Wayang Masuk Sekolah di Aula Terbuka Disdikbud Jombang: Menyemaikan Cinta Budaya Jawa pada Generasi Muda Melalui Seni yang Hidup

Wayang Masuk Sekolah Tanggal 1 April 2026 di Jombang Menyemaikan Cinta Budaya Jawa pada Generasi Muda Melalui Seni yang Hidup

Pada Kamis, 1 April 2026, Halaman Aula Terbuka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang bertransformasi menjadi panggung budaya yang penuh semarak. Udara pagi yang masih sejuk disambut oleh ratusan anak sekolah dasar dan guru yang antusias. Sekitar 300 peserta dari lima sekolah, SDK Wijana Jombang, SDK Petra Jombang, SD Negeri Sengon Jombang, SD Negeri Jombang 2, serta SD Negeri Bendet, berkumpul dalam acara “Wayang Masuk Sekolah”. Program ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Jombang dalam melestarikan warisan budaya Jawa, khususnya wayang kulit, di tengah gempuran digitalisasi dan modernisasi yang semakin masif.

Baca Selengkapnya

Tradisi Lebaran Masa Lalu di Banyuwangi: Arak-Arakan Wong Osing yang Menjadi Ajang Pertemuan Jodoh

Banyuwangi, kota di ujung timur Pulau Jawa, dikenal sebagai Bumi Blambangan yang kaya akan warisan budaya suku Osing atau Wong Osing. Penduduk asli daerah ini memiliki identitas yang kuat, berbeda dari masyarakat Jawa umumnya meskipun berbagi akar sejarah. Di tengah kehidupan modern yang penuh hiruk-pikuk, tradisi Lebaran masa lalu Wong Osing menyimpan cerita yang unik dan penuh makna. Salah satu yang paling menonjol adalah arak-arakan atau pawai kendaraan pada sore hari Idul Fitri. Tradisi ini bukan sekadar pesta kemenangan setelah puasa, melainkan juga menjadi ruang sosial yang cerdas untuk mempertemukan pemuda dan gadis di tengah batas-batas ketat pergaulan sehari-hari.

Baca Selengkapnya

Idul Fitri di Jawa Timur: Panggung Harmoni Religi dan Tradisi yang Memukau

buatlah inspirasi kartu ucapan idul fitri yang unik dan menarik

Idul Fitri di Jawa Timur bukan sekadar hari kemenangan setelah sebulan penuh puasa. Ia adalah panggung besar di mana religi dan tradisi berpadu dalam harmoni yang indah. Dari langit Mataraman yang dihiasi balon udara raksasa, hangatnya kebersamaan pria di Gumeno dalam Tradisi Sanggring, hingga derap langkah kuda Puter Kayun di ujung timur, setiap daerah memiliki cara unik untuk mengekspresikan rasa syukur dan kegembiraan. Keberagaman ini bukan hanya warisan leluhur, melainkan bukti hidupnya nilai-nilai Islam yang menyatu dengan budaya lokal Jawa Timur. Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) senantiasa berkomitmen mendukung pelestarian aset budaya ini sebagai bagian dari kekayaan identitas bangsa, karena dalam setiap tradisi terdapat nilai seni dan sejarah yang harus dijaga bersama.

Baca Selengkapnya

Budaya Panaragan di Jombang: Jejak Akulturasi Jawa Tengahan di Tanah Arek yang Kaya Warisan

Kesenian Tradisional Jaranan Jur Ngasinan dari Kabupaten Blitar Jawa Timur

Kabupaten Jombang, yang dikenal sebagai “Kota Santri”, bukan hanya pusat pendidikan Islam di Jawa Timur, tetapi juga mozaik budaya yang kaya akibat posisi geografisnya sebagai persimpangan berbagai etnis Jawa. Di antara ragam budaya tersebut, budaya Panaragan menonjol sebagai pengaruh kuat dari wilayah barat Jawa Timur, khususnya Ponorogo dan sekitarnya. Budaya ini menyentuh Jombang sejak masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada abad ke-10–11 M, tepatnya saat pemerintahan Prabu Dharmawangsa Teguh, mertua Raja Airlangga.

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, serangan Wurawari (atau Worawari), yang dianggap antek Kerajaan Sriwijaya, menghancurkan pusat kerajaan di Watu Galuh (sekitar Maospati, Magetan), menyebabkan pelarian dan migrasi penduduk. Meski Airlangga kemudian berhasil mengalahkan Wurawari dan mendirikan Kahuripan, banyak pengungsi atau keturunan mereka menetap di wilayah Jombang melalui pernikahan campur, perdagangan, atau pencarian tanah baru. Jejaknya terlihat jelas dalam kesenian seperti Jaran Kepang (atau Jaranan Dor), Reog, Gemblak, serta elemen budaya lain yang mencerminkan gaya Jawa Tengahan atau Panaragan di tengah dominasi budaya Arek Jawa Timuran.

