Kemeriahan Pesta Lomban di Tempat Wisata Pantai Kartini Jepara

Keindahan tempat wisata pantai di Bali
Keindahan tempat wisata pantai di Bali

Apa kabar sobat blogger Indonesia? The Jombang Taste kembali menyajikan ulasan beragam obyek wisata yang indah dan unik di Nusantara. Terdapat sebuah kisah yang menarik dan cukup mengharukan dari obyek wisata Pantai Kartini di Jepara, Jawa Tengah. Mengharukan, karena ratusan ribu manusia ingin menyatukan hidup dengan lautan sesama ciptaan Tuhan yang indah itu. Sejak matahari terbit di timur sampai tenggelam di barat mereka tetap asyik memandangi atau bermain-main dengan air raksasa pada tempat wisata di Jepara itu.

Tepatnya pada hari ketujuh dari hari raya Idul Fitri, merupakan puncak acara Lebaran di pantai Kartini. Suatu hari yang penuh dengan kegembiraan, pesta pora yang menurut istilah tradisional disebut Pesta Lomban. Pesta Lomban adalah salah satu daya tarik wisata budaya dan obyek wisata alam pantai di Kota Jepara. Pesta Lomban merupakan ajang promosi budaya dan potensi ekonomi masyarakat Jepara selain tradisi membuat seni kerajinan ukir yang telah melegenda.

Pesta Rakyat di Pantai Kartini

Persiapan menuju pelaksanaan pesta rakyat di Pantai Kartini sangat semarak. Pagi-pagi sudah terasa dan terlihat adanya kesibukan-kesibukan yang luar biasa pada salah satu tempat wisata pantai di Jawa Tengah itu. Kota Jepara yang kita kenal sejak dahulu kala bersuasana sunyi itu mendadak menjadi hidup, hiruk-pikuk dan jaya seperti pada masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat. Segenap masyarakat Jepara menyambut pesta rakyat ini dengan riang-gembira.

Berbondong-bondong manusia segala umur dan jenis kelamin dari segala penjuru ke Pantai Kartini. Kendaraan-kendaraan yang belum pernah dilihat masyarakat di sana mulai berdatangan ke arah Pantai Kartini. Kendaraan-kendaraan angkutan umum bahkan truk-truk yang biasanya tidak pernah mengangkut orang menjadi sarat oleh penumpang. Serbuan wisatawan ke obyek wisata Pantai Kartini ini terjadi sekali dalam setahun pada saat bulan Syawal. Event budaya Pesta Lomban saat ini telah masuk menjadi salah satu kalender wisata Kota Jepara.

Sementara itu arus manusia yang turun dari gunung, dari pelosok pedesaan dan tepi hutan akhirnya bertemu dengan arus manusia dari sejumlah kota di Pulau Jawa, mulai dari Semarang, Solo, bahkan Surabaya dan kota-kota sekitar Jepara lainnya. Arak-arakan mobil itu berhenti pada daerah parkir yang berada kurang lebih satu kilometer dari panggung Pesta Lomban. Mulai dari daerah bebas kendaraan mereka berdesak-desakan berjalan kaki menuju ke Pantai Kartini untuk mengikuti Pesta Lomban.

Berbagai atraksi dan pertunjukan atau hiburan rakyat disajikan di Pantai Kartini. Mulia dari musik orkes, tong setan, kentrung, topeng monyet, dan lain-lain. Bukan hanya itu, permainan kanak-kanak dan aneka jenis makanan cukup melengkapi semarak dan keramaian pantai yang terletak di utara Pulau Jawa tersebut. Ragam budaya Jepara ditampilkan pada perhelatan pesta rakyat di Pantai Kartini.

Bagi pendatang dari kota-kota besar tentunya akan bertanya-tanya dalam hati apakah sebenarnya yang menarik ratusan ribu manusia untuk datang ke Pantai Kartini. Menurut ukuran yang terlihat pada pandangan mereka sangat sederhana dan tidak ada satu pun yang menarik atau baru bagi mereka. Memang demikian tampaknya. Pantai Kartini sebenarnya tidak berbeda dengan pantai-pantai lain di kawasan Pantura (pantai utara) Jawa. Namun keunikan budaya Jepara yang multietnis mampu memberi warna yang berbeda pada Pesta Lomban.

Asal Usul Tradisi Pesta Lomban

Hiruk-pikuk kunjungan wisatawan ke Pantai Kartini hanya merupakan rangkaian saja. Dan yang menjadi daya tarik mereka ialah pesta Lomban, khususnya pesta tradisi masyarakat nelayan setempat dalam mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan. Terdapat banyak versi cerita asal-usul tradisi Pesta Lomban di Pantai Kartini Jepara. Cerita rakyat ini berkembang dari mulut ke mulut oleh masyarakat Jepara. Adapun menurut cerita, adanya pesta itu dapat diceritakan sebagai berikut.

