Budaya Panaragan di Jombang: Jejak Akulturasi Jawa Tengahan di Tanah Arek yang Kaya Warisan

Kabupaten Jombang, yang dikenal sebagai “Kota Santri”, bukan hanya pusat pendidikan Islam di Jawa Timur, tetapi juga mozaik budaya yang kaya akibat posisi geografisnya sebagai persimpangan berbagai etnis Jawa. Di antara ragam budaya tersebut, budaya Panaragan menonjol sebagai pengaruh kuat dari wilayah barat Jawa Timur, khususnya Ponorogo dan sekitarnya. Budaya ini menyentuh Jombang sejak masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada abad ke-10–11 M, tepatnya saat pemerintahan Prabu Dharmawangsa Teguh, mertua Raja Airlangga.

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, serangan Wurawari (atau Worawari), yang dianggap antek Kerajaan Sriwijaya, menghancurkan pusat kerajaan di Watu Galuh (sekitar Maospati, Magetan), menyebabkan pelarian dan migrasi penduduk. Meski Airlangga kemudian berhasil mengalahkan Wurawari dan mendirikan Kahuripan, banyak pengungsi atau keturunan mereka menetap di wilayah Jombang melalui pernikahan campur, perdagangan, atau pencarian tanah baru. Jejaknya terlihat jelas dalam kesenian seperti Jaran Kepang (atau Jaranan Dor), Reog, Gemblak, serta elemen budaya lain yang mencerminkan gaya Jawa Tengahan atau Panaragan di tengah dominasi budaya Arek Jawa Timuran.

Latar Sejarah: Dari Invasi Wurawari hingga Akulturasi di Jombang

Prabu Dharmawangsa Teguh (memerintah sekitar 985–1006 M) adalah raja Medang yang berambisi menyatukan Nusantara di bawah pengaruh Jawa. Ia menikahkan putrinya dengan Airlangga, putra raja Bali, untuk memperkuat aliansi. Namun, pada 1006 atau 1016 M (berdasarkan Prasasti Pucangan), Kerajaan Wurawari dari Lwaram (sekarang Ngloram, Cepu, Blora) menyerang ibu kota Watu Galuh saat pesta pernikahan berlangsung. Serangan ini diduga didukung Sriwijaya sebagai balas dendam atas ekspansi Dharmawangsa. Raja Dharmawangsa tewas, istana dibakar, dan Airlangga lolos ke hutan pegunungan bersama Mpu Narotama.

Pelarian Airlangga membawa banyak pengikut ke wilayah timur, termasuk sekitar Brantas dan lereng Gunung Wilis–Lawu. Jombang, yang terletak di lembah Sungai Brantas dan berbatasan dengan Nganjuk serta Kediri (wilayah Panaragan klasik), menjadi salah satu tujuan migrasi. Meski Airlangga akhirnya mengalahkan Wurawari pada 1032 M dan mendirikan Kahuripan, banyak penduduk Medang yang selamat tidak kembali ke pusat lama. Mereka menetap melalui pernikahan dengan penduduk lokal, membuka lahan, atau bergabung dengan komunitas agraris. Wilayah barat Jombang seperti Kecamatan Perak, Diwek, Gudo, dan Megaluh menjadi pusat pengaruh Panaragan karena berdekatan dengan Kediri dan Nganjuk, yang termasuk eks-Karesidenan Kediri-Madiun dengan corak budaya Panaragan.

Panaragan sendiri merujuk pada etnis Jawa sub-rumpun yang mendiami wilayah antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis, terutama Ponorogo (dahulu Kerajaan Wengker). Budaya ini dikenal dengan kesenian reog, jaranan, dan elemen mistis yang kuat, berbeda dari gaya Arek (Jawa Timuran) yang lebih dinamis dan pesisir. Di Jombang, pengaruh ini bercampur dengan budaya Mataraman, Madura, dan Arek, menciptakan identitas hybrid yang unik.

Menjaga Api Besutan Urgensi Pengusulan HKI Kesenian Jombang sebagai Ekspresi Budaya Tradisi pada 2025
Menjaga Api Besutan Urgensi Pengusulan HKI Kesenian Jombang sebagai Ekspresi Budaya Tradisi pada 2025

 

Karakteristik Budaya Panaragan di Jombang

Budaya Panaragan di Jombang tidak hadir sebagai komunitas terpisah seperti Madura di Manduro, melainkan sebagai lapisan pengaruh dalam kesenian dan adat istiadat. Wilayah barat Jombang (berbatasan Kediri-Nganjuk) lebih kental corak Panaragan dibanding timur yang Arek. Bahasa sehari-hari tetap Jawa Timuran (“kowe”, “ora”, “piye ta”), tapi intonasi dan kosakata tertentu mirip Ponorogoan, terutama dalam lagu-lagu kesenian.

