Kesenian Sandur Bojonegoro, Apa yang Beda dengan Sandur Manduro Jombang?

Asal Usul dan Perkembangan Kesenian Sandur Bojonegoro

Kesenian Sandur merupakan salah satu warisan budaya tradisional yang unik dari Jawa Timur, khususnya Kabupaten Bojonegoro. Sebagai bentuk teater rakyat yang memadukan unsur tari, musik, dialog, dan cerita rakyat, Sandur tidak hanya menghibur tetapi juga menyimpan nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, budi pekerti, dan harmoni dengan alam. Kesenian ini sering dipentaskan di malam hari, di tengah lapangan desa, dengan penonton yang duduk melingkar di sekitar panggung sederhana. Para pemain, yang terdiri dari pria dan wanita, mengenakan kostum tradisional dan menggunakan alat musik seperti kendang, saron, dan gamelan sederhana. Sandur biasanya menceritakan kisah-kisah legenda lokal, seperti tentang petani, hantu, atau perjuangan hidup masyarakat agraris. Di Bojonegoro, Sandur telah menjadi identitas budaya yang melekat erat dengan kehidupan masyarakat pinggir Sungai Bengawan Solo.

Asal usul kesenian Sandur dapat ditelusuri jauh ke masa lalu, bahkan sebelum era kolonial. Menurut catatan etnografis dari masa Hindia Belanda, Sandur diyakini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, di mana ia muncul sebagai bentuk permainan rakyat yang sederhana. Awalnya, Sandur berasal dari hiburan masyarakat agraris yang lelah setelah seharian bekerja di sawah. Para petani akan berkumpul di malam hari, bermain-main dengan cerita dan tarian spontan untuk melepaskan penat. Permainan ini mirip dengan dolanan anak-anak Jawa, di mana elemen-elemen seperti nyanyian, gerak tari, dan dialog improvisasi mulai terbentuk. Di Bojonegoro, Sandur diyakini masuk melalui migrasi budaya dari wilayah sekitar, seperti Nganjuk atau Tuban. Peneliti seperti Arif Hidajad menyebutkan bahwa Sandur mulai menyebar dari Desa Ngluyu di Nganjuk, kemudian merambah ke daerah Bengawan Solo, termasuk Bojonegoro. Kosmologi penciptaannya terkait dengan Tlatah Jipang, sebuah wilayah historis yang kental dengan pengaruh Islam, di mana Sandur lahir sebagai kesenian yang menggabungkan elemen animisme pra-Islam dengan nilai-nilai spiritual baru.

Secara spesifik di Bojonegoro, Sandur berakar di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro. Di sini, kesenian ini berkembang dari permainan anak-anak menjadi pertunjukan lengkap dengan skenario cerita. Nama “Sandur” sendiri masih menjadi misteri, tapi diyakini berasal dari kata Jawa yang berarti “bersandar” atau “beristirahat”, mencerminkan fungsi awalnya sebagai hiburan pasca-kerja. Cerita rakyat setempat menceritakan bahwa Sandur pertama kali dimainkan oleh para leluhur untuk merayakan panen atau mengusir roh jahat. Elemen-elemen seperti topeng, kostum warna-warni, dan musik gamelan sederhana ditambahkan secara bertahap, membuatnya lebih terstruktur. Sandur juga dipengaruhi oleh kesenian lain seperti wayang kulit dan ludruk, tapi tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai teater rakyat yang interaktif, di mana penonton bisa ikut berpartisipasi. Pada era kolonial, Sandur dicatat sebagai hiburan rakyat yang populer di kalangan petani, meskipun sering kali dianggap sebagai bentuk primitif oleh penjajah.

Perkembangan Sandur di Bojonegoro mengalami pasang surut seiring perubahan sosial dan politik. Awalnya, Sandur merupakan bagian integral dari ritual komunal seperti bersih desa dan sedekah bumi, di mana ia berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai moral dan spiritual. Namun, seiring waktu, fungsinya bertransformasi menjadi hiburan profan. Pada periode 1960-an, Sandur mencapai puncak kejayaannya, sering dipentaskan di berbagai desa dengan cerita yang mencerminkan kehidupan agraris Bojonegoro. Sayangnya, pasca-peristiwa G30S/PKI tahun 1965, Sandur distigmatisasi karena dianggap terkait dengan kelompok kiri, seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Banyak pelaku Sandur ditangkap atau dibungkam, menyebabkan kesenian ini hampir punah. Pementasan dilarang selama beberapa tahun, dan para seniman hidup dalam ketakutan.

