Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Lisan Parikan di Jombang

Parikan merupakan salah satu bentuk puisi rakyat atau sastra lisan Jawa yang sangat khas, terutama di wilayah Jawa Timur. Di Kabupaten Jombang, tradisi lisan ini hidup subur dan sering menjadi bagian integral dari pertunjukan ludruk, seni teater rakyat yang lahir dan berkembang di daerah tersebut. Parikan bukan sekadar hiburan, melainkan media komunikasi sosial, kritik, nasihat, serta cerminan kearifan lokal masyarakat Arek Jawa Timur.

Menurut definisi buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, dalam bahasa Jawa parikan berarti “unen-unen kang dumadi saka rong ukara”, yaitu bunyi-bunyian atau ungkapan yang terdiri dari dua bagian kalimat atau ukara. Dalam praktiknya, sebuah parikan biasanya memiliki dua bagian utama: purwaka (pengantar atau sampiran yang berfungsi menarik perhatian pendengar) dan isi (inti pesan atau tebusan). Struktur ini mirip dengan pantun Melayu, meski parikan lebih fleksibel dan sering dilagukan atau dikidungkan dengan iringan gamelan dalam pertunjukan ludruk.

Parikan bisa disajikan dalam bentuk dua gatra (dua baris) atau empat gatra (empat baris). Dalam ludruk, parikan sering muncul sebagai kidungan jula-juli, yaitu nyanyian pendek yang dinyanyikan oleh seniman sebelum atau di sela-sela adegan dagelan (lawakan) dan lakon (cerita utama). Suara parikan yang dinyanyikan dengan irama khas Jawa Timuran memberikan nuansa humor, sindiran halus, atau bahkan kritik sosial yang tajam tanpa terasa kasar.

Sejarah dan Asal-Usul Parikan di Jombang

Asal-usul parikan sebagai tradisi lisan Jawa tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ludruk di Jombang. Banyak sumber menyebut bahwa ludruk bermula dari kegiatan ngamen di sekitar tahun 1907–1915 di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Tokoh seperti Pak Santik, Pak Pono, dan Pak Amir berkeliling desa sambil menyanyikan syair-syair sederhana yang kemudian berkembang menjadi parikan. Awalnya disebut “lerok” atau “wong lorek” karena penampilan yang lucu dengan wajah dicoret-coret dan pakaian ala wanita yang dimainkan pria. Dari ngamen ini lahirlah ludruk sebagai seni pertunjukan rakyat.

Pada masa kolonial Belanda, ludruk dan parikan di dalamnya menjadi media kritik sosial. Seniman menggunakan parikan untuk menyindir ketidakadilan, korupsi, atau perilaku pejabat tanpa langsung menyebut nama, sehingga aman dari penangkapan. Parikan khas Jombang sering mencerminkan kehidupan masyarakat agraris, santri, dan arek Jawa Timur yang lugas namun cerdas dalam berbahasa.

Di Jombang, parikan tidak hanya hidup di panggung ludruk besar seperti Ludruk Wijaya atau kelompok-kelompok tradisional lainnya, tetapi juga dalam acara sehari-hari: arisan, pengajian, pesta pernikahan, hingga jagongan (obrolan santai) antarwarga. Bahkan hingga tahun 2025, ada inisiatif seperti “Jagongan Parikan” yang bertujuan melestarikan parikan khas Njombangan (sebutan untuk Jombang). Kegiatan ini mengumpulkan seniman dan masyarakat untuk saling bertukar parikan, menjaga agar tradisi lisan ini tidak punah di tengah gempuran hiburan modern.

Parikan juga terkait dengan kesenian lain di Jombang, seperti besutan, bentuk teater rakyat awal yang menjadi cikal bakal ludruk. Dalam besutan, parikan digunakan untuk menyampaikan pesan religius-nasionalis atau kritik terhadap penjajah. Seiring waktu, parikan berkembang menjadi bentuk sastra lisan yang mandiri, meski tetap paling populer dalam konteks ludruk.