Kesenian menjadi jejak paling nyata:

  • Jaran Kepang (Jaranan Dor): Kesenian ini sangat populer di Jombang, terutama di wilayah barat seperti Bareng, Wonosalam, dan sekitar Kudu. Jaran Kepang Dor dipengaruhi budaya Panaragan sejak masa serangan Wurawari sekitar abad ke-11. Penari menunggang kuda anyaman bambu, diiringi gamelan, kendang, dan slompret. Ada unsur trans atau kerasukan roh, mirip jaranan Ponorogo. Grup seperti Suko Budoyo atau Mayangkoro sering pentas di hajatan, ruwatan, atau acara desa. Unsur Panaragan terlihat pada gerak tari yang lebih teatrikal dan kostum dengan topeng barong atau singa barong.
  • Reog: Meski reog Ponorogo paling ikonik, varian reog di Jombang (seperti reog kendang atau reog bulkiyo di Blitar terdekat) menunjukkan pengaruh. Reog di Jombang sering dikombinasikan dengan jaranan, dengan dadak merak dan penari warok-like. Ini mencerminkan semangat heroik Panaragan, di mana kesenian digunakan untuk tolak bala atau hiburan setelah panen.
  • Gemblak: Kesenian ini lebih jarang tapi eksis di wilayah perbatasan. Gemblak Dor (atau gemblak reyog) melibatkan penari pria berpakaian wanita (gemblak) yang menari lincah dengan iringan kendang dan rebana. Asalnya dari Nganjuk-Ponorogo, masuk ke Jombang melalui migrasi pengamen atau seniman keliling. Di Lamongan terdekat pun ada varian serupa, menunjukkan penyebaran luas pengaruh Panaragan.

Selain kesenian, elemen Panaragan terlihat dalam tradisi slametan dengan menu khas Jawa Tengahan (seperti selamatan besar dengan tumpeng dan ayam ingkung), serta penggunaan keris atau pusaka dalam upacara adat. Di desa-desa barat Jombang, ada kebiasaan ruwatan dengan elemen mistis mirip Ponorogo.

Akulturasi dengan Budaya Lokal Jombang

Jombang sebagai persimpangan membuat budaya Panaragan tidak murni, melainkan berakulturasi:

  • Dengan budaya Arek: Gerak tari lebih energik, bahasa lebih kasar dan ekspresif.
  • Dengan Mataraman: Pengaruh kesenian wayang dan gamelan halus.
  • Dengan Islam santri: Banyak kesenian Panaragan diadaptasi ke acara haul atau maulid, seperti hadrah dikombinasikan jaranan.

Contoh akulturasi adalah Besutan, kesenian asli Jombang yang menjadi cikal bakal ludruk. Besutan memiliki elemen tari dan drama mirip reog, tapi dengan cerita lokal Jombang.

Sendang Made di Kudu, Jombang, yang diyakini sebagai petilasan Airlangga saat pelarian, menjadi simbol sejarah. Ritual kungkum atau berendam di sendang ini menggabungkan elemen Hindu-Buddha (dari era Airlangga) dengan Islam, mencerminkan transisi budaya pasca-invasi Wurawari.

Tradisi Kungkum Sinden dan Jejak Airlangga di Situs Sendang Made Jombang
Tradisi Kungkum Sinden dan Jejak Airlangga di Situs Sendang Made Jombang

 

Kontribusi Sosial dan Ekonomi

Pengaruh Panaragan memperkaya Jombang sebagai kabupaten agraris. Kesenian seperti jaranan sering dipentaskan di pasar malam atau hajatan, mendukung ekonomi kreatif lokal. Grup kesenian menjadi sarana gotong royong dan pelestarian identitas.

Tantangan Pelestarian dan Upaya Modern

Globalisasi mengancam pelestarian kebudayaan daerah. Generasi muda lebih suka musik dangdut atau K-pop daripada jaranan. Banyak grup kesenian kesulitan regenerasi. Namun, pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan aktif mendaftarkan warisan budaya ke Kemendikbud. Tari Kelono Sewu dan besutan sudah diakui sebagai warisan tak benda. Festival budaya tahunan, pelatihan di sanggar, dan integrasi ke wisata (seperti Candi Arimbi atau Sendang Made) membantu pelestarian.

Kesimpulan

Budaya Panaragan di Jombang adalah bukti ketangguhan sejarah Jawa: dari trauma invasi Wurawari pada masa Dharmawangsa Teguh, migrasi pengungsi, hingga akulturasi yang melahirkan kesenian hybrid seperti Jaran Kepang Dor, Reog, dan Gemblak. Di tengah dominasi Arek dan santri, pengaruh Panaragan memberikan warna heroik, mistis, dan teatrikal yang memperkaya identitas Jombang. Melestarikannya berarti menjaga keberagaman Jawa Timur, di mana setiap daerah menyimpan lapisan sejarah yang saling terkait. Di era modern, budaya ini bukan relik masa lalu, melainkan aset hidup yang terus berkembang.

Tinggalkan komentar