Analisis Perbandingan Prasasti-Prasasti Mpu Sindok: Strategi Rekonstruksi Kerajaan Medang di Jawa Timur (929–947 M)

Arca koleksi Galeri Mpu Sindok Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang

Mpu Sindok, raja pertama periode Jawa Timur Kerajaan Medang (Mataram Kuno), meninggalkan warisan epigrafi yang luar biasa: setidaknya 20 prasasti yang tersebar dari tahun 929 hingga 944 Masehi. Prasasti-prasasti ini menjadi sumber utama untuk memahami perpindahan ibu kota dari Bhumi Mataram (Jawa Tengah) ke Watugaluh (Jombang) serta pendirian Wangsa Isyana. Berbeda dengan periode Jawa Tengah yang prasastinya lebih sporadis, dokumen-dokumen Sindok hampir seluruhnya berfokus pada penetapan sima (tanah perdikan bebas pajak), anugerah loyalitas, infrastruktur, dan legitimasi religius. Analisis perbandingan ini mengungkap evolusi kebijakan: dari fondasi religius-legitimasi di awal pemerintahan, menuju pembangunan ekonomi-militer di fase konsolidasi.

Baca Selengkapnya

Prasasti Anjuk Ladang: Analisis Mendalam atas Bukti Sejarah Perjuangan Mpu Sindok dan Lahirnya Wangsa Isyana di Jawa Timur

Arca koleksi Galeri Mpu Sindok Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang (1)

Prasasti Anjuk Ladang (juga dikenal sebagai Prasasti Candi Lor) merupakan salah satu dokumen sejarah paling krusial dari periode awal Kerajaan Medang di Jawa Timur. Dikeluarkan oleh Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isyanawikrama Dharmottungadewawijaya pada abad ke-10 Masehi, prasasti ini tidak hanya mencatat anugerah tanah perdikan (sima), tetapi juga menjadi saksi bisu peristiwa militer yang mempercepat konsolidasi kekuasaan di wilayah baru setelah perpindahan ibu kota dari Jawa Tengah. Prasasti ini berangka tahun 859 Saka (937 M) menurut Louis-Charles Damais, atau 857 Saka (935 M) versi Jan Laurens Andries Brandes. Ia ditemukan di reruntuhan Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 4 km selatan kota Nganjuk.

Baca Selengkapnya

Misteri Mpu Sindok dan Perpindahan Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur: Fondasi Wangsa Isyana yang Mengubah Sejarah Jawa

Arca koleksi Galeri Mpu Sindok Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang

Pada abad ke-10 Masehi, pusat peradaban Jawa yang megah, tempat Borobudur dan Prambanan dibangun, tiba-tiba ditinggalkan. Ibu kota Kerajaan Mataram Kuno di Bhumi Mataram (Jawa Tengah) hancur, raja hilang, dan seorang pejabat tinggi bernama Mpu Sindok naik takhta. Ia memindahkan seluruh kekuasaan ke Jawa Timur, mendirikan Wangsa Isyana, dan meletakkan batu pertama bagi kerajaan-kerajaan besar masa depan seperti Kahuripan, Kediri, hingga fondasi Majapahit. Misteri ini bukan sekadar perpindahan ibu kota, melainkan rekonstruksi peradaban yang strategis, dipicu bencana alam sekaligus kecerdikan politik-ekonomi. Prasasti Cunggrang (929 M) dan Prasasti Anjuk Ladang (937 M) menjadi kunci utama yang membedah rahasia ini.

Baca Selengkapnya

Manuskrip Ajisaka: Kisah Tokoh Legendaris Versi Islam dalam Koleksi Pribadi Agus Sulton di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang

Kitab Anbiya Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang

Manuskrip Ajisaka merupakan salah satu artefak sastra Jawa yang langka dan bernilai tinggi dalam khazanah kebudayaan Islam Nusantara. Judul manuskrip ini secara eksplisit tercantum sebagai Ajisaka, sebuah naskah sastra yang menceritakan tokoh legendaris Aji Saka atau Ajisaka menurut versi Islam. Berbeda dengan versi Hindu-Buddha klasik yang dominan di keraton Mataram, naskah ini menampilkan adaptasi Islami yang menempatkan Ajisaka sebagai sosok yang berguru langsung kepada Nabi Muhammad SAW, memeluk agama Islam, dan menciptakan aksara Jawa sebagai imbangan aksara Arab. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, naskah ini disimpan dalam koleksi pribadi Bapak Agus Sulton di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Lokasi yang sama dengan banyak naskah kuno pesantren lainnya menjadikannya bagian hidup dari komunitas santri yang kental nuansa Islam Jawa. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang manuskrip tersebut, mulai dari deskripsi fisik, kondisi kerusakan, isi kandungan versi Islam, hingga signifikansi historis dan budayanya di tengah masyarakat Jombang.

