jambudipa saya akan mengabdi dan akan menjadi murid yang setia dan taat menurutkan segala perintah Sang Guru. Tetapi apabila terjadi sebaliknya, maka Ki Jambudipa harus mau menjadi murid saya.”

Dengan cepat dijawab Ki Jambudipa, “Sanggup.”

“Nah, sekarang baiklah kita mulai. Silakan untuk memulai permainan itu,” ujar Pangeran Atasangin.

“Lho, mengapa saya harus mendahului?” tukas Ki Jambudipa

Pangeran Atasangin menjawab, “Sebaiknya memang begitu, biar hilang adanya perasaan bimbang dan ragu.”

Ki Jambudipa tiada kata lain, dan segera memulai bersemedi serta mengheningkan cipta. Sebentar kemudian ia membuka telapak tangan kanannya. Dari telapak itu keluarlah telur-telur berurutan. Telur-telur itu kemudian disusun di atas telapak tangan kiri satu persatu. Setelah susunan tidak berjangkau oleh tangan kanannya lagi, maka telurnya hanya dilemparkan begitu saja. Anehnya telur-telur itu dapat tersusun rapi seperti pohon, kokoh tidak terlepas.

Sesudah telur itu habis tersusun dan sampai setinggi dua badan, maka selesailah permainan itu. la pun senyum penuh kebanggaan. Dua orang yang sedang menyaksikan permairian itu memperlihatkan rasa heran serta kagumnya karena pertapa itu benar-benar mempunyai kelebihan.

Pangeran Atasangin  berkata, “Betullah apa yang saya katakan, bahwa Ki Jambudipa bukan orang biasa. Sekarang lanjutkan permainan itu sampai selesai. Ambillah telur itu satu persatu dari bawah tetapi tidak tumbang berantakan.”

“Itu kan sudah selesai,” jawab Ki Jambudipa cepat.

“Permainan itu belum selesai, karena belum kembali seperti semula. Ayo, cepat kerjakan!” Pangeran Atasangin bersikukuh pada pendiriannya.

“Itu saya tidak bisa, karena permainan saya ini hanya sampai begini selesai. Kalau demikian maksudmu, coba lakukan sendiri apa yang kau perintahkan itu!” Ki Jambudipa menyahut dengan cepat.

“Baiklah, akan saya coba melakukan perintah Ki Jambudipa,” ujar Pangeran Atasangin.

Telur yang paling bawah dengan mudah diambil oleh Pangeran Atasangin lalu diletakkan di sebelah tumpukan telur-telur lainnya. Kemudian Pangeran Atasangin  mengambil telur di atasnya, di atasnya, dan seterusnya hingga tinggallah sebutir telur yang paling atas.

Semua itu dikerjakan dengan cermat namun cepat dan tidak menggerakkan telur-telur di atasnya sedikitpun, dan ketika tinggal telur yang paling atas berhentilah. Telur ini tergantung tanpa alat, menetap tanpa gerak.

Sang Pertapa Masuk Islam

Pangeran Atasangin memandang tajam kepada telur itu. Dengan isyarat menjentikkan jari tangannya maka telur itu hancur lebur menjadi debu dan mengepul seperti asap, akhirnya hilang seperti menguap lenyap dari pandangan.

Kejadian itu sangat mengagumkan Ki Jambudipa. la menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menunduk. Ki Jambudipa mengakui keunggulan Pangeran Atasangin, dan ia bersedia menjadi muridnya.

Pangeran Atasangin mulai memberi pelajaran agama Islam kepada Ki Jambudipa. Dimulai dengan mengucapkan kalimat syahadat sebagai pengakuan pertama memeluk agama Islam. Pada saat Ki Jambudipa mengucapkan syahadat, konon dibarengi dengan adanya keajaiban.

Puncak Gunung Lawet mengangguk-angguk diiringi tiupan angin sepoi-sepoi membawa bau harum seraya menggerakkan pohon-pohonan sekitarnya. Alam yang semula tenang dan lengang lalu timbul gerak dan gerik pertanda adanya kehidupan, seakan menyambut ikrar Ki Jambudipa yang baru saja diucapkan itu.

Setelah Pangeran Atasangin selesai menyampaikan ajaran Islam, maka pada suatu ketika ia ingin kembali lagi ke Campa. Pangeran Atasangin berkata, “Ki Jambudipa, cukuplah kiranya kauterima ilmu ini. Kewajibanmu ialah menyebarluaskan ajaran Islam ini kepada umat manusia di sekitarmu. Dan mulai saat ini namamu saya ganti dengan nama Ki Jambukarang.”

Karena sudah cukup dan tercapai tujuan Pangeran Atasangin, maka kembalilah ia ke Campa. Adapun Ki Jambukarang lalu melaksanakan tugasnya menyiarkan agama Islam di daerah Priangan dan sekitarnya. Setelah beberapa waktu lamanya maka akhirnya Ki Jambukarang berganti nama Syeh Jambukarang.

Sekarang kita bisa mengetahui bukti peninggalannya saja yang berwujud makam, yaitu makam Jambukarang. Makam Syeh Jambukarang berada di puncak Gunung Lawet dan di bawah pohon tanjung yang cukup rindang daunnya. Lama kelamaan Gunung Lawet pun berganti nama dengan sebutan Gunung Tanjung. Pada tiap hari Rabu penghabisan dalam bulan Sapar, konon banyak orang berdatangan untuk sadranan ke makam Syeh Jambukarang itu.

Demikian artikel sejarah Nusantara bersama The Jombang Taste yang mengupas asal-usul nama Gunung Tanjung dan cerita legenda Pangeran Atasangin dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan Anda mengenai kekayaan budaya Nusantara.

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

3 Replies to “Legenda Pangeran Atasangin dan Syeh Jambukarang dari Gunung Tanjung Tegal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *