Paribasan merupakan salah satu bentuk peribahasa atau pepatah dalam bahasa Jawa yang sarat dengan makna mendalam. Berbeda dengan peribahasa Indonesia yang sering bersifat perumpamaan, paribasan Jawa cenderung lugas, berstruktur tetap, dan langsung menyampaikan nasihat moral tanpa banyak kiasan panjang. Ungkapan ini berfungsi sebagai pitutur (petuah) yang mengajarkan cara menjalani hidup dengan baik, menjaga harmoni sosial, serta menghindari konflik yang merusak.
Salah satu paribasan klasik yang paling populer dan sering dikutip adalah “Rukun agawe makmur, crah agawe bubrah”. Dalam variasi umum juga disebut “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, paribasan ini artinya kurang lebih: “Kerukunan membawa kemakmuran (atau ketenangan sentosa), sementara pertengkaran (perpecahan) menyebabkan kehancuran (kerusakan).” Pepatah ini menekankan bahwa kebersamaan dan sikap rukun akan mendatangkan kesejahteraan, kedamaian, serta kemajuan, sedangkan perselisihan, cekcok, atau perpecahan hanya akan membawa kerugian, kehancuran, dan penderitaan bersama.
Meski sering dianggap sebagai bahasa kuno atau ketinggalan zaman di era digital saat ini, paribasan Jawa justru tetap relevan sepanjang masa. Ia berlaku universal dalam kehidupan keluarga, masyarakat, organisasi, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak orang Jawa menjadikannya sebagai semboyan hidup, bahan intropeksi diri, sarana menyindir secara halus, atau bahkan alat pendidikan moral bagi generasi muda. Dalam sastra Jawa klasik maupun modern, frekuensi kemunculan paribasan cukup tinggi, baik sebagai judul cerita, humor, sindiran, maupun inti pesan moral.
Asal-Usul dan Makna Mendalam Paribasan
Paribasan “Rukun agawe makmur, crah agawe bubrah” lahir dari filsafat hidup masyarakat Jawa yang sangat menghargai harmoni (kerukunan). Kata “rukun” berasal dari konsep hidup damai, saling menghargai, dan bekerja sama tanpa konflik berlebih. “Agawe” berarti “membuat” atau “menyebabkan”. “Makmur” atau dalam variasi “santosa” merujuk pada kemakmuran, ketenangan, kesejahteraan, dan kebahagiaan lahir-batin. Sementara “crah” berarti pertengkaran, perselisihan, atau perpecahan, dan “bubrah” berarti hancur, rusak, atau berantakan.
Makna utamanya adalah nasihat agar manusia selalu memilih jalan kerukunan karena itu mendatangkan kebaikan bersama, sedangkan konflik hanya akan menghancurkan segala yang telah dibangun. Pepatah ini mencerminkan pandangan dunia Jawa yang menekankan harmoni kosmis: hubungan baik antarmanusia, dengan alam, dan dengan Tuhan. Konflik dianggap mengganggu keseimbangan tersebut, sehingga harus dihindari.
Dalam konteks sejarah, paribasan ini sering dikaitkan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam keraton Jawa, seperti di Mataram Islam, di mana pemimpin diharapkan mampu menyatukan rakyat agar kerajaan sentosa. Ia juga muncul dalam serat-serat piwulang (buku ajaran moral) Jawa, seperti Serat Wedatama atau Serat Wulangreh, yang mengajarkan laku prihatin dan sikap bijaksana.
Paribasan sebagai Bagian Integral Kebudayaan Jawa
Dalam kebudayaan Jawa, paribasan menduduki peran penting. Ia bukan sekadar ungkapan hiasan, melainkan alat penyampaian ajaran moral (piwulang) melalui proses peneladanan. Orang tua atau sesepuh sering menyisipkan paribasan dalam percakapan sehari-hari, cerita wayang, pertunjukan ludruk, atau jagongan (obrolan santai). Hal ini membuat nilai-nilai luhur terserap secara alami tanpa terasa menggurui.
Paribasan berbeda dengan bentuk sastra lisan Jawa lain seperti parikan (puisi dua atau empat baris dalam ludruk) atau mantra (kata bertuah). Jika parikan lebih bernuansa hiburan dan sindiran ringan, serta mantra sarat kekuatan gaib, maka paribasan lebih langsung sebagai pedoman etika dan perilaku. Namun, ketiganya saling melengkapi dalam memperkaya khazanah tradisi lisan Jawa.
Dalam sastra Jawa, paribasan sering muncul sebagai kiasan inti cerita atau bentuk ironi. Pengarang Jawa memanfaatkannya untuk mengkritik perilaku sosial secara halus, sesuai dengan prinsip Jawa yang menghindari konfrontasi langsung (ora ndhemen konfrontasi). Frekuensi kemunculannya yang tinggi menunjukkan betapa paribasan telah menjadi bagian dari identitas budaya Jawa.