Pemulihan dimulai pada awal 1970-an, ketika Sandur mulai dipentaskan kembali secara sembunyi-sembunyi. Para pegiat seperti Pram menyebutkan bahwa meskipun stigma PKI masih melekat, Sandur dirindukan oleh masyarakat sebagai simbol identitas lokal. Proses transformasi dari seni ritual animisme menjadi hiburan profan bukanlah hal mudah; banyak elemen mistis dihilangkan untuk menghindari tuduhan. Di era Reformasi, Sandur mulai diajarkan di sekolah-sekolah formal di Bojonegoro, seperti di Desa Ledok Kulon, untuk melestarikannya. Perkembangan modern mencakup adaptasi cerita, seperti menggabungkan tema kontemporer tentang lingkungan atau migrasi desa-kota. Sandur juga menyebar ke Tuban dan daerah sekitar, dengan pola pertunjukan yang mirip tapi disesuaikan dengan konteks lokal. Saat ini, festival seperti Bojonegoro Thengul International Folklore Festival sering menampilkan Sandur, membuatnya mendunia.

Di masyarakat modern, eksistensi Sandur menghadapi tantangan seperti urbanisasi dan dominasi hiburan digital. Namun, dinamika perkembangannya positif, dengan kelompok-kelompok pemuda yang merevitalisasi kesenian ini melalui media sosial dan kolaborasi dengan seni kontemporer. Sandur tidak hanya bertahan sebagai hiburan tapi juga sebagai alat pendidikan karakter, mengajarkan nilai-nilai seperti tolong-menolong dan penghargaan terhadap alam. Di Bojonegoro, pemerintah daerah mendukung pelestariannya melalui acara budaya tahunan.

Kesimpulannya, Sandur Bojonegoro adalah bukti ketangguhan budaya rakyat di tengah arus perubahan. Dari asal usulnya sebagai hiburan petani hingga perkembangannya yang penuh liku pasca-stigma politik, Sandur tetap relevan sebagai cermin identitas masyarakat agraris. Dengan upaya pelestarian yang berkelanjutan, kesenian ini diharapkan terus berkembang, menginspirasi generasi muda untuk menghargai warisan leluhur.

Keunikan Kesenian Sandur Bojonegoro: Perbandingan dengan Sandur Manduro Jombang

Kesenian Sandur merupakan salah satu bentuk teater rakyat tradisional yang kaya akan nilai budaya di Jawa Timur. Di Bojonegoro, Sandur telah menjadi identitas masyarakat agraris di pinggir Sungai Bengawan Solo, sementara di Jombang, khususnya Desa Manduro, Sandur Manduro merepresentasikan perpaduan budaya Jawa-Madura. Meskipun keduanya berakar dari tradisi rakyat yang sama, Sandur Bojonegoro memiliki keunikan yang membedakannya secara signifikan dari Sandur Manduro, terutama dalam elemen performansi, struktur cerita, dan fungsi ritual. Keunikan ini tidak hanya mencerminkan konteks geografis dan sosial masing-masing daerah, tetapi juga menunjukkan bagaimana kesenian lokal beradaptasi dengan lingkungan budayanya. Artikel ini akan mengeksplorasi asal usul singkat, keunikan Sandur Bojonegoro, serta perbandingannya dengan Sandur Manduro, berdasarkan catatan etnografis dan studi budaya.

Asal usul Sandur Bojonegoro dapat ditelusuri ke era pra-kolonial, kemungkinan sejak Kerajaan Majapahit, di mana ia muncul sebagai hiburan petani setelah bekerja di sawah. Di Bojonegoro, Sandur berkembang di desa-desa seperti Ledok Kulon, dengan pengaruh dari kesenian sekitar seperti wayang kulit dan ludruk. Awalnya, ia berfungsi sebagai ritual seperti bersih desa atau sedekah bumi, menggabungkan tari, musik gamelan sederhana (kendang, saron), dan cerita rakyat tentang kehidupan agraris, hantu, atau perjuangan sosial. Sebaliknya, Sandur Manduro di Jombang berasal dari masyarakat keturunan Madura yang menetap sejak era Majapahit, di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh. Ia berkembang pada 1940-an sebagai bentuk teater yang memadukan elemen Jawa dan Madura, sering dipentaskan pada acara sedekah desa, ruwatan, atau hajatan nazar. Pengaruh Madura kuat terlihat dari bahasa, musik, dan topeng yang digunakan, mencerminkan identitas minoritas Madura di tengah budaya Jawa dominan.

