Budaya Madura di Jombang: Jejak Sejarah, Kearifan Lokal, dan Ketahanan Identitas di Desa Manduro

Desa Manduro di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, merupakan budaya Madura yang unik di tengah dominasi masyarakat Jawa. Di sini, bahasa Madura bukan hanya warisan leluhur, melainkan bahasa sehari-hari yang masih hidup kuat. Masyarakatnya bertutur dalam dialek Madura asli, meski dikelilingi oleh penutur Jawa. Jejak eksodus etnis Madura ke wilayah ini dimulai sejak masa pendirian Kerajaan Majapahit, dan terus berlanjut melalui berbagai gelombang sejarah hingga era kemerdekaan. Tanah kering berkapur di Kabuh yang mirip dengan Pulau Madura menjadi daya tarik utama bagi para pendatang. Mereka yang dikenal sebagai pekerja keras dan ulet ini tidak hanya bertahan, tetapi juga memperkaya mozaik budaya Jombang melalui kesenian, adat istiadat, dan kontribusi ekonomi. Artikel ini mengupas secara mendalam sejarah migrasi, identitas budaya, kesenian, tradisi, serta tantangan pelestarian budaya Madura di Jombang, khususnya di Desa Manduro yang menjadi pusatnya.

Sejarah Migrasi: Dari Era Majapahit hingga Kemerdekaan

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, eksodus pertama etnis Madura ke Jombang terjadi pada masa pendirian Kerajaan Majapahit (1293 M). Menurut tradisi lisan masyarakat setempat dan catatan sejarah lokal, pengikut Aria Wiraraja, bangsawan Madura yang membantu Raden Wijaya, ikut serta dalam pembukaan Hutan Terik atau Tarik di wilayah Mojokerto-Jombang. Setelah hutan dibuka dan Majapahit berdiri megah, banyak pengikutnya yang memilih tinggal di perbukitan kapur Kabuh. Wilayah ini mirip dengan tanah gersang Madura: kering, berbatu kapur, dan jauh dari pusat kerajaan di lembah Brantas. Kondisi geografis ini membuat mereka merasa “di rumah sendiri”. Saat Kerajaan Majapahit runtuh akibat serangan Demak pada abad ke-15, sebagian keturunan mereka menyingkir ke pegunungan, mirip masyarakat Tengger yang mempertahankan kepercayaan Hindu di lereng Bromo. Puing-puing batu di Dusun Gesing Manduro hingga kini diyakini sebagai sisa peninggalan era itu, meski belum ada penelitian arkeologi mendalam.

Gelombang kedua datang pada masa Mataram Islam. Pengikut Trunojoyo, pemberontak Madura yang menaklukkan Mataram pada 1677, banyak yang melarikan diri setelah kekalahan tahun 1679. Mereka tidak berani pulang ke Madura karena malu kalah perang. Banyak yang memilih bersembunyi di perbukitan aman Kabuh, termasuk Manduro. Versi ini sangat populer di kalangan warga, seperti yang diceritakan oleh Sekretaris Desa Manduro (alm. Warito) berdasarkan informasi Mbah Lurah Sepuh. Trunojoyo bersama pasukannya menyisir pantai utara Jawa dari Madura hingga Kediri, dan setelah pusat pemerintahan Mataram direbut kembali, para pelarian Madura menyebar ke Malang, Kertosono, dan Jombang. Tanah kapur yang kering menjadi perlindungan alami.

Migrasi berikutnya terjadi pada masa kolonial Belanda. Orang Madura dikirim sebagai pasukan bantu dalam Perang Gianti (1746–1755), perang melawan Untung Surapati (1767), dan Perang Diponegoro (1825–1830). Banyak yang menetap setelah perang usai karena wilayah Kabuh mirip Madura. Emigrasi massal terjadi antara 1900–1930 akibat ekologi kering Madura dan dibukanya perkebunan di Jawa Timur. Hingga 1930, tercatat 936 jiwa Madura menetap di Jombang. Gelombang ini lebih bersifat ekonomi, mencari tanah dan pekerjaan lebih baik.

Masa Kemerdekaan menjadi babak baru yang paling terbuka. Setelah 1945, Indonesia aman dan peluang ekonomi terbuka lebar. Etnis Madura yang terkenal pekerja keras, ulet, dan tangguh berbondong-bondong masuk ke Jombang. Mereka tidak hanya menetap di pedalaman Kabuh, tetapi juga mengisi pusat-pusat perekonomian seperti pasar-pasar tradisional di kota Jombang, Kertosono, dan sekitarnya. Banyak yang menjadi pedagang, buruh tani, atau pengrajin. Karakter Madura yang pantang menyerah dan gotong royong membantu mereka berintegrasi sekaligus mempertahankan identitas. Hingga kini, komunitas Madura di Jombang tidak hanya di Manduro, tetapi juga tersebar di wilayah perdagangan, memperkaya dinamika ekonomi lokal.

Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang

 

Geografi dan Keunikan Pemukiman Manduro

Desa Manduro terletak di perbukitan kapur Kecamatan Kabuh, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dusun-dusun di Desa Manduro adalah Gesing, Guwo, Mato’an, dan Ndanden yang penuh mitos. Dusun Gesing diyakini sebagai pemukiman pertama, dinamai dari Sunan Geseng (wali yang “nyilem” di Sendang Weji). Di sana terdapat puing batu kuno dan sendang keramat yang sering mengalami fenomena mistis, seperti mengeluarkan “darah” saat G30S 1965 atau tertutup rajut saat Petrus. Dusun Guwo dinamai dari dinding batu terjal yang menyembunyikan gua terkunci, konon hanya bisa dibuka oleh kepala desa tertentu. Mato’an berasal dari “patokan” atau tugu yang konon muncul-hilang secara misterius. Nama “Manduro” sendiri diduga berubah dari “Madura” karena pengaruh linguistik lokal.