Aplikasi Paribasan dalam Kehidupan Sehari-hari
Pepatah “Rukun agawe makmur, crah agawe bubrah” memiliki aplikasi luas:
- Dalam Keluarga: Kerukunan suami-istri, orang tua-anak, atau antarsaudara menjadi kunci kebahagiaan rumah tangga. Pertengkaran kecil yang dibiarkan berlarut dapat “bubrah” — rumah tangga hancur, anak terlantar. Banyak keluarga Jawa menggunakan paribasan ini untuk mendamaikan konflik rumah tangga.
- Dalam Masyarakat Desa: Di pedesaan Jawa, gotong royong dan rukun tetangga adalah pondasi kehidupan. Musyawarah desa, arisan, atau kerja bakti desa akan makmur jika dilakukan dengan rukun. Sebaliknya, persaingan antarwarga atau fitnah dapat menghancurkan keharmonisan kampung.
- Dalam Organisasi dan Dunia Kerja: Tim yang rukun akan produktif dan mencapai target bersama. Konflik internal kantor atau perusahaan sering menyebabkan kegagalan proyek, turnover karyawan tinggi, hingga kebangkrutan.
- Dalam Kehidupan Berbangsa: Paribasan ini relevan dengan semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika”. Keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia akan menjadi kekuatan jika dikelola dengan rukun. Sebaliknya, provokasi perpecahan (crah) dapat membawa bubrah, konflik sosial, kerusuhan, hingga ancaman disintegrasi bangsa. Banyak pemimpin dan tokoh masyarakat mengutip paribasan ini dalam pidato untuk menekankan pentingnya persatuan.
Contoh lain paribasan Jawa yang senada dengan tema kerukunan:
- “Mangan ora mangan kumpul” — Meski tidak makan (miskin), asal berkumpul bersama, itu sudah bahagia. Menekankan kebersamaan di atas materi.
- “Wani ngalah luhur wekasane” — Berani mengalah demi kebaikan bersama adalah sikap luhur.
- “Ngono ya ngono, ning aja ngono” — Boleh saja begitu, tapi jangan berlebihan hingga merugikan orang lain.
- “Aja mbedakake marang sak sapadha-pada” — Jangan membeda-bedakan sesama manusia.
Paribasan-paribasan ini saling melengkapi, membentuk panduan lengkap tentang hidup harmonis.
Relevansi di Era Modern dan Tantangan Pelestarian
Di tengah kemajuan teknologi dan individualisme, paribasan Jawa sering dianggap kuno. Anak muda lebih akrab dengan bahasa gaul atau kutipan dari media sosial daripada pitutur leluhur. Bahasa Jawa krama atau ngoko yang digunakan dalam paribasan juga mulai tergeser oleh bahasa Indonesia campur.
Namun, justru di era ini paribasan semakin dibutuhkan. Media sosial penuh dengan ujaran kebencian dan polarisasi. Konflik politik, hoaks, hingga perpecahan keluarga akibat beda pilihan sering terjadi. Paribasan “Rukun agawe makmur, crah agawe bubrah” dapat menjadi pengingat bahwa perpecahan hanya mendatangkan kerugian bersama.
Banyak komunitas budaya, sekolah berbasis Jawa, atau acara seperti Festival Budaya Jawa masih menggunakan paribasan sebagai materi pengajaran. Di Jawa Timur, termasuk Jombang yang kaya akan seni ludruk dan parikan, paribasan sering disisipkan dalam pertunjukan untuk menyampaikan kritik sosial secara elegan.
Tantangan pelestarian meliputi:
- Hilangnya generasi penerus yang menguasai bahasa Jawa secara mendalam.
- Pengaruh globalisasi yang membuat nilai lokal terpinggirkan.
- Komersialisasi budaya yang kadang mengubah makna asli menjadi sekadar hiburan.
Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui:
- Integrasi paribasan ke dalam kurikulum pendidikan lokal.
- Dokumentasi dalam buku, video, atau aplikasi digital.
- Penggunaan dalam seni pertunjukan modern, seperti ludruk kontemporer atau musik campursari.
- Kampanye jagongan paribasan di tingkat desa atau komunitas.
Warisan yang Abadi
Paribasan “Rukun agawe makmur, crah agawe bubrah” bukan sekadar rangkaian kata kuno, melainkan kristalisasi kearifan lokal Jawa yang mengajarkan nilai universal: harmoni membawa kemakmuran, sementara perpecahan mendatangkan kehancuran. Meski singkat, ia mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga persatuan dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Dalam kehidupan yang semakin kompleks dan penuh konflik, paribasan Jawa mengingatkan kita untuk selalu memilih jalan rukun. Ia menjadi alat intropeksi, sindiran halus, semboyan hidup, serta warisan moral yang diturunkan melalui proses peneladanan. Frekuensi penggunaannya dalam sastra Jawa membuktikan betapa sentralnya peran paribasan dalam membentuk kepribadian dan budaya Jawa.
Melestarikan paribasan berarti melestarikan jiwa bangsa yang menghargai kebersamaan. Di era di mana perbedaan sering dijadikan alat pemecah belah, pepatah leluhur ini tetap relevan sebagai panduan menuju kehidupan yang makmur dan sentosa. Mari kita hidupkan kembali paribasan Jawa bukan hanya di buku atau panggung, tetapi dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Karena, seperti yang diajarkan leluhur: rukun agawe makmur, crah agawe bubrah.