Baca Selengkapnya

Kitab Anbiya: Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang

Kitab Anbiya Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur

Kitab Anbiya merupakan salah satu karya sastra keagamaan Islam klasik yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan pesantren dan komunitas santri. Naskah ini secara khusus menceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, terdapat satu naskah Kitab Anbiya yang unik dan berharga. Naskah ini merupakan koleksi pribadi Agus Sulton dan ditulis menggunakan aksara Pegon dengan bahasa Jawa Baru, yaitu bahasa Jawa modern yang telah dipengaruhi perkembangan zaman. Keberadaannya menjadi bukti kekayaan khazanah pernaskahan Nusantara yang masih tersimpan di tangan masyarakat setempat. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang naskah tersebut, mulai dari deskripsi fisik, kondisi kerusakan, isi kandungan, hingga signifikansi historis dan budayanya.

Baca Selengkapnya

Sejarah Wilayah Administratif Jombang Ketika Jombang Menjadi Kabupaten pada Tahun 1910

peta situs di kabupaten jombang

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, pada tahun 1910 wilayah administratif Jombang mengalami transformasi signifikan ketika statusnya ditingkatkan dari Afdeeling (divisi) menjadi pRegentschap atau Kabupaten mandiri, terpisah sepenuhnya dari Kabupaten Mojokerto. Momen ini menjadi titik penting dalam sejarah administratif modern Jombang, karena menandai berdirinya entitas pemerintahan kabupaten yang bertahan hingga hari ini. Bupati pertama yang dilantik adalah Raden Adipati Arya (R.A.A.) Soero Adiningrat V, yang lebih akrab disapa Kanjeng Sepuh atau Kanjeng Jimat oleh masyarakat setempat. Beliau menjabat dari tahun 1910 hingga 1930, periode yang menjadi fondasi tata kelola wilayah ini.

Baca Selengkapnya

Sejarah Wilayah Administratif Jombang Pada Saat Jombang Menjadi Afdeeling Tersendiri Tahun 1881 di Bawah Karesidenan Surabaya

Seni Lukis Karya Komunitas Pelukis Jombang dalam Pameran METAFORA 30 Juli 2025 - 03 Agustus 2025 (2)

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, wilayah administratif Kabupaten Jombang modern memiliki akar yang dalam pada masa kolonial Belanda, khususnya ketika statusnya ditingkatkan menjadi Afdeeling (divisi administratif) mandiri pada tahun 1881. Sebelum itu, Jombang hanyalah salah satu distrik di bawah Afdeeling Mojokerto, bagian dari Karesidenan Surabaya (Residentie Soerabaja). Pemisahan ini menjadi tonggak penting karena menandai pengakuan resmi atas entitas administratif “Djombang” dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda. Nama “Jombang” sudah muncul dalam realita sosial dan hukum kolonial, tercatat dalam dokumen resmi seperti Indische Staatblad dan laporan administratif.

Baca Selengkapnya

Sejarah Wilayah Administratif Jombang Pada Masa Kerajaan Majapahit: Kemunculan Nama Jombang dalam Legenda-Legenda yang Hidup

Seni Lukis Karya Komunitas Pelukis Jombang dalam Pameran METAFORA 30 Juli 2025 - 03 Agustus 2025 (2)

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, wilayah administratif Kabupaten Jombang pada masa Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) telah menjadi bagian integral dari kekuasaan kerajaan terbesar di Nusantara. Meskipun pusat pemerintahan Majapahit berada di Trowulan (sekarang Mojokerto), wilayah Jombang berperan strategis sebagai gerbang barat kerajaan. Gapura barat terletak di Desa Tunggorono (Kecamatan Jombang), sementara gapura selatan di Desa Ngrimbi (Kecamatan Bareng). Tanah subur di lembah Brantas, posisi persimpangan jalur perdagangan utara-selatan (Surabaya–Madiun–Solo–Yogyakarta), serta jalur Surabaya–Tulungagung dan Malang–Tuban menjadikan Jombang sebagai benteng pertahanan dan pusat ekonomi pendukung.

Baca Selengkapnya

Sejarah Wilayah Administratif Jombang Ketika Era Medang i Bhumi Mataram i Tamwlang

Wilayah administratif Kabupaten Jombang hari ini merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Jawa Timur. Sebelum nama “Jombang” muncul dalam catatan sejarah modern, tanah ini pernah menjadi jantung Kerajaan Medang (Mataram Kuno periode Jawa Timur). Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, … Baca Selengkapnya

Jejak Kreativitas Budayawan Jombang Sejak Masa Kerajaan Medang Kamulan Sampai Pasca-Merdeka

Pementasan Kesenian Daerah Tari Pesona Jombang

Kabupaten Jombang, yang terletak di jantung Jawa Timur, bukan sekadar kota santri yang terkenal dengan pesantren-pesantren besarnya. Di balik gemerlap spiritualitas itu, Jombang menyimpan jejak panjang kreativitas budaya yang mengalir sejak zaman kerajaan kuno hingga era modern. Kreativitas ini bukanlah sekadar hiburan, melainkan bentuk perlawanan, penegasan identitas, dan sarana transformasi sosial. Dari panggung wayang yang megah di keraton kuno, hingga kidungan tajam yang menyindir penjajah, para budayawan Jombang telah menorehkan sejarah dengan tinta emas.

Baca Selengkapnya