Baca Selengkapnya

Budaya Madura di Jombang: Jejak Sejarah, Kearifan Lokal, dan Ketahanan Identitas di Desa Manduro

Menabuh Gending Masa Depan Visi 2025, Sandur Manduro, dan Ikhtiar Pelindungan HKI sebagai Ekspresi Budaya Tradisi

Desa Manduro di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, merupakan budaya Madura yang unik di tengah dominasi masyarakat Jawa. Di sini, bahasa Madura bukan hanya warisan leluhur, melainkan bahasa sehari-hari yang masih hidup kuat. Masyarakatnya bertutur dalam dialek Madura asli, meski dikelilingi oleh penutur Jawa. Jejak eksodus etnis Madura ke wilayah ini dimulai sejak masa pendirian Kerajaan Majapahit, dan terus berlanjut melalui berbagai gelombang sejarah hingga era kemerdekaan. Tanah kering berkapur di Kabuh yang mirip dengan Pulau Madura menjadi daya tarik utama bagi para pendatang. Mereka yang dikenal sebagai pekerja keras dan ulet ini tidak hanya bertahan, tetapi juga memperkaya mozaik budaya Jombang melalui kesenian, adat istiadat, dan kontribusi ekonomi. Artikel ini mengupas secara mendalam sejarah migrasi, identitas budaya, kesenian, tradisi, serta tantangan pelestarian budaya Madura di Jombang, khususnya di Desa Manduro yang menjadi pusatnya.

Baca Selengkapnya

Takjil Indonesia: Bukan Sekadar Manis Setelah Puasa, Melainkan Cerita Panjang Akulturasi, Perdagangan, Tradisi Adat, dan Identitas Agraris

Di Indonesia, bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus dari fajar hingga maghrib. Saat azan maghrib berkumandang, meja-meja buka puasa dipenuhi takjil yang beraneka ragam, dari es cendol hijau segar, kolak pisang hangat, hingga gorengan renyah seperti bakwan dan pisang goreng. Takjil bukan sekadar makanan pembuka puasa yang manis atau gurih untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Di balik setiap suapan, tersimpan cerita panjang tentang perdagangan lintas budaya, akulturasi agama dan adat, tradisi ritual leluhur, serta identitas agraris yang kuat dari Nusantara.

Baca Selengkapnya

Masjid dan Bedug: Merekam Proses Panjang Akulturasi Ajaran Islam dan Budaya Lokal di Nusantara

Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang

Di Nusantara, masjid bukan sekadar tempat sujud, dan bedug bukan sekadar alat bunyi. Keduanya adalah saksi hidup proses akulturasi panjang yang telah berlangsung sejak abad ke-13 hingga kini. Islam yang datang melalui dakwah Wali Songo tidak menghapus budaya lokal, melainkan menyatu dengannya. Hasilnya adalah tradisi khas Indonesia yang kini diakui sebagai warisan budaya tak benda. Masjid dan bedug menjadi bukti nyata bagaimana nilai agama dan kearifan lokal saling menyesuaikan tanpa saling menghapus. Proses inilah yang membuat Islam di Indonesia begitu indah dan berbeda dari belahan dunia lain.

Baca Selengkapnya

Prosesi Upacara Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas: Warisan Budaya Leluhur yang Penuh Makna

Di tengah perbukitan hijau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terletak Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Desa ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan pusat spiritual dan budaya bagi Komunitas Adat Bonokeling. Sebagai penganut Kejawen yang diwariskan dari sosok leluhur bernama Eyang Bonokeling, komunitas ini hidup dalam wilayah adat yang sakral, dijaga secara turun-temurun dengan penuh khidmat. Prosesi upacara adat Bonokeling, khususnya Perlon Unggahan atau Unggah-Unggahan, menjadi puncak ritual tahunan yang sarat makna. Ritual ini bukan hanya seremoni, melainkan perjalanan batin yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengajarkan nilai kesederhanaan, syukur, dan harmoni dengan alam serta sesama.

Mengenal Bonokeling, Komunitas Adat di Banyumas Keturunan Kerajaan Pajajaran

Baca Selengkapnya

Naskah Pelestarian Warisan Budaya Takbenda oleh BPK Wilayah XI: Fondasi Ilmiah untuk Keberlanjutan Identitas Jawa Timur

Adat Istiadat Pendem Kepala Sapi di Kabupaten Lumajang

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI, yang berbasis di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, memainkan peran sentral sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kebudayaan dalam menjaga warisan budaya takbenda (WBTb) di Provinsi Jawa Timur. Warisan budaya takbenda mencakup segala bentuk pengetahuan, praktik, ekspresi, dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, seperti seni pertunjukan, tradisi lisan, ritus, dan bahasa daerah. Berbeda dengan cagar budaya benda yang berwujud fisik, WBTb rentan punah jika tidak didokumentasikan, dipelajari, dan diwariskan secara aktif.

Baca Selengkapnya

Aktualisasi Warisan Budaya oleh BPK Wilayah XI: Menghidupkan Kembali Kejayaan Leluhur di Tengah Dinamika Zaman

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI yang bermarkas di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, terus menjadi motor penggerak pemajuan kebudayaan di Provinsi Jawa Timur. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kebudayaan, BPK Wilayah XI tidak hanya bertugas melindungi cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan (OPK), tetapi juga mengaktualisasikan warisan leluhur agar tetap hidup, relevan, dan memberi manfaat bagi masyarakat kontemporer.

Baca Selengkapnya