Konon, pesta tradisional yang dinamakan pesta Lomban ini mulai diselenggarakan oleh masyarakat nelayan di Pantai Jepara sejak tahun 1934. Penggagas acara ini adalah Haji Sidik dan beliau telah meninggal dunia sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Pada masa hidupnya, Haji Sidik menjadi lurah di desa Ujung Batu, salah satu desa nelayan di Pantai Jepara. Beliau adalah pimpinan masyarakat yang sangat peduli terhadap kondisi warganya. Beliau juga memiliki kepintaran dalam mengelola potensi alam desa agar bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat setempat.

Konon Haji Sidik adalah salah seorang sesepuh desa yang mempunyai kelebihan ilmu dan kesaktian yang mumpuni. Dalam beberapa hal ia seperti weruh sak durunge winarah atau beliau tahu apa yang bakal terjadi. Ceritanya, ia sering kali menerima wangsit atau ilham akan terjadinya sebuah peristiwa penting. Atas dasar wangsit itulah, maka Haji Sidik menganjurkan supaya para nelayan mengadakan sesaji laut. Sesaji laut dilakukan demi keberuntungan kaum nelayan itu sendiri dalam mencari nafkah di laut.

Larung Sesaji pada Lebaran Ketupat

Alkisah, sesaji itu harus dilaksanakan setiap hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri atau yang oleh masyarakat setempat dan sekitarnya disebut juga Lebaran Ketupat. Hakekat sesaji itu tujuan utamanya ialah untuk menyatakan syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan dan sekaligus memohon perlindungan kepada-Nya agar para nelayan bisa lestari kehidupannya yang menggantungkan nafkah dari hasil ikan di laut. Kearifan lokal yang terpancar pada perilaku masyarakat Jepara menunjukkan kedekatan mereka dengan Sang Pencipta kehidupan.

Meski demikian, terdapat percampuran kepercayaan agama dengan adat-istiadat setempat dalam hal pemberian sesaji. Persyaratan sesaji pun sudah diatur dan ditentukan berdasarkan nasehat sesepuh desa yang telah mendapatkan wangsit. Sesaji yang dilarung pada Pesta Lomban berupa sebuah kepala kerbau yang telah disucikan, rujak degan (kelapa muda), angkruk gimbal dan arang-arang kembang (sejenis makanan yang dibuat dari ketan goreng diramu dengan gula kelapa dan santan), candu, jajan pasar, pisang raja,dan tebu.

Jika melihat nama-nama benda yang menjadi bahan sesaji di atas, maka terlihat kenyataan bahwa animisme dan dinamisme masih kental dianut oleh masyarakat sekitar pantai. Kendatipun saat ini mereka telah memeluk sebuah agama, namun tradisi tersebut tetap berkembang. Islam Kejawen memberi warna yang berbeda pada setiap desa pantai di Pulau Jawa. Namun secara umum penganut aliran kepercayaan ini meyakini bahwa terdapat kekuatan besar yang mengendalikan kehidupan dan kepada sang pemilik kekuatan itulah mereka menyandarkan hidup.

Para Jin Penguasa Pantai Kartini

Hidangan sesaji pada Pesta Lomban di Pantai Kartini terdengar aneh-aneh. Beragam barang sesaji itu ditempatkan dalam suatu wadah yang khusus dan kemudian dilarung atau dihanyutkan ke laut dengan upacara tersendiri. Sesaji itu menurut ceritanya dipersembahkan untuk sekelompok penguasa lautan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, para penguasa lautan di Pantai Kartini adalah Mbah Suto Bondo, Sang Hyang Baruno, Bambang Adidirjono, dan Tunggul Wulung.

Masing-masing jin penguasa lautan itu memiliki tugas tersendiri. Mbah Suto Bondo alias Mbah Suto Jiwo adalah tokoh yang menjadi mitos masyarakat Jepara sebagai pimpinan para jin lautan. Sedangkan Sang Hyang Baruno adalah penjaga sumber lautan di sekitar Pantai Kartini.  Selanjutnya, Bambang Adidirjono dikenal sebagai pengendali ombak lautan yang ditakuti oleh para nelayan Pantai Kartini. Kemudian Tunggul Wulung adalah penjaga lautan yang bertugas sebagai penggembala ikan-ikan di lautan.

Masih menurut mitos yang berkembang di masyarakat nelayan Jepara, masing-masing penguasa lautan itu mendapatkan bagian sesaji sendiri-sendiri. Misalnya, Sang Hyang Baruno mendapatkan kepala kerbau, Mbah Suto mendapatkan rujak degan, Bambang Adidirjono mendapatkan ketan goreng, sedangkan Tunggul Wulung mendapatkan candu. Jenis barang sesaji tersebut diberikan sesuai dengan tingkat kedudukannya. Masyarakat nelayan Pantai Kartini berharap sesaji tersebut dapat menghindarkan mereka dari bencana-bencana yang tidak diinginkan.

Demikianlah pesta lomban di Pantai Kartini yang berlangsung sehari penuh dengan latar belakang kisahnya yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal. Namun kenyataannya, banyak masyarakat yang menanggapi penuh perhatian tradisi unik nelayan Jepara ini, lebih-lebih bagi masyarakat Jepara sendiri. Bagi wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata Pantai Kartini di Jepara, tradisi sesaji itu dalam pandangan mereka mungkin terlihat kuno. Namun justru kekunoannya itulah yang memberi ciri khas budaya nelayan Jepara.