Kondisi tanah kering dan berkapur membuat masyarakat tetap bergantung pada pertanian subsisten: padi, tembakau, dan palawija. Mirip Madura, mereka mengembangkan sistem irigasi sederhana dan gotong royong untuk bertahan di lingkungan keras.

Identitas Budaya: Bahasa Madura yang Tak Tergoyahkan

Yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa Madura sebagai bahasa ibu sehari-hari. Di tengah masyarakat Jawa Timuran yang menggunakan dialek “kulonan” (seperti “kowe”, “ora”, “piye ta”), warga Manduro tetap berkomunikasi dalam Madura murni, bahkan anak-anak kecil. Ini bukti ketahanan identitas yang luar biasa. Mereka fasih berbahasa Jawa saat berinteraksi dengan luar desa, tetapi di rumah dan antarwarga, Madura tetap dominan. Penelitian menunjukkan adanya pergeseran bahasa pada generasi muda, namun komunitas tetap berusaha mempertahankannya melalui cerita rakyat dan kesenian.

Kesenian Sandur Manduro: Warisan yang Hidup

Kesenian paling ikonik adalah Sandur Manduro, teater rakyat yang menggabungkan tari, musik, teater, dan sastra. Kata “Sandur” berasal dari “beksan” (menari) dan “ngedur” (semalaman suntuk) hiburan setelah bekerja di ladang. Kesenian ini dibawa langsung dari Madura dan menggunakan bahasa Madura sepenuhnya. Unsur utamanya: panggung sederhana, iringan kendang Jawa Timuran, ketipung, gong bumbung, slompret; kostum dan topeng kayu yang melambangkan karakter pewayangan (Bapang/Dursasana, Klana, Sapen, Punakawan, Panji, Jaranan, Gunungsari).

Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang

 

Awalnya Sandur berfungsi sebagai ritual “Ngudari Ujar” untuk menyambut panen raya dan tolak bala. Kini bergeser menjadi hiburan, meski nilai sakral masih tersisa. Pada 1970-an, ada lima grup yang pentas hingga 26 kali sebulan. Hari ini hanya tersisa satu grup utama (Sandur Gaya Rukun) yang pentas 1–2 kali setahun. Tahun 2017, Sandur Manduro ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Jombang. Upaya pelestarian terus dilakukan melalui pelatihan generasi muda, meski tantangan modernisasi dan kurangnya pemain muda sangat nyata.

Adat Istiadat, Religiusitas, dan Kearifan Lokal

Masyarakat Manduro mayoritas Muslim dengan tiga aliran: NU, Muhammadiyah, dan Shidqiyah. Mereka menjunjung kearifan lokal seperti slametan tetap digelar meski beda aliran. Uniknya, mereka menggunakan kalender Aboge (perhitungan Jawa kuno) untuk menentukan hari-hari besar, bukan sekadar “abangan”. Saat gerhana, selain slametan, ada tabuh lesung, kebiasaan khas Madura yang tidak ditemui di masyarakat Jawa sekitar.

Tradisi Sedekah Bumi dan selamatan di Sendang Weji menjadi puncak kearifan lokal. Tumpeng dan hasil panen diletakkan sebagai ungkapan syukur. Sendang Weji dianggap sebagai “Yoni” desa, tempat keramat yang menyimpan banyak mitos.

Penari Sandur Manduro dari Kabuh Jombang
Penari Sandur Manduro dari Kabuh Jombang

Pernikahan, sunatan, dan kematian tetap mempertahankan nuansa Madura: gotong royong, pantang menyerah, dan penghormatan kepada leluhur. Makanan khas seperti sate Madura, lontong campur, atau olahan ikan asin kadang diadaptasi dengan bahan lokal Jombang.

Kontribusi Ekonomi dan Sosial terhadap Jombang

Selain di Manduro, etnis Madura di Jombang berkontribusi besar di sektor perdagangan. Pasar-pasar tradisional Jombang dipenuhi pedagang Madura yang ulet. Di sektor pertanian, mereka membuka lahan kering menjadi produktif. Nilai-nilai Madura seperti kejujuran, keteguhan, dan semangat kewirausahaan memperkaya Jombang sebagai kabupaten agraris dan perdagangan.

Tantangan dan Upaya Pelestarian

Globalisasi dan urbanisasi mengancam. Generasi muda lebih tertarik gadget daripada Sandur atau bahasa Madura. Bahasa Madura mulai bergeser di kalangan anak muda. Namun, pemerintah desa, budayawan, dan komunitas seperti Grup Sandur Gaya Rukun berusaha melestarikan melalui festival, pelatihan, dan dokumentasi. Penelitian akademik tentang identitas Manduro juga semakin banyak, membantu mengangkat nama desa ini.

Kesimpulan

Budaya Madura di Jombang, terutama di Desa Manduro, adalah bukti hidup ketahanan identitas di tengah arus besar kebudayaan Jawa. Dari eksodus Aria Wiraraja pasca pembukaan Hutan Tarik, pelarian Trunojoyo, hingga migrasi ekonomi masa kemerdekaan, mereka tidak sekadar bertahan, mereka membangun komunitas yang kaya akan warisan. Sandur Manduro, bahasa Madura, tradisi slametan dengan sentuhan Aboge, dan semangat gotong royong adalah warisan berharga yang harus dilestarikan. Di era modern, Manduro bukan hanya desa pedalaman berkapur, melainkan living museum budaya Madura di Jawa Timur. Melestarikannya berarti menjaga keberagaman Indonesia itu sendiri.

Tinggalkan komentar