Struktur dan Ciri-Ciri Parikan

Secara struktural, parikan memiliki ciri khas yang membedakannya dari puisi Jawa lain seperti tembang atau geguritan:

  1. Purwaka (Sampiran/Pengantar): Bagian pertama yang biasanya berupa gambaran alam, benda sehari-hari, atau situasi lucu. Tujuannya menarik perhatian dan menciptakan irama.
  2. Isi (Tebusan/Pesan): Bagian kedua yang menyampaikan nasihat, kritik, humor, atau pesan moral. Hubungan antara purwaka dan isi sering bersifat asosiatif, tidak selalu logis secara harfiah, tapi indah secara sastra.

Contoh parikan dua gatra (dua baris) yang diberikan dalam pertanyaan:

Tawon ngentup siseh gulu

Pejabat korup ojo ditiru

Terjemahan bebas:

Tawon menyengat di sisi leher

Pejabat korup jangan ditiru.

Di sini, “tawon ngentup siseh gulu” sebagai purwaka yang menggambarkan rasa sakit atau gangguan kecil, sementara isi langsung menyindir korupsi. Parikan ini sering muncul dalam ludruk untuk kritik sosial.

Contoh parikan empat gatra (empat baris):

Pamit lungo menyang Jrakah

Jebule dolan tekan Prambanan

Senajan awak lagi lungkrah

Tangi saur kudu tetep jalan

Terjemahan bebas:

Pamit pergi ke Jrakah

Ternyata dolan (bermain) sampai Prambanan

Meskipun badan sedang lungkrah (lemah/payah)

Bangun sahur harus tetap jalan.

Parikan ini bermain dengan nama tempat (Jrakah dan Prambanan) untuk menciptakan humor perjalanan yang “salah arah”, lalu menyampaikan pesan keteguhan meski dalam keadaan lemah, cocok untuk motivasi atau guyonan ringan.

Parikan Jombang sering menggunakan bahasa Jawa ngoko yang lugas, dialek Arek (Jawa Timuran) dengan logat khas, serta permainan kata (plesetan) yang cerdas. Ada jenis parikan lamba (panjang, pesan mendalam), kecrehan (pendek, menggoda/guyon), dan dangdutan (lebih berirama seperti dangdut Jawa). Dalam ludruk, parikan dikidungkan dengan iringan gendhing jula-juli yang riang, membuat penonton ikut tertawa atau merenung.

Fungsi Sosial dan Budaya Parikan di Masyarakat Jombang

Sebagai tradisi lisan, parikan berfungsi multifaset:

  • Media Kritik Sosial: Pada masa lalu, parikan menyindir penjajah atau pejabat. Kini, ia masih digunakan untuk mengkritik korupsi, kemalasan, atau isu lingkungan secara halus. Contoh: parikan tentang “pejabat korup” atau “buang sampah sembarangan” yang sering dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Jombang.
  • Pendidikan dan Nasihat (Pitutur): Banyak parikan mengandung nilai moral, seperti pentingnya belajar, hormat guru, atau menjaga persahabatan. Contoh klasik: “Kloso pandan taline limo / Arepo udan tetep makaryo” (Meski hujan, tetap bekerja).
  • Hiburan dan Guyonan: Dalam ludruk, parikan menjadi pembuka dagelan yang membuat penonton terbahak. Humornya ringan, sering memplesetkan nama tempat seperti Jombang, Mojokerto, atau makanan khas (tahu susu, sayur lodeh Jombangan).
  • Pelestarian Identitas Lokal: Parikan memperkuat identitas “Njombangan” sebagai kota santri yang kaya seni. Di Jombang, parikan sering muncul dalam acara keagamaan atau budaya, menggabungkan nilai Islam dengan kearifan Jawa.

Contoh parikan bertema Jombang yang populer:

Nang Jombang tuku tahu susu

Tahune dideleh wadah

Sinau ojo nganti nesu

Insya Allah mesti oleh faedah

Artinya: Ke Jombang beli tahu susu, tahunya ditaruh di wadah. Belajar jangan sampai marah, insya Allah pasti mendapat manfaat.

Parikan ini menggabungkan promosi lokal (tahu susu Jombang) dengan nasihat pendidikan, mencerminkan semangat masyarakat yang religius dan giat belajar.

Parikan dalam Pertunjukan Ludruk Jombang

Ludruk Jombang memiliki struktur khas: dibuka dengan tari remo (tarian penyambutan energik), dilanjutkan kidungan/parikan, dagelan (lawakan), dan lakon (cerita panjang yang bisa berlangsung semalaman). Parikan biasanya disampaikan oleh tokoh bedayan atau seniman utama dengan iringan gamelan sederhana.

Dalam lakon ludruk, parikan berfungsi sebagai jeda yang menyegarkan, sekaligus menyampaikan pesan moral cerita. Seniman ludruk Jombang seperti generasi lama (yang terinspirasi dari era lerok) hingga kelompok modern masih mempertahankan parikan asli, meski kadang dicampur dengan elemen kontemporer seperti plesetan kekinian.

Keunikan ludruk Jombang dibanding Surabaya adalah nuansa yang lebih “kampung” dan santri. Kritik sosialnya lebih halus, sering menyentuh isu pertanian, pendidikan, dan kehidupan keluarga. Namun, tantangan besar adalah regenerasi: banyak seniman muda lebih tertarik pada hiburan digital, sehingga parikan dan ludruk mulai langka di panggung.

Upaya Pelestarian dan Tantangan Modern

Pemerintah Kabupaten Jombang dan komunitas budaya telah berupaya melestarikan parikan melalui festival, workshop, dan dokumentasi. “Jagongan Parikan” menjadi contoh bagus di mana warga berkumpul untuk saling berparikan, mirip tradisi bersyair di masyarakat Melayu.

Di era digital, parikan mulai muncul di media sosial, kaos desain grafis bertema parikan, atau lagu campursari. Beberapa seniman mengadaptasi parikan ke dalam bossanova Jawa atau kolaborasi dengan musik modern. Namun, adaptasi ini kadang mengurangi kedalaman sastra aslinya.

Tantangan utama adalah hilangnya generasi penerus. Anak muda di Jombang lebih akrab dengan TikTok atau YouTube daripada kidungan jula-juli. Bahasa Jawa ngoko yang digunakan parikan juga mulai tergeser oleh bahasa Indonesia campur.

Untuk itu, pelestarian perlu dilakukan secara holistik: masukkan parikan ke kurikulum sekolah, dukung kelompok ludruk dengan dana desa, dan dokumentasikan ribuan parikan yang tersebar secara lisan agar tidak hilang.

Parikan sebagai Warisan yang Hidup

Tradisi lisan parikan di Jombang bukan hanya puisi rakyat biasa, melainkan jiwa dari kesenian ludruk dan kearifan masyarakat Jawa Timur. Dengan struktur sederhana dua atau empat gatra, purwaka yang memikat, dan isi yang sarat makna, parikan mampu menyampaikan kritik, humor, nasihat, serta identitas lokal dengan indah.

Dari akar ngamen di Diwek hingga panggung ludruk modern, parikan terus berkembang sambil mempertahankan esensinya sebagai media komunikasi rakyat. Contoh-contoh seperti “Tawon ngentup siseh gulu” atau parikan bertema Jombang menunjukkan betapa parikan fleksibel menangkap isu zaman.

Di tengah modernisasi, menjaga parikan berarti menjaga jati diri budaya Jombang. Jagongan parikan, pertunjukan ludruk, dan kreativitas generasi muda menjadi harapan agar tradisi lisan ini tetap hidup, bukan hanya sebagai kenangan, melainkan sebagai warisan yang terus bernyanyi di tengah masyarakat.

Tinggalkan komentar