Potensi Wisata Pesta Lomban

Terlepas dari kisah-kisah ajaib yang terkandung di dalamnya, maka Pesta Lomban kiranya akan membawa manfaat bila latar belakang penyelenggaraannya diarahkan kepada hal yang positif. Pemerintah Daerah kemudian berkenan memberikan pengarahan serta pembinaan kepada persoalan ini. Pemerintah Daerah memberikan bantuan dana untuk penyelenggaraan salah satu kalender wisata Kota Jepara ini. Dukungan Pemerintah ini memberikan semangat bagi masyarakat setempat dalam meramaikan potensi wisata di Pantai Kartini.

Pada malam sebelum pesta rakyat berlangsung di Pantai Kartini, para nelayan dapat bersuka ria dalam macam-macam kegiatan kesenian daerah. Keramaian tersebut berlanjut pada siang hari yang diteruskan dengan pertunjukan wayang kulit di tempat yang sudah ditentukan. Semua jenis tontonan disana bisa menarik perhatian para pengunjung. Bukan hanya kesenian Jawa, pengunjung pun dapat menyaksikan kesenian etnis Tionghoa di Pesta Lomban karena dalam sejarah perkembangan Kota Jepara terdapat pengaruh budaya Tiongkok.

Pelaksanaan Pesta Lomban kemudian disesuaikan dengan situasi masa sekarang. Pernah terjadi peristiwa para Pejabat Pemerintah Daerah setelah meresmikan kios-kios KUD Perikanan di sana kemudian diteruskan melakukan upacara sesaji, dengan maksud memberi pengarahan. Jalannya upacara cukup mengesankan dan berlangsung meriah. Pemerintah Daerah mampu mengolah potensi daerah ini menjadi salah satu kalender wisata yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun di Kabupaten Jepara.

Ritual Unik Larung Kepala Kerbau

Keunikan Pesta Lomban adalah tradisi melarung sesajen ke lautan. Mula-mula para pejabat daerah beserta rombongan menumpang perahu-perahu kecil bermotor, kemudian pindah ke kapal yang lebih besar yang sudah siap menunggu di tengah laut yang lebih dalam. Dengan kapal itulah seluruh rombongan diangkut ke tengah lautan dengan dikawal oleh sejumlah kapal lain. Para pengunjung Pantai Kartini tampak melambai-lambaikan tangan kepada kapal-kapal yang bergerak ke tengah lautan. Anak-anak pun tak kalah heboh saat menyaksikan kapal berbendera warna-warni itu bergerak ke tengah laut.

Kira-kira beberapa mil dari bibir pantai, maka kepala kerbau itu kemudian diturunkan ke laut. Karena tempatnya sudah dibuat sedemikian rupa, maka sesajen itu tidak langsung tenggelam. Sesajen yang terapung-apung itu kemudian dikitari oleh kapal para pejabat tadi sampai tiga kali, sesudah itu kemudian puluhan kapal itu melaju meninggalkan sesaji kepala kerbau dan meluncur menuju Pantai Kartini. Tradisi ini dilakukan oleh para pejabat secara turun-temurun dan menjadi perhelatan resmi Pemerintah Kabupaten Jepara.

Saat upacara sesaji itu dilakukan, maka di Pantai Kartini telah hadir ratusan ribu pengunjung dan mengarahkan pandangannya ke pelarung dan sesaji yang dilarung. Sementara itu berpuluh-puluh perahu kecil berkeliaran dan hilir-mudik dengan penumpangnya yang bermacam-macam pula maksudnya. Ada perahu yang dikendarai wisatawan dengan tujuan berlibur. Namun ada juga nelayan setempat yang berburu barang-barang sesajen yang menurut mereka memiliki nilai ekonomis tinggi.

Terdapat wisatawan yang berlomba mendayung sampan namun ada juga yang hanya pesiar saja dengan menyewa perahu. Pengunjung yang lain ada yang melihat lomba dayung, ada yang hanya melihat mereka yang pesiar sambil jalan-jalan kaki di pantai ataupun melihat-lihat berbagai atraksi dan permainan yang ada di darat. Kemeriahan Pesta Lomban di Pantai Kartini mampu memberikan hiburan sekaligus pendapatan bagi masyarakat setempat.

Demikian ulasan The Jombang Taste mengenai tradisi larung sesajen di Pantai Kartini, Kabupaten Jepara. Mari kita kunjungi tempat wisata pantai di Jepara ini dan sejumlah obyek wisata budaya di Kota Jepara lainnya!

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

10 Replies to “Kemeriahan Pesta Lomban di Tempat Wisata Pantai Kartini Jepara”

  1. saya pernah ke jepara. masyarakatnya sangat ramah dan bersahabat. yang paling keren adalah hasil ukiran jepara yang mehong-mehong harganya. hehehe…

  2. Antara mitos dan fakta terkadang susah dibedakan. Masyarakat sekitar Pantai Kartini terlanjur percaya pada mitos. Anehnya, hal itu malah dijadikan obyek wisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *