Sunan Kalijaga, yang juga dikenal sebagai Raden Mas Said atau Adipati Kaliwungu, adalah salah satu dari sembilan Wali Songo (saints of Islam) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Indonesia. Ia lahir pada pertengahan abad ke-15 dan diperkirakan wafat pada tahun 1515. Sunan Kalijaga merupakan anak dari adipati Tuban, yaitu Tumenggung Wilwatikta dan Dewi Nawangwulan.

Pada awal kehidupannya, Raden Mas Said dikenal sebagai pemuda yang keras, pemberontak, dan senang berkelahi. Namun melalui pengaruh seorang ulama, Syekh Maulana Malik Ibrahim, Raden Mas Said kemudian menjadi pelajar yang rajin dan menghormati gurunya. Popularitas Sunan Kalijaga sebagai penyebar Islam di Jawa meningkat ketika ia berguru kepada Sunan Gresik, Sunan Ampel, dan beberapa wali songo lainnya.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menerapkan metode dakwah yang lembut dan ramah, menggunakan pendekatan kebudayaan Jawa yang telah ada sebelumnya. Dengan memahami budaya setempat, Sunan Kalijaga mampu menggabungkan ajaran Islam dengan kearifan lokal sehingga dapat diterima oleh masyarakat Jawa dengan lebih mudah. Beberapa inovasi Sunan Kalijaga di bidang seni dan budaya, seperti penciptaan wayang kulit, gamelan, dan tembang (lagu Jawa), menjadi sarana dakwah yang efektif untuk menyampaikan ajaran Islam.

Sunan Kalijaga juga meninggalkan sebuah pesan toleransi dan kebersamaan antara umat beragama, dilukiskan melalui legenda yang menceritakan bagaimana ia membangun sebuah masjid bersama para pekerja dari berbagai agama. Upaya Sunan Kalijaga dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran menjadi teladan penting bagi generasi-generasi berikutnya di Indonesia.

Sunan Kalijaga wafat pada tahun 1515 dan dimakamkan di kompleks makam Wali Songo di Jawa Tengah. Hingga kini, makam Sunan Kalijaga menjadi tempat ziarah yang banyak dikunjungi oleh umat Islam dan menjadi bukti besarnya jasa Sunan Kalijaga dalam perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.