Keunikan utama Sandur Bojonegoro terletak pada elemen akrobatik dan pengujian adrenalin yang tidak ditemukan di Sandur Manduro. Dalam pertunjukan Sandur Bojonegoro, terdapat atraksi kalongking, di mana seorang pemain seolah kerasukan roh kalong (kelelawar) dan melakukan gerakan berbahaya seperti memanjat bambu setinggi 5-15 meter atau berakrobatik di atas tali. Elemen ini menambah nuansa mistis dan hiburan ekstrem, mencerminkan semangat petualangan masyarakat agraris Bojonegoro yang dekat dengan alam liar Sungai Bengawan Solo. Gerakan tari di Sandur Bojonegoro lebih spontan dan energik, fokus pada gerak tubuh tanpa banyak dialog antar tokoh, sehingga penekanannya pada aksi fisik dan interaksi langsung dengan penonton. Musiknya sederhana, dengan gamelan dasar, dan kostum warna-warni yang melambangkan karakter rakyat seperti petani atau hantu. Fungsi ritualnya juga lebih kuat, sering dikaitkan dengan upacara tolak bala atau panen, di mana elemen trance (kerasukan) menjadi bagian integral untuk mengusir roh jahat. Hal ini membuat Sandur Bojonegoro tidak hanya sebagai hiburan, tapi juga media spiritual yang menguji keberanian pemain dan penonton. Selain itu, pementasan di Bojonegoro sering berlangsung semalaman di lapangan terbuka, dengan penonton melingkar, menciptakan suasana komunal yang intens.

Sebaliknya, Sandur Manduro lebih menonjolkan aspek sastra dan dialog, membedakannya secara tajam dari Sandur Bojonegoro. Di Manduro, tidak ada atraksi kalongking atau akrobatik berisiko tinggi; pertunjukan fokus pada tari sederhana, dialog improvisasi menggunakan bahasa campur Madura-Jawa (dialek ngoko), dan elemen puisi seperti parikan atau sesindiran. Dialog antar tokoh menjadi pusat, dengan cerita diambil dari Mahabharata atau kisah Panji, diselingi tembang dan senggakan yang memicu tawa penonton. Keunikan ini mencerminkan identitas masyarakat Manduro sebagai keturunan Madura, dengan instrumen khas seperti saronen (terompet Madura) dan gong sebul, serta topeng (kedok) yang mewakili karakter seperti Duryudhana atau Sri Krishna, termasuk motif hewan seperti sapi dan burung untuk menyampaikan pesan ekologis dan kepatuhan. Panggungnya lebih intim, menggunakan alas pandan dengan jarak kurang dari 5 meter ke penonton, tanpa elemen trance atau adrenalin. Hal ini membuat Sandur Manduro lebih mirip teater sastra, menekankan nilai pluralisme dan harmoni sosial daripada aksi fisik.

Perkembangan kedua kesenian ini juga berbeda. Sandur Bojonegoro sempat distigmatisasi pasca-G30S/PKI 1965 karena dianggap terkait kelompok kiri, menyebabkan penurunan hingga hampir punah, tapi bangkit kembali pada 1970-an melalui festival seperti Bojonegoro Thengul International Folklore Festival. Saat ini, ia diadaptasi dengan tema kontemporer seperti lingkungan, dan diajarkan di sekolah untuk pelestarian. Sandur Manduro mengalami penurunan pada 2005-2015 karena kompetisi hiburan modern, tapi direvitalisasi sejak 2016, diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2017, dan kini lebih berorientasi pasar dengan dokumentasi digital. Tantangan bersama adalah urbanisasi dan minat generasi muda yang rendah, tapi upaya pemerintah daerah membantu kelestariannya.

Kesimpulannya, keunikan Sandur Bojonegoro terletak pada elemen akrobatik dan ritual adrenalin seperti kalongking, yang membedakannya dari Sandur Manduro yang lebih sastra dan dialogis. Perbedaan ini tidak hanya memperkaya keragaman budaya Jawa Timur, tapi juga menunjukkan adaptasi lokal terhadap sejarah dan identitas masyarakat. Dengan pelestarian berkelanjutan, keduanya dapat terus menjadi cermin kearifan rakyat di era modern.

Tinggalkan komentar